Wujûd dalam Realitas-Nya satu Satu Mutlak (Wajîb al-Wujûd). Inilah Esensi Mutlak atau Hakikat Zat al-Haqq. Di sisi lain, wujûd merupakan yang meliputi segala sesuatu di dalam kosmos atau disebut al-'alam. Dalam pandangan Ibn 'Arabi, wujûd dalam pengertian yang sebenarnya adalah adalah Realitas Tunggal yang tidak dapat dibagi. Karena itu, tidak salah kita memutuskan pandangan Ibn 'Arabî adalah Wahdat al-Wujûd . Argumentasi lain pembenaran penilaian ini adalah ''... keragaman nyaris tampak tunggal tatkala ia berakar pada al-Haqq'' (Chittick, 2001: 29).
Mengenai realitas kosmos yang tampak beragam sekalipun hakikatnya adalah wujûd tunggal diumpamakan seperti cahaya yang menghantam prisma dan menyebabkan munculnya aneka cahaya. Sekalipun persepsi kita mengakui setiap warna memiliki eksistensinya sendiri, namun hakikatnya warna-warna itu tidak memiliki eksistensi kecuali eksistensi dari cahaya. Banyaknya cahaya yang menjelma dari satu cahaya adalah perumpamaan dari Wujûd al-Haqq yang memiliki banyak wadah manifestasi (h.32).
Di samping itu, Ibn A'rabi mengatakan, perubahan yang terjadi pada multiplisitas wujûd yang menjelma bukanlah berarti Wujûd al-Haqq ikut berubah. Dalam hal ini, analogi yang dibuat adalah cahaya yang menembusi gelas sehingga menghasilkan aneka warna tetapi warna-warna itu sama sekali tidak mempengaruhi cahaya. (h.32-33).
Chittick (h. 33) menulis, sekalipun pada dirinya sendiri adalah maya, tetapi pada kosmos dapat ditemukan wujûd karena limpahan dari Wujûd al-Haqq melalui Nafs al-Rahman. Pandangan dari Ibn 'Arabi ini diinspirasikan dari QS. Al-'Araf: 156. Hanya karena Kasih Sayang-Nya melalui ‘Ilm-Nya, kosmos yang maya ini dapat meng-ada sehingga setiap mawjûd '... bisa merasa, menikmati dan mengalami realitas-realitas spesifiknya sendiri.'' (h.33). Kasih Sayang di sini disebut dengan Nafs al-Rahman yakni. ''... substansi yang mendasari segala sesuatu''. (h. 34) di dalamnyalah segala sesuatu menerima kadar, sifat atau karakteristik tertentu. Melalui Nafs al-Rahman-lah Entitas Kekal menjadi entitas mawjûd. Dimana Entitas Kekal tanpa harus kehilangan kekekalannya dan entitas tertentu tanpa harus menjadi mutlak.
Antara Nafs al-Rahman dengan Zat Mutlak diumpamakan Chittick (h. 32) antara nafas manusia dengan diri manusia. Diri manusia tanpa nafas tidak dapat disebut manusia, tetapi adalah mayat. Demikian pula nafas tanpa diri manusia hanyalah udara. Kesatuan antara manusia dengan nafas itulah yang menyebabkan diri disebut 'manusia'. Sekalipun perumpamaan ini kurang tepat, tetapi tujuan Chittick adalah menerangkan bahwa ‘Amr, Sifat dan Wujûd adalah Satu dengan Zat.
Bagaimanakan yang maya seperti manusia dapat mengenal yang Ril? Yakni melalui pengetahuan tentang diri dan realitas-realitas yang dapat dipersepsi ini. Pengetahuan ini ''... menunjukkan keintiman antara Realitas Absolut dari segala sesuatu yang berasal dari-Nya'' (h. 35). Al-Qur'an, koksmos dan diri manusia adalah tanda keberadaan Yang Mutlak (QS. 41: 53). Allah hanya dapat dikenali melalui Sifat-sifat-Nya. Tujuh Sifat utama yakni Hidup, Mengetahui, Menghendaki, Berkuasa, Berfirman, Pemurah dan Adil. Sifat-sifat ini termanifestasi dalam realitas alam dan diri manusia. Kesempurnaan Sifat-sifat Allah keseluruhannya hanya pada diri manusia. (h. 36.)
Kata Chittick (h. 37), menurut Ibn 'Arabî, Sifat-sifat dan Nama-nama Allah adalah jembatan antara alam non-fenomenal dengan alan fenomenal; baik secara epistemologis maupun ontologis untuk memperoleh pengetahuan utuh tentang modalitas-modalitas wujûd yang tanda-tandanya meliputi seluruh kosmos. Dan seluruh gejala yang tampak pada kosmos itu kesempurnaan pengenalannya hanya pada al-insan al-kamîl. Adapun jumlah Sifat Allah adalah sebanyak sifat yang gejalanya dapat dilihat pada wujûd yang menjelma (h. 38). Pada kosmos susunannya adalah ''... pada tingkatan kecanggihan (tafadhûl) tergantung pada sejauh mana tingkat entitas mawjûd menyuguhkan sifat-sifat Tuhan'' (h. 38). Selanjutnya Chittick menulis, ''Setiap entitas memiliki 'kesiap-sediaan' (isti'dad) tertentu yang memungkinkan untuk menunjukkan sifat-sifat wujûd pada tingkatan tertinggi atau terendah''. Dan keseluruhan Sifat Allah hanya hadir pada al-insan al-kamîl.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar