Kamis, 12 Mei 2016

KOTA LANGSA HANCUR LEBUR

Orang bilang, biaya hidup di kota Langsa jauh lebih murah dibandinkan kota-kota lain di Aceh. Pendapat demikian perlu ditinjau kembali. Mengingat, perspektif umum tentang 'murah' adalah harga nasi. Benar harga nasi dan kebutuhan pokok lain lebih murah. Harga-harga pakaianpun lebih murah, mengingat jaraknya dengan Medan tidak terlalu jauh. Namun murahnya pangan dan sandang mengundang pembengkakan biaya pada bagian-bagian lain sehingga membuat biaya hidup di kota Langsa menjadi lebih mahal berkali lipat.

 Tulisan ini bukan karya ilmiah. Jadi, penulis hanya berlandaskan pada pengalaman pribadi. Tidak ada metode atau teori tertentu yang digunakan. Tulisan ini sifatnya hanya berbagi pengalaman.
  Harga nasi di Langsa masih delapan ribu rupiah. Di kota lain di Aceh umumnya sepuluh ribu rupiah. Tetapi sangat sulit mencari rumah makan atau warung nasi yang bersih dan memberikan layanan standar. Kalau terkena penyakit, maka biaya yang harus dikeluarkan, atau macet bekerja karena sakit akan membuat rata-rata harga nasi seperti limabelas rubu rupiah.
 Pelayanan di bengkel resmi sangat tidak memuaskan. Montir akan mengatakan beberapa bagian rusak atau mungkin mereka yang merusak. Sehingga biaya service melambung, jauh dari yang diduga. Belum lagi tukang tampal ban merangkap jabatan menjadi tukang tebar paku.
 Petugas kebersihan baru menyapu jalan jam tujuh pagi. Saat jalanan sangat sibuk. Mereka tidak peduli sambil menyapu di pinggir jalan dan tengah jalan dekat trotoar. Sore hari mobil penyiram tanaman trotoar jalan bekerja saat jam sibuk pulang kerja. Mereka membuat jalan kota Langsa yang sempit menjadi semakin sempit.
 Parkir di Langsa tak ada ampun. Sekali parkir seribu rupiah. Di beberapa tempat dua ribu rupiah. Bila berhenti di lima puluh tempat dalam sehari, maka seluruh penghasilan adalah untuk membayar parkir.
 Sementara itu, tidak ada tempat yang aman di Langsa. Kehilangan motor, adalah hal sangat biasa di Langsa. Tabung gas, kompor, piring, bedak, bahkan kereta sorong bayi sering hilang. Narkoba diduga kuat penyebabnya.Langsa adalah kota yang sangat banyak penyebaran narkoba. Teman pernah mengatakan; di hampir semua kelurahan di Langsa, anak muda laki-laki nyaris punah karena sudah ditangkap polisi. Namun demikian, sisanya gencar melakukan pencurian.
 Di Langsa, judi dilakukan terang-terangan. Petugas syariat tidak berdaya. Apalagi mereka harus berhadapan dengan keluarga baju hijau dan cokelat. Masyarakat juga tidak peduli dengan syariat Islam. Saya yakin kalau dibuat pemilihan menerima atau menolak syariat Islam di Langsa, enam pulih lima persen akan menolak.   
  Pom bensin di kota Langsa hanya ada satu. Antrian selalu panjang. Yang lebih menyebalkan, para pengisi bensin bekerja sangat lambat. Mereka banyak mengobrol sesama teman. Tidak peduli antrian yang panjang. Bila ditegur, sering berkilah mengambil uang kembalian. Padahal segala nominal uang menumpuk di tangan. Mereka membuat pekerjaan orang lain terhambat.
Bank yang dikenal dengan pelayanannya yang memuaskan, di Langsa ikut hancur lebur. Khususnya Bank Aceh Syariat. Lokasi ATM hanya ada di dua tempat. Kalau transaksi manual? Jangan lupa bawa bekal. Karena, bila beruntung, transaksi selesai setengah hari. Bagi karyawan atau pegawai, disarankan ambil cuti pada hari ke bank.
 Pelayanan kesehatan lebih hancur lebur. Perawat sombong dan pelayanan hancur mungkin terdapat di segala tempat. Terlambat datang, bekerja lambat dan bersikap ac adalah khas perawat Langsa. Keunikan lain rumah sakit dan puskesmas Langsa, kualitas obat sangat memprihatinkan. Kawan pernah bercerita anaknya yang mau dioperasi, biusnya tidak bekerja. Untung belum dibelah. Saya pernah akan mencabut gigi. Tetapi batal karena obat biusnya tidak bekerja dengan baik.
 Pelayanan yang buruk menyebabkan kekacauan sistemik. Guru akan terlambat mengajar. Pekerjaan orang kantoran akan kacau. Kota Langsa hancur lebur.   



2 komentar:

Posting Komentar