Selasa, 17 Mei 2016

MANIFESTASI ILAHI MULLA SADRA


Hakikat
Sebagaimana wujud dengan sifat yang hakikatnya hanya satu
Demikian pula kamu dan cinta
Setelah kamu pergi tinggallah cinta 
Cinta ini sebagaimana sifat yang selalu hasrat akan wujuûd
Karena aku telah hilang dalam cinta
Maka dalam keresalah aku terbang mencari wujûd


Ruang Kosong
Apa yang diinginkan seorang insan? Penghormatan dari insan lain, hasil sesuai diinginkan dari amalnya, kebahagiaan setiap saat dan kebaikan dari segalanya. Semua ini tidak diharapkan sama sekali oleh insan yang yang sejati kenal akan Allah. Sebab mereka maklum bahwa hormat, berkat, bahagia dan kebaikan hanya citra yang ditangkap insan dari manifestasi Sifat Terpuji Allah. Bila keempat hal tadi disematkan insan pada insal lain, itu artinya yang menyematkan tidak ma'rifat. Sesungguhnya, bila terkesankan empat sifat itu pada seorang insan, maka itu hanya Sifat Terpuji Ilahi yang pantulannya melalui seseorang itu.
            Dari ilmu mantiq 'urafa, sungguh telah diketahui bahwa mustahil mumkîn al-wujûd menyemat sebarang sifat sebab dia tiada berwujud. Bila tiada berwujud, bagaimana pula akan bersifat. Tiada tempat bagi sifat itu untuk dilekatkan bila zatnya tiada.
            Sesiapa yang ma'lum pasal di atas, maka siaplah dia memahami hal berikut ini; dengan izin Allah:
            Insan ma'rifah sadar benar bahwa Hormat, Berkat, Bahagia dan Kebaikan adalah Zat Ilahi yang hadir padanya. Apapun sebab konfirmasi indra dan pikiran tiada kisah buatnya.
 Dengan pengetahuan ini insan ma'rifah melihat pula Zat dalam citra al-Salâm mengisi  eksistensi para nabi dan seluruh eksistensi al-Insan al-Kamîl. Sehingga pada Muhammad tiada rongga sedikitpun kecuali Dia yang hadir melalui al-Salâm.
            Dengan penampakan ini, melalui intuisi suci, dia melihat dirinya tiada sama sekali kecuali Zat yang dilihatnya dalam citra al-Salâm.  
            Dengan intuisi suci insan ma'rifah melihat bahwa al-Salâm pula meliputi ‘urafa. Sehingga dengan al-Salâm yang meliputi, ‘urafa disebut al-salihîn. Sebab sesungguhnya insan ma'rifah tiada wujûd sama-sekali kecuali citra Al-Salâm.
Dengan pandangan ini, si pengaku "Tiada Ilah kecuali Allah" tiada berdusta karena melalui intuisi sucinya dia tiada melihat kecuali Allah melalui citra al-Salâm. Demikian pandangan insan ma'rifah dalam tinjauan tasybih yang bila ditinjau dalam sisi tanzih adalah Muhammad Rasûl Allah. Sebab sisi tasybih dan tanzih sejatinya satu, kecuali dalam kategorisasi ma'qûlat, maka; maknanya adalah Zat meliputi al-insan al-kamîl melalui citra Terpuji (Muhammad).
           
Pasal Manzil
Enam hari sempurna penciptaan yaitu hadirnya Nabi Besar Saw. Atau sama dengan enam ribu tahun. Enam ribu tahun bukanlah usia alam materi atau segala galaksi tetapi itu adalah masa dari kehadiran Adam hingga Nabi Besar. Dikatakan demikian karena dunia ini sebagaimana fenomena yang manusia persepsikan hanya baru muncul ketika manusia itu ada. Dan manusia pertama itu adalah Adam.
            Awalnya Adam mempersepsi dengan sangat baik yang pada penjelasannya berupa taman yang memiliki buah-buahan yang ranum, taman yang indah dan sungai berair jernih adalah citra Adam yang suci murni. Tetapi ketika Adam terpengaruhi Iblis, maka citra alam menjadi tidak terlalu baik lagi.
            Mengenai pertengkaran cerdik pandai tentang kebaharuan dunia, maka bila dunia adalah persepsi, dan memang demikian adanya sebab ketika disuruh tinjuk dunia, maka kita menunjuk keragaman yang kita persepsi, tentunya dunia adalah baharu bersama kebaharuan pemersepsi. Setiap pemersepsi adalah penunjukan akan esensi masing-masing. Sementara setiap benda materal yang dihimpun menjadi panorama hanya sebuah kebohongan. Hal penting dari itu adalah pengenalan esensi yang merupakan manifestasi Ilahi.
            Segenap aksiden kemanusiaan menjadi jatuh sehingga demikianlah panorama adalah karena sifat keiblisan telah bercampur dengan jiwa manusia. Karena itu, untuk kembali membentuk panorama surgawi, jiwa harus dibersihkan dari sifat keiblisan.

Status Semesta
Bagaimana kita mengetahui alam semesta? Adalah melalui pengindraan dan penalaran. Kerjasama indra dengan nalar telah membuat kita mengakui "saya mengenal ini dan itu". Para filosof sepakat bahwa indra dan nalar memiliki keterbatasan dalam menangkap realitas yang dikenal sebagai alam semesta. "Kerjasama" antara dua hal yang terbatas ini hanya untuk memberikan mafhûm akan sesuatu. Mafhûm ini berada pada level inteleksi. Intelek bekerja dengan menciptakan kategorisasi kepada realitas. Hasil kerja ini menjadi kuiditas. Kuiditas inilah yang disebut mafhûm. Karena pengetahuan mental adalah limitasi dan kategorisasi, maka artinya pengetahuan inteleksi tidaklah benar. Menjelaskan gajah dengan menjelaskan belalainya tidak menjelaskan gajah samasekali.
            Sesuatu (kuiditas) dapat disimpulkan adalah sebuah pengetahuan (mental) bukan kebenaran. Demikian halnya peristiwa, suatu peristiwa adalah kumpulan sesuatu-sesuatu yang dikonstruksi intelek melalui penalaran yang biasanya sambil bekerja memberi pengaruh kepada emosi. Emosi muncul setiap sesuatu-sesuatu dikonklusi. Malah, lebih mungkin konklusi itu muncul dari tiap emosi. Dan ini berarti emosi bekerja bersamaan dengan abstraksi-abstraksi saat indra dan rasio bekerja. Ketika melihat seorang pemudi ditampar seorang pemuda, kita marah pada pemudi itu. Lalu diceritakan, ternyata pemudi itu telah dihamili, lalu berbalik marah pada pemuda, lalu mengetahui pemudi itu yang menyelinap ke kamar pemuda lalu membuka pakaiannya sendiri, emosi berbalik lagi membenci pemudi. Demikian emosi berubah. Baik meningkat atau berbalik, sesuai dengan limitasi.
Sebenarnya kategori setiap sesuatu adalah mutlak milik si pemersepsi. Si A dengan si B boleh saja akan menyusun kategori yang sama pada sebuah benda yang sama pada saat bersamaan. Kesamaan ini muncul karena kondisi indra dan nalar mereka sama. Kesamaan ini menandakan kesamaan mafhûm mereka. Artinya, pada level inteleksi, pengetahuan mereka adalah sama.  
Karena setiap hal dan peristiwa adalah limitasi, berarti dia tidak benar-benar ril. Yang penting bagi setiap sesuatu dan peristiwa adalah makna atau nilainya, bukan akurasinya. Makna atau nilai ini relatif bagi setiap orang tergantung kualitas jiwanya. Maka tidak penting kejadian semesta itu dari bigbang atau black hole atau apapun dia karena semuanya hanya sebuah peristiwa. Sebuah fenomena yang merupakan isi atau materil dalam istilah filsafat Aristotelian. Dalam akurasi formal Aristotelian, beberapa teori kejadian semesta sudah tepat: memiliki awalan, tidak berada secara azali. 
Karena setiap hal atau peristiwa bagi tiap individu adalah relatif, maka akurasinya tidak lebih penting dari nilainya. Alasannya, akurasi materil adalah tingkat pengetahuan inteleksi, sementara nilai adalah tingkat pengetahuan bagi jiwa. Namun demikian, akurasi materil tetap sangat penting sebagai pelurus nilai. Karena itu berbohong dianggap sebagai dosa tertinggi setelah syirik. Namun demikian, bagi orang yang baik kualitas jiwanya, akurasi material tidak terlalu penting karena dia akan memperoleh nilai yang baik bagi jiwanya. Karena itu, si pembohong tidak membohongi kecuali dirinya sendiri. 
Akurasi materil disepakati secara objektif melalui kesamaan persepsi antar subjek. Akurasi materil diperoleh dengan mengedapankan indra. Sementara akurasi formil dengan mengedepankan rasio. Setiap peristiwa yang tidak dikonfirmasi secara indrawi tidak dapat disebut sebagai peristiwa yang akurat secara materil. Misalnya kejadian semesta, sama sekali tidak dapat dimasukkan sebagai suatu yang tepat secara materil karena tidak ada seorang manusiapun yang mengindrainya. Adapun para ilmuan hanya menyusun teori penciptaan melalui gejala yang mereka indrai. Lebih dari itu mereka menggunakan penalaran. Karena itu, semua teori penciptaan memiliki kemungkinan akurasi secara formil tetapi mustahil akurat secara materil. Adapun Jalaluddin Rumi dapat saja mengakui orang 'arif dapat menyaksikan kejadian semesta tetapi penyaksian ini bukan secara materi, bukan menyaksikan dengan indra yang terbatas. 
Kuiditas setiap sesuatu di alam semesta tergantung pada kapasitas indra dan pikiran pengamat. Dengan demikian semesta benar-benar adalah proyeksi pengamat. Eksistensi indrawi dan penalaran mutlak ciptaan pengamat. Karena itu dikatakan bahwa sementa hanya tegak karena ada orang suci yang masih hidup. Sebab tegaknya eksistensi semesta karena ditopang oleh eksistensi mereka. Kelak bila mereka tiada, eksistensi semesta akan hancur.
Tanpa pengamat, eksistensi ini tidak bisa tegak. Orang suci memiliki proyeksi yang baik. Bila proyeksi nantinya bergantung pada manusia rendah, maka eksistensi semesta tidak stabil karena mereka tidak mampu melakukan sensasi dengan baik. Orang-orang rendah ini nantinya akan memproyeksi mumkîn al-wujûd sesuai kapasitas jiwa mereka: belatung, lipan, rantai api. Sementara orang suci yang kualitas jiwanya tinggi memproyeksi taman sejuk dengan air jernih mengalir. Semua sensasi sejatinya adalah ekspresi jiwa.
            Karena itu sebagian filosof berkeyakinan bahwa eksistensi absolut hanya wujûd semata. Wujud bergradasi kepada insan al-kamîl dalam kualitas tertinggi.

Pasal Limitasi
            Reaitas hakiki adalah satu. Keragaman muncul ketika pikiran menerapkan kuiditas akan realitas yang satu. Dengan karakteristik pikiran berupa kategorisasi, citra fenomena muncul. Dengan demikian, dualitas antara eksistensi dengan kuiditas terjadi dalam pikiran. Sejatinya pada realitas eksternal, yang ada hanya satu eksistensi. Dengan keniscayaan eksistensi hanya satu, Mulla Sadra menegaskan bahwa sumber eksistensi yang tunggal adalah satu juga. Bila sumbernya dua, selain bertentangan dengan prinsip formal logika, dalam sudut ketepatan materil logika juga bertentangan karena bila sumbernya dua, niscaya terjadi kekacauan. (QS.Al-Anbiya: 22; Ar-Ra'ad: 16).
            Karena semesta adalah citra, eksistensi semesta adalah eksistensi dari pemersepsi. Eksistensi pemersepsi adalah jiwanya. Jiwa ini yang mewujudkan fenomena keberagaman dari satu hal yaitu eksistensi. Eksistensi jiwa adalah dari gradasi Eksistensi Mutlak. Dalam pandangan Mulla Sadra, fenomena adalah jiwa, karena itu ragam fenomena dapat diketahui sebab pengetahuan adalah juga ekspresi jiwa. Tetapi cara berargumen Mulla Sadra dapat membingungkan karena baginya fenomena adalah eksistensi. Namun bila kita telah familiar dengan prinsip kemendasaran wujûd dan kesatuan subjek-objek, dapatlah kita pahami bahwa maksudnya fenomena sebagai wujûd adalah karena femonema itu adalah jiwa aktual. Aktualnya mungkin dapat ditafsirkan melalui ekspresi jiwa pengamat, yang dalam bahasa lain: adalah citra yang dimunculkan subjek. Selanjutnya subjek tetap mengenalnya melalui kuiditas yang dibentuk oleh pikiran (subjek).
            Mulla Sadra memiliki cara sendiri dalam menjelaskan posisi pengamat (subjek) dengan yang diamati (objek). Mungkin kita dapat menafsirkan subjek sebagai sebab dan objek yang diamati sebagai akibat. Mulla Sadra telah menjelaskan bahwa akibat adalah kehadiran sebab secara penuh tanpa celah. Pernyataan ini menegaskan bahwa femonena adalah murni citra pengamat. Syarat untuk memahami pernyataan Mulla Sadra bahwa semesta adalah gradasi wujûd bukanlah semesta yang ditunjuk ini dan itu. Sebab bila telah ditunjuk ini dan ini atau dijelaskan itu dan itu, dianya bukanlah lagi realitas wujûd tetapi wujûd mental yang telah bercampur dengan mahiyah (kuiditas). Wujud mental muncul dari citra yang ditangkap pikiran atas wujûd eksternal yang satu tiada batas dan celah. Kemudian pikiran menerapkan kuiditas pada wujud yang dicitrakan itu.
            Wujûd yang satu pada realitas eksternal tiada celah itu adalah wujûd yang sejati. Eksistensinya tiada dapat dipahami. Namun karena sifat pikiran yang terbatas, ia melimitasi wujud supaya dapat mengenalnya. Hasil limitasi ini meenjadikan mampu membuat kategori akan wujûd (yang telah direduksi itu). Kejadian ini sungguh adalah sebagaimana terjadi pada realitas al-Haqq. Dia sebagaimana Zat-Nya tiada sesiapapun mengetahui. Dalam perkara keabsoludan-Nya ini, Ahadiyah. Bersamaan itu Wujûd bergradasi sehingga muncullah Ruh Suci yang merupakan kesempurnaan manifestasi-Nya. Manifestasi sempurna itu disebut al-insaû. Pada akibat ini, seluruh kesempurnaan sebab hadir. Pengenalan al-insan al-kamîl akan al-Wajîb al-Wujûd sama dengan pengenalan al-Wajîb al-Wujûd akan Diri-Nya sendiri. Karena menghimpun keagungan al-Wajîb al-Wujûd dengan sempurna, maka ruh suci mengekspresikan seluruh keindahan al-Wajîb al-Wujûd yang nantinya manifestasi ruh suci memiliki berbagai tingkatan mulai dari para nabi, ‘urafa, hingga mineral. Pada tiap tingkatan manifestasi ini memiliki tingkatan masing-masing dalam mengenal Wujûd Sejati. Manusia yang dikaruniai penglihatan yang tajam akan mampu mengekspresikan tingkat pengenalannya dengan citra fenomena alam sebagai ekspresi sifat-sifat Wujûd Sejati.  
Proses pengetahuan adalah berupa persepsi akan materi. Materi adalah aktualisasi jiwa sebagai wadah pengenalan awal. Selanjutnya mengabstraksikan materi menjadi gambar semata. Selanjutnya citra gambar diabstraksikan lagi menjadi nilai yang berisi sifat-sifat wajib yang mengada dalam kesadaran jiwa. Semua proses ini merupakan proyeksi seorang manusia dalam rangka mengenal Wujûd Sejati sebagai sumber yang memanifestasikan dirinya.
            Pengenalan akan Sifat-sifat Wujud Sejati adalah sebagaimana pengenalan wujûd melalui beragam fenomena yang pula limitasi, artinya bukan pengenalan sejati. Pengenalan sesungguhnya akan Wujûd Sejati adalah dengan hilangnya semua Sifat yang sebenarnya adalah penghalang sebenar-benar pengenalan. Sifat-sifat menjadi ada karena keterbatasan insan yang beragam tingkat manifestasinya. Sifat-sifat adalah limitasi. Limitasi ini berarti khas pikiran. Karennya, sempurna kenal adalah dengan fânâ.

Pasal Esensi
Pada hakikat yang nyata hanya Haqq Ta'alâ. Pada Diri-Nya sendiri Ia tiada bernama apalagi bersifat. Selanjutnya dalam manifestasi yang semakin jauh, keragaman semakin banyak. Tingkatan manifestasi tiada berhubungan dengan waktu serial. Bisa saja Azazil lebih tua daripada Adam dalam sudut waktu serial. Tetapi bukti telah menyatakan bahwa Dia amat jauh dalam segi manifestasi. Demikian juga para malaikat boleh saja lebih awal daripada Adam dalam sisi waktu serial, tetapi bukti nyata telah menunjukkan status Adam jauh lebih tinggi daripada malaikat. Karena statusnya yang lebih tinggi, Adam mampu melihat esensi dengan jelas sehingga dia dapat melihat Sifat dengan lebih jelas. Ketika Adam menyebutkan nama-nama, itu adalah bukti kualitas jiwanya yang tinggi telah menyatu dengan esensi; karena pengetahuan adalah penyatuan. Dengan pengetahuan dapatlah dijangkau hakikat penopang esensi; yaitu bila tanpanya kesesuatuan itu runtuh. Misalnya manusia adalah hewan berfikir, yang bila berfikirnya dicabut, maka kesesuatuan bernama manusia akan lenyap.
            Dengan kemampuan mengetahui ini, dapatlah Adam menyebutkan esensi sesuatu itu yang mana penyebutan ini bukanlah pemberian hak paten. Tetapi penunjukan esensi sebagaimana dalam penjelasan di atas. Tingkatan jiwa menentukan kemampuan melihat esensi karena esensi ini adalah gradasi Wujûd dalam Sifat dan Nama.
            Semakin tinggi kualitas jiwa, semakin baik esensi terlihat. Semakin banyak esensi terlihat, itu adalah tanda semakin jauh dia dari sumbernya yaitu Zat. Maka membedakan kualitas dengan kuantitas adalah penting. Demikian juga dengan Haqq Ta'alâ. Dia memiliki banyak Nama karena banyaknya esensi yang dapat dibuat untuk menunjuk Sifat-Nya. Namun segenap sifat itu bermuara pada dua sifat yaitu Jamal dan Jalâl. Jalan ini diperoleh melalui kualitas jiwa. Semakin tinggi kualitas jiwa, semakin dalam membentuk esensi. Semakin dalam esensi yang dibentuk, semakin sedikit esensi yang dibentuk. Karena itu, bagi al-insan al-kamîl, sifat dinafikannya sehingga dia mengenal dengan Zat. Tetapi bila dia berbicara pada kualitas jiwa berbeda dengannya, dia mampu mengetahui keseluruhan Sifat. Bagi segenap insan, diperlukan penyebutan al-Rahman sekaligus al-Rahîm karena selain pada dimensi yang telah diketahui, insan juga perlu percaya pada dimensi yang masih tersembunyi; sekaligus insan perlu terus berusaha menagkap makna yang lebih dalam dari suatu pengetahuan. Sementara bagi al-insan al-kamîl, dia sendiri adalah yang aktual dan potensial.  
Pada al-insan al-kamîl kita melihat, maka dia adalah sejelas-jelas pancaran dari kemuliaan Haqq Ta'alâ. Melalui dialah terpancar eksistensi alam. Fenomena semesta yang kita saksikan adalah tampilan dari al-insan al-kamîl.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar