Ketika peran korupsi, kolusi dan nepotisme berkurang dalam menentukan pemerintahan, maka para mantan aktivis organisasi kepemudaan kalang-kabut. Bagaimana tidak, belasan tahun mereka belajar menggelapkan uang tanpa diketahui, belasan tahun mereka belajar intrik serta agitasi kotor, belasan tahun mereka membangun relasi dengan keluarga besarnya, akhirnya ...
... tidak berguna sama sekali karena usaha pemerintah mengganti paradigma berbangsa dengan menekan praktik korupsi, kolusi dan nepotisme telah banyak menuai hasil positif. Akhirnya mereka panik. Alih-alih dapat menjadi bagian penentu nasib rakyat dan bangsa melalui cara paling efektif, untuk menyelesaikan kuliah saja mereka kesulitan.
Cara ini tidak berlaku bagi semua mantan aktivis organisasi kepemudaan. Aada sebagian kecil yang tidak seperti di atas. Hanya segelintir saja yang benar-benar mengembangkan keahlian diri secara mandiri, belajar dengan tekun dan terus menjaga idealitas selama di organisasi kepemudaan. Hanya mereka saja mantan aktivis organisasi kepemudaan yang mampu bertahan di tengah-tengah pemerintahan yang semakin meninggalkan korupsi, kolusi dan nepotisme.
Mereka yang dulunya hidup nyaman saat menjadi aktivis organisasi kepemudaan, biasanya adalah mereka yang malas dan akalnya lemah. Karena itu mereka hanya berlatih hal-hal yang bisa dilakukan oleh orang idiot sekalipun; seperti menjilat dan menggelapkan uang. Ketika pemerintah telah menekan korupsi, kolusi dan nepotisme, aktivis malas dan penjilat hanya bisa menjadi pecundang. Menjilat dan mengolah tidak berlaku lagi.
Karena itu, aktivis organisasi kepemudaan hari ini boleh memilih. Bila mau menjadi pecundang di masa depan, belajarlah cara menipu, menjilat dan melakukan penggelapan dengan tekun selama menjadi aktivis. Namun bila kamu ingin sukses, berkualitas dan mampu bersaing secara objektif, harus berpegang teguh pada prinsip idealitas, bekerja keras tanpa kenal pamrih dan pandai-pandailah menghindari uang dan jebakannya.
Mereka yang dulunya hidup nyaman saat menjadi aktivis organisasi kepemudaan, biasanya adalah mereka yang malas dan akalnya lemah. Karena itu mereka hanya berlatih hal-hal yang bisa dilakukan oleh orang idiot sekalipun; seperti menjilat dan menggelapkan uang. Ketika pemerintah telah menekan korupsi, kolusi dan nepotisme, aktivis malas dan penjilat hanya bisa menjadi pecundang. Menjilat dan mengolah tidak berlaku lagi.
Karena itu, aktivis organisasi kepemudaan hari ini boleh memilih. Bila mau menjadi pecundang di masa depan, belajarlah cara menipu, menjilat dan melakukan penggelapan dengan tekun selama menjadi aktivis. Namun bila kamu ingin sukses, berkualitas dan mampu bersaing secara objektif, harus berpegang teguh pada prinsip idealitas, bekerja keras tanpa kenal pamrih dan pandai-pandailah menghindari uang dan jebakannya.
Luar biasa.. Semoga tanyoe hana roeh dalam kalangan aktivis penjilat
BalasHapusaminn
BalasHapus