Rabu, 03 Agustus 2016

The Reconstruction of Religious Thought in Islam

Buku dimaksud merupakan kumpulan enam ceramah keliling Allama Sir Muhammad Iqbal di beberapa universitas di India. Sehingga bila disamakan dengan pembunuhan, maka buku itu adalah pembunuhan tak berencana. Judul awal saat diterbitkan adalah "Six Lectures of the Reconstruction of The Religious Thought ini Islam". Selanjutnya hanya
" Reconstruction of The Religious Thought in Islam".


Judul termaktub terakhir itu, oleh Penerbit  Tintamas, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi: "Membangun Kembali Pemikiran Agama dalam Islam". Sementara penerbit Bulan Bintang menterjemahkannya menjadi "Pembangunan Kembali Pikiran Islam". Penerbit Lazuardi pada 2002 menterjemahkannya menjadi " Rekonstruksi Pemikiran Agama Dalam Islam. Dan Mizan pada 2016 akan menerbitkannya dengan judul: "Rekonstruksi Pemikiran Religius dalam Islam".

Penerjemahan-penerjemahan di atas dapat dimaklumi mengingat buku itu merupakan referensi awal tentang pemikiran Islam. Meninjau isinya, sebenarnya yang dimaksud "religious thought in Islam" adalah sufisme Islam atau disebut tasawuf. Lebih khusus lagi, aliran tasawuf itu adalah tasawuf falsafi atau dalam istilah aslinya disebut ''irfan'.
Dalam buku itu, Iqbal ingin memperkenalkan kembali pemikiran Bayazid Bistami, Al-Hallaj, Ibn 'Arabi dan tentunya Jalaluddin Rumi. Maksud daripada 'Reconstruction' adalah, pemikiran para 'urafa itu dijadikan pisau evaluasi pemikiran-pemikiran Islam aliran ortodox dan pemikiran-pemikiran filsafat Barat Modern.

Sehingga, terjemahan akuratnya dapat berbunyi: Revivalisasi 'Irfan. Istilah 'revivalusasi' lebih baik daripada 'reconstruction' karena Iqbal tidak melakukan suatu perubahan apapun tentang 'irfan. Ia hanya menghidupkannya kembali ke dalam alam pikir kaum Muslim. Lalu menjadikannya sebagai alat evaluasi pemikiran-pemikiran ortodok dalam Islam dan pemikiran Barat Modern.

Buku tersebut telah mempengaruhi hampir semua pemikir Muslim setelahnya. Di Indonesia, Ahmad Wahib, Cak Nur, Amien Rais, Gus Dur, Mulyadhi Kartanegara dan sejumlah pemikir keislaman lainnya tidak bisa memungkiri telah dipengaruhi oleh buku tersebut.

Dapat dikatakan, magnum opus Iqbal itu adalah karya yang paling berpengaruh terhadap pemikiran Islam sepanjang Abad XX. Bahkan setelah Syarah Manzumah Mulla Hadi Sabzawari, hanya karya Iqbal itulah yang memiliki kualitas tinggi.

MU

Tidak ada komentar:

Posting Komentar