Sepertinya satiran demikian muncul akibat banyaknya propaganda orang tidak bertanggungjawab yang mengorbankan orang Aceh sehingga muncul kebencian terhadap Jawa. Tapi Jawa yang dimaksud umumnya lebih kepada pemerintah pusat, bukan orang Jawa. Dalam pembahasaan orang Aceh, Jawa lebih dimaknai sebagai Jakarta, bukan daerah Jawa atau orang Jawa.
Benarkan orang Jawa tidak beragama?
Muhammad Natsir mengapresiasi Bung Tomo dengan pekik takbirnya, bukan hanya keberaniannya berdiri di garis depan untuk mempertahankan keutuhan Indonesia. Lebih dari itu, tokoh Masyumi itu memujinya karena pahlawan kita dari Surabaya itu tahu letak kunci kekuatan masyarakat Indonesia: ''Allahu Akbar''. Apa yang diketahui Bung Tomo, jarang disadari kaum muda lainnya. Ia paham bahwa masyarakat Indonesia tetap menyimpan keyakinan teguh tentang kebesaran Tuhan. Ketika keyakinan ini diaktualkan ke dalam tindakan, maka muncullah kekuatan yang sangat besar. Kekuatan inilah yang membuat manusia-manusia ambisius buta dari Barat tidak mampu berkutik di hadapan masyarakat Indonesia.
Apa yang telah dilihat oleh masyarakat dunia di Surabaya pada awal-awal kemerdekaan Indonesia adalah penegasan bahwa masyarakat Jawa yang dianggap tunduk kepada kolonialis selama raturan tahun, bukan karena mereka lemah. Tapi karena watak Jawa yang begitu ramah. Jawa tidak ingin bertindak keras hanya karena urusan baynah.
Pembersihan komunisme pada dekade keenam abad keduapuluh, sekali lagi menjadi bukti heroisme masyarakat Jawa. Sekaligus menunjukkan bahwa Islam adalah landasan semangat mereka.
Dalam mengisi kemerdekaan, Jawa dengan wataknya yang pekerja keras, teguh dan
mampu menjaga emosi dengan sangat baik, secara perlahan membangun bangsa ini. Mereka tidak seperti oleh orang Aceh yang mudah terpancing emosinya. Jawa juga tidak seperti orang Timur yang umumnya terlalu gegabah hingga sering salah langkah. Sikap-sikap negatif itu tentunya dapat merugikan Indonesia. Namun demikian, tentunya beragam watak yang dimiliki bangsa Indonesia tetap bertujuan sama yakni kejayaan Indonesia.
Sepertinya Jawa adalah masyarakat yang paling sadar bahwa Indonesia telah kembali dari perang kecil dan sedang berada dalam peperangan besar. Perang kecil dapat dilaksanakan siapapun asal punya tauhid teguh. Tapi perang besar menuntut ketelitian, perencanaan yang matang dan akurat, strategi yang terukur. Semua itu hanya dapat dilaksanakan dengan kepala dingin, tidak temperamental dan dengan emosi yang terus terkendali. Tentang ini, Jawa adalah ahlinya. Mereka punya sesuatu yang jarang dimiliki masyarakat lain: Tenang. Sifat inilah yang dapat membuat segala bekal lain untuk perang besar terus terawat dengan baik.
Sikap-sikap Positif Jawa sering hanya dimanfaatkan untuk kepentingan penguasa. Dalam penegakan kemajuan bangsa, Jawa sering diabaikan. Sangat banyak masyarakat Jawa harus hidup sangat menderita. Hingga kini mereka sering seperti tebu: habis manis sepah dibuang. Kemiskinan yang sangat parah
dialami masyarakat Jawa sering membuat mereka dijadikan kambing hitam masalah-masalah bangsa: Penguasa yang makan nangka, mereka terkena getah. Hampir sepanjang sejarah Indonesia, dari masyarakat Jawa, kek'okuasaan terus menuntut mereka untuk melaksanakan kewajibannya. Namun sangat jarang kekuasaan memenuhi hak mereka.
Bila terus dibiarkan begitu, maka keyakinan yang disimpan seketika bisa menyeruak keluar dan sekali lagi pekik takbir keraktualisasi. Jangan sampai itu terjadi. Karena bila Jawa bertakbir lagi, maka perubahan besar pasti terjadi pada bangsa ini. Masalahnya kita tidak tahu perubahannya ke mana. Maka itu, baiknya jangan abaikan Jawa. Penguasa perlu berupaya agar negara ini bergerak perlahan namun pasti menuju kesejahteraannya.
Jawatan agama adalah benar dengan catatan diberikan kata meukat di tengah dua kata itu. Sehingga menjadi: Jawa tidak jual agama. Jawa tidak seperti Arab atau Indonesia lainnya. Mereka tidak mudah terpancing, tersinggung, apalagi terprovokasi dengan isu-isu yang mengatasnamakan agama. Itulah makna Jawa bukan penjual agama.
Orang Aceh tahu itu. Mereka sangat sadar sebenarnya Jawatan Agama adalah kebalikannya. Makanya ketika seseorang mengatakan Jawatan Agama, lawan bicaranya terkadang menjawab, Jawatan Kereta Api. Artinya, di Jawa tidak Ada Kereta Api . Tentu saja itu salah. Malah yang tidak ada kereta api itu di Aceh. Jawaban jawatan kereta api seolah mengingatkan, jangan-jangan orang Aceh yang tidak punya agama. Setidaknya mudah terprovokasi dengan isu pengatasnamaan agama.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar