Inferno. Novel yang membosankan. Bagian awalnya begitu indah. Pembukaannya menciptakan rasa penasaran. Namun di penghujung pembaca sadar sedang dipernainkan. Kalau ada orang yang bertaubat membaca novel, patut dicurigai karena sudah jera dengan karya Dan Brown itu.
Novel yang sangat tebal itu menceritakan seorang ilmuan jenius ahli biologi Bernard Zobrist. Pertemuannya dengan direktur lembaga kesehatan Dunia, WHO, Elisabeth Sinskey berakhir buntu. Zobrist ingin menjelaskan bahwa populasi manusia sedang berada di ujung tanduk. Peningkatan populasi spesies paling cerdas yang semakin meningkat tanpa kendali akan membuatnya punah.
Seperti ganggang air yang perkembangbiakannya sangat massif membuat sinar matahari sulit menembus air. Sumber makanannya menjadi menipis dan habis. Dengan begitu ganggang segera punah. Demikian pula manusia. Pertumbuhannya sangat pesat. Bila ini terus dibiarkan, populasi manusia akan berahir Dengan kepunahan. Manusia masa depan akan kesulitan memperoleh sumber makanan. Bumi tidak akan lagi mampu menyediakan kebutuhan dasar manusia.
Pada akhir 1000 Masehi, jumlah manusia tidak sampai lima ratus juta orang. Butuh 800 tahun untuk membuat manusa menjadi satu milyar orang, yakni tahun 1800. Setelah itu, populasi tumbuh pesat. Pada 1920, populasi menjadi dua milyar. 1970 menjadi empat milyar. Dalam waktu dekat populasi akan delapan milyar. Bila peningkatan populasi manusia terjadi terus seperti hari ini, yakni bertambah seperempat juta perhari, atau setara penduduk Jerman, maka populasi manusia akan membudak 50 tahun lagi. Dan seratus tahun lagi manusia akan punah karena alam tidak akan sanggup memberinya makan.
Secara matematis, bila pertumbuhan manusia terus dibiarkan tanpa kendali, seratus tahun lagi manusia benar-benar akan punah. Argumentasi-argumentasi yang disuguhkan melalui para narator dalam novel Inferno akan membuat kita mengecam rencana Zobrist. Misalnya, kita akan mengkrtitiknya dengan mengatakan pengebab krisis pangan adalah karena ulah satu persen manusia yang mengeruk alam dengan serakah. Namun data statistik tentang membludaknya populasi manusia akan sulit disanggah. Paling, kita akan mengatakan Zobrist dan kelompok transhumanisnya terlalu picik. Alam akan melakukan stabilisasi untuk mengatur spesies. Misalnya bencana alam. Itu adalah salahsatu unsur alami mengendalitan populasi.
Nah, ternyata yang dilakukan Zobist adalah sesuatu yang sangat alami. Kecerdasan Zobrist dalam membuta karya adalah bagian daripada hukum alam. Ia menciptakan sebuah virus yang sangat lain. Melepaskannya di air, virus itu tumpuh di udara. Virus tidak akan menyebabkan sakit ataupun kerusakan tubuh yang bisa diamati secara medis. Virus yang disebarkan Zobist dari sebuah tempat bersejarah di kota Instanbul merasuk ke dalam DNA dan RNA, bersasimilasi dengannya, lalu membuat manusia terbatas dalam bereproduksi. Sehingga virus itu membuat kelahiran manusia berfokus pada kualitas, bukan kuantitas.
Pengendalian populasi yang sangat ramah ala Bernard Zobrist adalah proyek penyelamatan popolasi manusia yang sangat elegan. Tiga puluh persen di negara maju, tujuh puluh persen di negara kelas tiga, terjadi kelahiran yang tidak direncanakan.
Dengan virus ramah ala Zobrist, pertumbuhan populasi akan terkendali. Sehingga manusia akan terhindar dari kepunahan. Dan DNA manusia yang lahir ke muka bumi akan menjadi lebih tangguh terhadap penyakit. Inilah mahakarya Bernard Zobrist.
Novel yang sangat tebal itu menceritakan seorang ilmuan jenius ahli biologi Bernard Zobrist. Pertemuannya dengan direktur lembaga kesehatan Dunia, WHO, Elisabeth Sinskey berakhir buntu. Zobrist ingin menjelaskan bahwa populasi manusia sedang berada di ujung tanduk. Peningkatan populasi spesies paling cerdas yang semakin meningkat tanpa kendali akan membuatnya punah.
Seperti ganggang air yang perkembangbiakannya sangat massif membuat sinar matahari sulit menembus air. Sumber makanannya menjadi menipis dan habis. Dengan begitu ganggang segera punah. Demikian pula manusia. Pertumbuhannya sangat pesat. Bila ini terus dibiarkan, populasi manusia akan berahir Dengan kepunahan. Manusia masa depan akan kesulitan memperoleh sumber makanan. Bumi tidak akan lagi mampu menyediakan kebutuhan dasar manusia.
Pada akhir 1000 Masehi, jumlah manusia tidak sampai lima ratus juta orang. Butuh 800 tahun untuk membuat manusa menjadi satu milyar orang, yakni tahun 1800. Setelah itu, populasi tumbuh pesat. Pada 1920, populasi menjadi dua milyar. 1970 menjadi empat milyar. Dalam waktu dekat populasi akan delapan milyar. Bila peningkatan populasi manusia terjadi terus seperti hari ini, yakni bertambah seperempat juta perhari, atau setara penduduk Jerman, maka populasi manusia akan membudak 50 tahun lagi. Dan seratus tahun lagi manusia akan punah karena alam tidak akan sanggup memberinya makan.
Secara matematis, bila pertumbuhan manusia terus dibiarkan tanpa kendali, seratus tahun lagi manusia benar-benar akan punah. Argumentasi-argumentasi yang disuguhkan melalui para narator dalam novel Inferno akan membuat kita mengecam rencana Zobrist. Misalnya, kita akan mengkrtitiknya dengan mengatakan pengebab krisis pangan adalah karena ulah satu persen manusia yang mengeruk alam dengan serakah. Namun data statistik tentang membludaknya populasi manusia akan sulit disanggah. Paling, kita akan mengatakan Zobrist dan kelompok transhumanisnya terlalu picik. Alam akan melakukan stabilisasi untuk mengatur spesies. Misalnya bencana alam. Itu adalah salahsatu unsur alami mengendalitan populasi.
Nah, ternyata yang dilakukan Zobist adalah sesuatu yang sangat alami. Kecerdasan Zobrist dalam membuta karya adalah bagian daripada hukum alam. Ia menciptakan sebuah virus yang sangat lain. Melepaskannya di air, virus itu tumpuh di udara. Virus tidak akan menyebabkan sakit ataupun kerusakan tubuh yang bisa diamati secara medis. Virus yang disebarkan Zobist dari sebuah tempat bersejarah di kota Instanbul merasuk ke dalam DNA dan RNA, bersasimilasi dengannya, lalu membuat manusia terbatas dalam bereproduksi. Sehingga virus itu membuat kelahiran manusia berfokus pada kualitas, bukan kuantitas.
Pengendalian populasi yang sangat ramah ala Bernard Zobrist adalah proyek penyelamatan popolasi manusia yang sangat elegan. Tiga puluh persen di negara maju, tujuh puluh persen di negara kelas tiga, terjadi kelahiran yang tidak direncanakan.
Dengan virus ramah ala Zobrist, pertumbuhan populasi akan terkendali. Sehingga manusia akan terhindar dari kepunahan. Dan DNA manusia yang lahir ke muka bumi akan menjadi lebih tangguh terhadap penyakit. Inilah mahakarya Bernard Zobrist.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar