Selasa, 19 Juli 2016

Turki dan Erdogan

Turki di bawah presiden Erdogan sangat mengekang kebebasan rakyatnya. Berbagai media sosial seperti twitter, facebook dan youtube ditutup. Demikian dilaporkan Zuhairi Misrawi pada Harian Kompas 19 Juli 2016. Sehingga memunculkan pertanyaan, bagaimana Erdogan bisa dikatakan mengirimkan pesan melalui akun twitter untik mengajak rakyat melawan kudeta militer pada sabtu dini hari lalu.

Begitu banyak masalah timbul selama dia menjabat presiden.
Teror bom ISIS yang sangat mudah terjadi bahkan sudah beberapa kali, diyakini karena ketidaktegasan Erdogan. Dia dinilai memiliki ketergantungan terhadap ISIS terkait minyak. Pendekatan Erdogan terhadap faksi Kurdi sangat keras. Erdogan juga dinilai begitu kejam kepada pihak yang tidak sependapat dengan dirinya.

Drama tersebut berujung pada kudeta militer. Drama kudeta yang dikatakan gagal itu menjadi momen bagi Erdogan untuk membasmi lawan-lawan politiknya. Para jaksa yang pernah mencoba mengusut kasus korupsi yang diduga melibatkan dirinya, tentu adalah sasaran pemusnahan yang masuk skala prioritas.

Kudeta adalah hal yang lumrah bagi Turki. 1908, 1971, 1980 dan 1997 adalah rangkaian episode drama.

Sebenarnya 2012 juga pernah direncanakan kudeta oleh militer, namun urung dilakukan. Imbas rencana itu, sekitar 300 prajurut ditangkap. Kudeta baru-baru ini juga akan membuat prajurit militer ditangkap berjumlah ribuan.

Penangkapan prajurit adalah hal yang aneh. Seharusnya yang ditangkap adalah perwira yang terlibat langsung dalam paya kudeta. Psrabprajurit hanya mengikut perintah komando. Penangkapan prajurit akan membuat citra Turki rendah di mata dunia. Pemuda potensial juga akan urung menjadi prajurit. Tentara di Turki diperlakukan seperti maling ayam. Sipil mengeroyok tentara adalah sebuah simbol bahwa betapa tidak berharganya tentara di Turki.

Ya, tentara Turki memang telah diketahui begitu rapuh. Perpecahan yang timbul di internal militer Turki adalah sebuah kegagalan fatal sebuah angkatan militer. Padahal militer adalah tiang pertahanan negara. Bila tiang itu rapuh, pastinya sebuah negara akan segera runtuh.

Zuhairi Misrawi mengatakan, Erdogan tidak boleh terlalu bernafsu dan mengutamakan kepentingan pribadi dan kelompoknya. Sebagai seorang presiden, di dalam negerinya saja. dia sudah punya terlalu banyak musuh. Kurdi, media, militer, oposisi dan lainnya. Dia tidak perlu memfitnah Gulen. Itu hanya akan membuat reputasinya semakin buruk. Itu hanya semakin menambah musuh lebih banyak lagi. Pendukung Gulen sangat banyak di Turki. Gulen adalah semacam guru bangsa bagi Turki. Sekalipun tidak memiliki pengaruh politik yang lebih kuat dibandingkan Erdogan, Gulen memiliki pengaruh diberbagai bidang di Turki selain politik. Hal inilah yang sering dilupakan Erdogan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar