Sebagaimana
wujud dengan sifat yang hakikatnya hanya satu
Demikian
pula kamu dan cinta
Setelah
kamu pergi tinggallah cinta
Cinta
ini sebagaimana sifat yang selalu hasrat akan wujuûd
Karena
aku telah hilang dalam cinta
Maka
dalam keresalah aku terbang mencari wujûd
Ruang Kosong
Apa yang
diinginkan seorang insan? Penghormatan dari insan lain, hasil sesuai diinginkan
dari amalnya, kebahagiaan setiap saat dan kebaikan dari segalanya. Semua ini
tidak diharapkan sama sekali oleh insan yang yang sejati kenal akan Allah.
Sebab mereka maklum bahwa hormat, berkat, bahagia dan kebaikan hanya citra yang
ditangkap insan dari manifestasi Sifat Terpuji Allah. Bila keempat hal tadi
disematkan insan pada insal lain, itu artinya yang menyematkan tidak ma'rifat.
Sesungguhnya, bila terkesankan empat sifat itu pada seorang insan, maka itu
hanya Sifat Terpuji Ilahi yang pantulannya melalui seseorang itu.
Dari ilmu mantiq 'urafa, sungguh telah diketahui bahwa mustahil mumkîn al-wujûd
menyemat sebarang sifat sebab dia tiada berwujud. Bila tiada berwujud,
bagaimana pula akan bersifat. Tiada tempat bagi sifat itu untuk dilekatkan bila
zatnya tiada.
Sesiapa yang ma'lum pasal di atas,
maka siaplah dia memahami hal berikut ini; dengan izin Allah:
Insan ma'rifah sadar benar
bahwa Hormat, Berkat, Bahagia dan Kebaikan adalah Zat Ilahi yang hadir padanya.
Apapun sebab konfirmasi indra dan pikiran tiada kisah buatnya.
Dengan pengetahuan ini insan ma'rifah
melihat pula Zat dalam citra al-Salâm mengisi eksistensi para nabi dan seluruh eksistensi al-Insan
al-Kamîl. Sehingga pada Muhammad tiada rongga sedikitpun kecuali Dia yang
hadir melalui al-Salâm.
Dengan penampakan ini, melalui
intuisi suci, dia melihat dirinya tiada sama sekali kecuali Zat yang dilihatnya
dalam citra al-Salâm.
Dengan intuisi suci insan ma'rifah
melihat bahwa al-Salâm pula meliputi ‘urafa. Sehingga dengan al-Salâm yang meliputi, ‘urafa disebut al-salihîn. Sebab sesungguhnya insan ma'rifah tiada
wujûd sama-sekali
kecuali citra Al-Salâm.
Dengan
pandangan ini, si pengaku "Tiada Ilah kecuali Allah" tiada
berdusta karena melalui intuisi sucinya dia tiada melihat kecuali Allah melalui
citra al-Salâm.
Demikian pandangan insan ma'rifah dalam tinjauan tasybih yang
bila ditinjau dalam sisi tanzih adalah Muhammad Rasûl Allah.
Sebab sisi tasybih dan tanzih sejatinya satu, kecuali dalam
kategorisasi ma'qûlat, maka; maknanya adalah Zat meliputi al-insan
al-kamîl melalui citra Terpuji (Muhammad).
Pasal Manzil
Enam hari
sempurna penciptaan yaitu hadirnya Nabi Besar Saw. Atau sama dengan enam ribu
tahun. Enam ribu tahun bukanlah usia alam materi atau segala galaksi tetapi itu
adalah masa dari kehadiran Adam hingga Nabi Besar. Dikatakan demikian karena
dunia ini sebagaimana fenomena yang manusia persepsikan
hanya baru muncul ketika manusia itu ada. Dan manusia pertama itu adalah Adam.
Awalnya Adam mempersepsi dengan
sangat baik yang pada penjelasannya berupa taman yang memiliki buah-buahan yang
ranum, taman yang indah dan sungai berair jernih adalah citra Adam yang suci
murni. Tetapi ketika Adam terpengaruhi Iblis, maka citra alam menjadi tidak
terlalu baik lagi.
Mengenai pertengkaran cerdik pandai
tentang kebaharuan dunia, maka bila dunia adalah persepsi, dan memang demikian adanya
sebab ketika disuruh tinjuk dunia, maka kita menunjuk keragaman yang kita
persepsi, tentunya dunia adalah baharu bersama kebaharuan pemersepsi. Setiap
pemersepsi adalah penunjukan akan esensi masing-masing. Sementara setiap benda
materal yang dihimpun menjadi panorama hanya sebuah kebohongan. Hal penting
dari itu adalah pengenalan esensi yang merupakan manifestasi Ilahi.
Segenap aksiden kemanusiaan menjadi
jatuh sehingga demikianlah panorama adalah karena sifat keiblisan telah
bercampur dengan jiwa manusia. Karena itu, untuk kembali membentuk panorama
surgawi, jiwa harus dibersihkan dari sifat keiblisan.
Status Semesta
Bagaimana kita
mengetahui alam semesta? Adalah melalui pengindraan dan penalaran. Kerjasama
indra dengan nalar telah membuat kita mengakui "saya mengenal ini dan itu".
Para filosof sepakat bahwa indra dan nalar memiliki keterbatasan dalam
menangkap realitas yang dikenal sebagai alam semesta. "Kerjasama"
antara dua hal yang terbatas ini hanya untuk memberikan mafhûm akan
sesuatu. Mafhûm ini berada pada level inteleksi. Intelek bekerja dengan
menciptakan kategorisasi kepada realitas. Hasil kerja ini menjadi kuiditas.
Kuiditas
inilah yang disebut mafhûm. Karena pengetahuan mental adalah limitasi
dan kategorisasi, maka artinya pengetahuan inteleksi tidaklah benar.
Menjelaskan gajah dengan menjelaskan belalainya tidak menjelaskan gajah
samasekali.
Sesuatu (kuiditas)
dapat disimpulkan adalah sebuah pengetahuan (mental) bukan kebenaran. Demikian
halnya peristiwa, suatu peristiwa adalah kumpulan sesuatu-sesuatu yang
dikonstruksi intelek melalui penalaran yang biasanya sambil bekerja memberi
pengaruh kepada emosi. Emosi muncul setiap
sesuatu-sesuatu dikonklusi. Malah,
lebih mungkin konklusi itu muncul dari tiap emosi. Dan ini berarti emosi bekerja
bersamaan dengan abstraksi-abstraksi saat indra dan rasio bekerja. Ketika
melihat seorang pemudi ditampar seorang pemuda,
kita marah pada pemudi itu. Lalu
diceritakan, ternyata pemudi itu telah dihamili, lalu berbalik marah pada pemuda, lalu
mengetahui pemudi itu yang menyelinap ke kamar pemuda lalu membuka pakaiannya
sendiri, emosi berbalik lagi membenci pemudi.
Demikian emosi berubah. Baik meningkat
atau berbalik, sesuai dengan limitasi.
Sebenarnya
kategori setiap sesuatu adalah mutlak milik si pemersepsi. Si A dengan si B
boleh saja akan menyusun kategori yang sama pada sebuah benda yang sama pada
saat bersamaan. Kesamaan ini muncul karena kondisi indra dan nalar mereka sama.
Kesamaan ini menandakan kesamaan mafhûm mereka. Artinya, pada level
inteleksi, pengetahuan mereka adalah sama.
Karena
setiap hal dan peristiwa adalah limitasi, berarti dia tidak benar-benar ril.
Yang penting bagi setiap sesuatu dan peristiwa adalah makna atau nilainya,
bukan akurasinya. Makna atau nilai ini relatif bagi setiap orang tergantung
kualitas jiwanya. Maka tidak penting kejadian semesta itu dari bigbang atau black hole atau apapun
dia karena semuanya hanya sebuah peristiwa. Sebuah
fenomena yang merupakan isi atau materil dalam istilah filsafat Aristotelian.
Dalam akurasi formal Aristotelian, beberapa teori kejadian semesta sudah tepat:
memiliki awalan, tidak berada secara azali.
Karena
setiap hal atau peristiwa bagi tiap individu adalah relatif, maka akurasinya
tidak lebih penting dari nilainya. Alasannya, akurasi materil adalah tingkat
pengetahuan inteleksi, sementara nilai adalah tingkat pengetahuan bagi jiwa.
Namun demikian, akurasi materil tetap sangat penting sebagai pelurus nilai.
Karena itu berbohong dianggap sebagai dosa tertinggi setelah syirik. Namun
demikian, bagi orang yang baik kualitas jiwanya, akurasi material tidak terlalu
penting karena dia akan memperoleh nilai yang baik bagi jiwanya. Karena itu, si
pembohong tidak membohongi kecuali dirinya sendiri.
Akurasi
materil disepakati secara objektif melalui kesamaan persepsi antar subjek.
Akurasi materil diperoleh dengan mengedapankan indra. Sementara akurasi formil
dengan mengedepankan rasio. Setiap peristiwa yang tidak dikonfirmasi
secara indrawi tidak dapat disebut sebagai peristiwa yang akurat secara materil.
Misalnya kejadian semesta, sama sekali tidak dapat dimasukkan sebagai suatu
yang tepat secara materil karena tidak ada seorang manusiapun yang
mengindrainya. Adapun para ilmuan hanya menyusun teori penciptaan melalui
gejala yang mereka indrai. Lebih dari itu mereka menggunakan penalaran. Karena
itu, semua teori penciptaan memiliki kemungkinan akurasi secara formil tetapi
mustahil akurat secara materil. Adapun Jalaluddin Rumi dapat saja mengakui
orang 'arif dapat menyaksikan kejadian semesta tetapi penyaksian ini
bukan secara materi, bukan menyaksikan dengan indra yang terbatas.
Kuiditas
setiap sesuatu di alam semesta tergantung pada kapasitas indra dan pikiran
pengamat. Dengan demikian semesta benar-benar adalah proyeksi pengamat.
Eksistensi indrawi dan penalaran mutlak ciptaan pengamat. Karena itu dikatakan
bahwa sementa hanya tegak karena ada orang suci yang masih hidup. Sebab
tegaknya eksistensi semesta karena ditopang oleh eksistensi mereka. Kelak bila
mereka tiada, eksistensi semesta akan hancur.
Tanpa
pengamat, eksistensi ini tidak bisa tegak. Orang suci memiliki proyeksi yang
baik. Bila proyeksi nantinya bergantung pada manusia rendah, maka eksistensi
semesta tidak stabil karena mereka tidak mampu melakukan sensasi dengan baik.
Orang-orang rendah ini nantinya akan memproyeksi mumkîn al-wujûd sesuai kapasitas jiwa mereka: belatung, lipan, rantai api.
Sementara orang suci yang kualitas jiwanya tinggi memproyeksi taman sejuk
dengan air jernih mengalir. Semua sensasi sejatinya adalah ekspresi jiwa.
Karena itu sebagian filosof
berkeyakinan bahwa eksistensi absolut hanya wujûd semata. Wujud
bergradasi kepada insan al-kamîl dalam kualitas tertinggi.
Pasal Limitasi
Reaitas hakiki adalah satu. Keragaman muncul ketika pikiran menerapkan kuiditas
akan realitas yang satu. Dengan karakteristik pikiran berupa kategorisasi,
citra fenomena muncul. Dengan demikian, dualitas antara eksistensi dengan kuiditas
terjadi dalam pikiran. Sejatinya pada realitas eksternal, yang ada hanya satu
eksistensi. Dengan keniscayaan eksistensi hanya satu, Mulla Sadra menegaskan
bahwa sumber eksistensi yang tunggal adalah satu juga. Bila sumbernya dua,
selain bertentangan dengan prinsip formal logika, dalam sudut ketepatan materil
logika juga bertentangan karena bila sumbernya dua, niscaya terjadi kekacauan.
(QS.Al-Anbiya: 22; Ar-Ra'ad: 16).
Karena semesta adalah citra,
eksistensi semesta adalah eksistensi dari pemersepsi. Eksistensi pemersepsi
adalah jiwanya. Jiwa ini yang mewujudkan fenomena keberagaman dari satu hal
yaitu eksistensi. Eksistensi jiwa adalah dari gradasi Eksistensi Mutlak. Dalam
pandangan Mulla Sadra, fenomena adalah jiwa, karena itu ragam fenomena dapat
diketahui sebab pengetahuan adalah juga ekspresi jiwa. Tetapi cara berargumen
Mulla Sadra dapat membingungkan karena baginya fenomena adalah eksistensi. Namun
bila kita telah familiar dengan prinsip kemendasaran wujûd dan kesatuan
subjek-objek, dapatlah kita pahami bahwa maksudnya fenomena sebagai wujûd adalah
karena femonema itu adalah jiwa aktual. Aktualnya mungkin dapat ditafsirkan
melalui ekspresi jiwa pengamat, yang dalam bahasa lain: adalah citra yang
dimunculkan subjek. Selanjutnya subjek tetap mengenalnya melalui kuiditas
yang dibentuk oleh pikiran (subjek).
Mulla Sadra memiliki cara sendiri
dalam menjelaskan posisi pengamat (subjek) dengan yang diamati (objek). Mungkin
kita dapat menafsirkan subjek sebagai sebab dan objek yang diamati sebagai
akibat. Mulla Sadra telah menjelaskan bahwa akibat adalah kehadiran sebab
secara penuh tanpa celah. Pernyataan ini menegaskan bahwa femonena adalah murni
citra pengamat. Syarat untuk memahami pernyataan Mulla Sadra bahwa semesta
adalah gradasi wujûd bukanlah semesta yang ditunjuk ini dan itu. Sebab
bila telah ditunjuk ini dan ini atau dijelaskan itu dan itu, dianya bukanlah
lagi realitas wujûd
tetapi wujûd mental yang telah bercampur dengan mahiyah (kuiditas). Wujud mental muncul dari citra yang ditangkap pikiran atas wujûd
eksternal yang satu tiada batas dan celah. Kemudian pikiran menerapkan kuiditas
pada wujud yang dicitrakan itu.
Wujûd yang satu pada realitas
eksternal tiada celah itu adalah wujûd yang sejati. Eksistensinya tiada
dapat dipahami. Namun karena sifat pikiran yang terbatas, ia melimitasi wujud
supaya dapat mengenalnya. Hasil limitasi ini meenjadikan mampu
membuat kategori akan wujûd (yang telah direduksi itu). Kejadian ini
sungguh adalah sebagaimana terjadi pada realitas al-Haqq. Dia
sebagaimana Zat-Nya tiada
sesiapapun mengetahui. Dalam perkara keabsoludan-Nya
ini, Ahadiyah. Bersamaan itu Wujûd
bergradasi sehingga muncullah Ruh Suci yang merupakan kesempurnaan manifestasi-Nya.
Manifestasi sempurna itu disebut al-insaû. Pada akibat ini, seluruh kesempurnaan
sebab hadir. Pengenalan al-insan
al-kamîl akan al-Wajîb
al-Wujûd sama dengan
pengenalan al-Wajîb al-Wujûd akan Diri-Nya sendiri.
Karena menghimpun keagungan al-Wajîb al-Wujûd dengan
sempurna, maka ruh suci
mengekspresikan seluruh keindahan al-Wajîb al-Wujûd yang nantinya
manifestasi ruh suci memiliki berbagai tingkatan mulai dari para nabi, ‘urafa, hingga mineral. Pada tiap tingkatan manifestasi ini memiliki
tingkatan masing-masing dalam mengenal Wujûd Sejati. Manusia yang
dikaruniai penglihatan yang tajam akan mampu mengekspresikan tingkat
pengenalannya dengan citra fenomena alam sebagai ekspresi sifat-sifat Wujûd
Sejati.
Proses
pengetahuan adalah berupa persepsi akan materi. Materi adalah aktualisasi jiwa
sebagai wadah pengenalan awal. Selanjutnya mengabstraksikan materi menjadi
gambar semata. Selanjutnya citra gambar diabstraksikan lagi menjadi nilai yang
berisi sifat-sifat wajib yang mengada dalam kesadaran jiwa. Semua proses ini
merupakan proyeksi seorang manusia dalam rangka mengenal Wujûd Sejati
sebagai sumber yang memanifestasikan dirinya.
Pengenalan akan Sifat-sifat Wujud
Sejati adalah sebagaimana pengenalan wujûd melalui beragam fenomena yang pula limitasi, artinya bukan
pengenalan sejati. Pengenalan sesungguhnya akan Wujûd Sejati adalah
dengan hilangnya semua Sifat yang sebenarnya adalah penghalang sebenar-benar
pengenalan. Sifat-sifat menjadi ada karena keterbatasan insan yang beragam
tingkat manifestasinya. Sifat-sifat adalah limitasi. Limitasi ini berarti khas
pikiran. Karennya, sempurna kenal adalah dengan fânâ.
Pasal Esensi
Pada hakikat
yang nyata hanya Haqq Ta'alâ. Pada Diri-Nya
sendiri Ia tiada bernama apalagi bersifat. Selanjutnya dalam manifestasi yang
semakin jauh, keragaman semakin banyak. Tingkatan manifestasi tiada berhubungan
dengan waktu serial. Bisa saja Azazil lebih tua daripada Adam dalam sudut waktu
serial. Tetapi bukti
telah menyatakan bahwa Dia amat jauh dalam segi manifestasi. Demikian juga para
malaikat boleh saja lebih awal daripada Adam dalam sisi waktu serial, tetapi
bukti nyata telah menunjukkan status Adam jauh lebih tinggi daripada malaikat.
Karena statusnya yang lebih tinggi, Adam mampu melihat esensi dengan jelas sehingga dia dapat melihat Sifat dengan lebih jelas. Ketika Adam
menyebutkan nama-nama, itu adalah bukti kualitas jiwanya yang tinggi telah
menyatu dengan esensi; karena pengetahuan adalah penyatuan. Dengan pengetahuan
dapatlah dijangkau hakikat penopang esensi; yaitu bila tanpanya kesesuatuan itu
runtuh.
Misalnya manusia adalah hewan berfikir, yang bila berfikirnya dicabut, maka
kesesuatuan bernama manusia akan lenyap.
Dengan kemampuan mengetahui ini,
dapatlah Adam menyebutkan esensi sesuatu itu yang mana penyebutan ini bukanlah
pemberian hak paten. Tetapi
penunjukan esensi sebagaimana dalam penjelasan di atas. Tingkatan jiwa
menentukan kemampuan melihat esensi karena esensi ini adalah gradasi Wujûd
dalam Sifat dan Nama.
Semakin tinggi kualitas jiwa,
semakin baik esensi terlihat. Semakin
banyak esensi terlihat, itu adalah tanda semakin jauh dia dari sumbernya yaitu Zat. Maka
membedakan kualitas dengan kuantitas adalah penting. Demikian juga dengan Haqq
Ta'alâ. Dia memiliki banyak Nama karena banyaknya esensi yang dapat dibuat
untuk menunjuk Sifat-Nya. Namun segenap
sifat itu bermuara pada dua sifat yaitu Jamal dan Jalâl. Jalan
ini diperoleh melalui kualitas jiwa. Semakin tinggi kualitas jiwa, semakin
dalam membentuk esensi. Semakin dalam
esensi yang dibentuk, semakin sedikit esensi yang dibentuk. Karena itu, bagi al-insan
al-kamîl, sifat dinafikannya sehingga dia mengenal dengan Zat.
Tetapi bila dia berbicara pada kualitas jiwa berbeda dengannya, dia mampu
mengetahui keseluruhan Sifat. Bagi segenap insan, diperlukan penyebutan al-Rahman
sekaligus al-Rahîm karena selain pada dimensi yang telah diketahui,
insan juga perlu percaya pada dimensi yang masih tersembunyi; sekaligus insan
perlu terus berusaha menagkap makna yang lebih dalam dari suatu pengetahuan.
Sementara bagi al-insan al-kamîl, dia sendiri adalah yang aktual dan
potensial.
Pada
al-insan al-kamîl kita melihat, maka dia adalah sejelas-jelas pancaran dari kemuliaan Haqq Ta'alâ. Melalui dialah terpancar eksistensi alam. Fenomena semesta yang
kita saksikan adalah tampilan dari al-insan al-kamîl.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar