Kita semua menyayangkan keputusan Agus Harimurti Yudhoyono berhenti dari TNI dan memutuskan mencalonkan diri menjadi calon Gubernur Jakarta. Beberapa kalangan menilai keputusan itu adalah egois SBY yang berharap sekali mengalahkan Ahok dan PDIP. Apa yang dilakukan SBY mirip dengan drama Ibrahim mengorbankan putranya Ismail. Kalau Ibrahim menerima perintah mengorbankan Islam dari Tuhan. Namun SBY mendapatkan ilham itu dari tangisan rakyat. Dalam demokrasi, suara rakyat adalah suara Tuhan.
Tetapi cerita Agus akan
berbeda karena ketika dia diputuskan untuk dikorbankan, takkan tergantikan dengan kibas ataupun Ibas. Di militer, mengundurkan diri tidak boleh kembali.
Bersaing dengan Agus, Ahok semakin tertekan. TNI pasti di belakang Agus. tentara memang tidak boleh berpolitik praktis. Tetapi mereka punya inteleksi tinggi. Namun Agus tetap akan berat menghadapi Ahok. Seyogiyanya Agus tidak perlu mengangkat isu penggusuran. Karena masyarakat yang digusur yang BerKTP DKI tidak pernah marah pada Ahok. Mereka telah mendapatkan hunian yang layak. Sementara mereka yang digusur tak BerKTP DKI sekalipun marah pada Ahok karena tidak memperoleh hunian, mereka tidak punya hak memilih di PILKADA DKI.
Adapun Anis Baswaden hanya akan menjadi pelengkap penderita. Dia maju PILKADA karena bosan menganggur di rumah. Lagipula, pasangannya, Sandiaga Untuk yang kaya raya itu takkan habis-habisan mengeluarkan uang untuk PILKADA. Uno sepertinya hanya sedang mencari pengalaman pemeriahan PILKADA paling heboh se-Tanah Air.
Mungkin SBY adalah orang yang sangat peka zaman. Dia sadar bahwa untuk menjadi presiden, tidak bisa melompat dari Jendral. Tetapi dari bawah, dari Gubernur atau bupati/wali kota. Agar sang pemimpin dilihat sebagai representasi rakyat, bukan militer yang terkesan parsial dari rakyat. Untuk itu keputusan besar diambil untuk Agus. D
Tetapi cerita Agus akan
berbeda karena ketika dia diputuskan untuk dikorbankan, takkan tergantikan dengan kibas ataupun Ibas. Di militer, mengundurkan diri tidak boleh kembali.
Bersaing dengan Agus, Ahok semakin tertekan. TNI pasti di belakang Agus. tentara memang tidak boleh berpolitik praktis. Tetapi mereka punya inteleksi tinggi. Namun Agus tetap akan berat menghadapi Ahok. Seyogiyanya Agus tidak perlu mengangkat isu penggusuran. Karena masyarakat yang digusur yang BerKTP DKI tidak pernah marah pada Ahok. Mereka telah mendapatkan hunian yang layak. Sementara mereka yang digusur tak BerKTP DKI sekalipun marah pada Ahok karena tidak memperoleh hunian, mereka tidak punya hak memilih di PILKADA DKI.
Adapun Anis Baswaden hanya akan menjadi pelengkap penderita. Dia maju PILKADA karena bosan menganggur di rumah. Lagipula, pasangannya, Sandiaga Untuk yang kaya raya itu takkan habis-habisan mengeluarkan uang untuk PILKADA. Uno sepertinya hanya sedang mencari pengalaman pemeriahan PILKADA paling heboh se-Tanah Air.
Mungkin SBY adalah orang yang sangat peka zaman. Dia sadar bahwa untuk menjadi presiden, tidak bisa melompat dari Jendral. Tetapi dari bawah, dari Gubernur atau bupati/wali kota. Agar sang pemimpin dilihat sebagai representasi rakyat, bukan militer yang terkesan parsial dari rakyat. Untuk itu keputusan besar diambil untuk Agus. D

Tidak ada komentar:
Posting Komentar