Orang
bilang, biaya hidup di kota Langsa jauh lebih murah dibandinkan kota-kota lain
di Aceh. Pendapat demikian perlu ditinjau kembali. Mengingat, perspektif umum
tentang 'murah' adalah harga nasi. Benar harga nasi dan kebutuhan pokok lain
lebih murah. Harga-harga pakaianpun lebih murah, mengingat jaraknya dengan
Medan tidak terlalu jauh. Namun murahnya pangan dan sandang mengundang
pembengkakan biaya pada bagian-bagian lain sehingga membuat biaya hidup di kota
Langsa menjadi lebih mahal berkali lipat.
Tulisan ini bukan karya ilmiah. Jadi, penulis
hanya berlandaskan pada pengalaman pribadi. Tidak ada metode atau teori
tertentu yang digunakan. Tulisan ini sifatnya hanya berbagi pengalaman.
Harga nasi di Langsa masih delapan ribu
rupiah. Di kota lain di Aceh umumnya sepuluh ribu rupiah. Tetapi sangat sulit
mencari rumah makan atau warung nasi yang bersih dan memberikan layanan
standar. Kalau terkena penyakit, maka biaya yang harus dikeluarkan, atau macet
bekerja karena sakit akan membuat rata-rata harga nasi seperti limabelas rubu
rupiah.
Pelayanan di bengkel resmi sangat tidak
memuaskan. Montir akan mengatakan beberapa bagian rusak atau mungkin mereka
yang merusak. Sehingga biaya service melambung, jauh dari yang diduga. Belum
lagi tukang tampal ban merangkap jabatan menjadi tukang tebar paku.
Petugas kebersihan baru menyapu jalan jam
tujuh pagi. Saat jalanan sangat sibuk. Mereka tidak peduli sambil menyapu di
pinggir jalan dan tengah jalan dekat trotoar. Sore hari mobil penyiram tanaman
trotoar jalan bekerja saat jam sibuk pulang kerja. Mereka membuat jalan kota
Langsa yang sempit menjadi semakin sempit.
Parkir di Langsa tak ada ampun. Sekali parkir
seribu rupiah. Di beberapa tempat dua ribu rupiah. Bila berhenti di lima puluh
tempat dalam sehari, maka seluruh penghasilan adalah untuk membayar parkir.
Sementara itu, tidak ada tempat yang aman di
Langsa. Kehilangan motor, adalah hal sangat biasa di Langsa. Tabung gas,
kompor, piring, bedak, bahkan kereta sorong bayi sering hilang. Narkoba diduga
kuat penyebabnya.Langsa adalah kota yang sangat banyak penyebaran narkoba.
Teman pernah mengatakan; di hampir semua kelurahan di Langsa, anak muda
laki-laki nyaris punah karena sudah ditangkap polisi. Namun demikian, sisanya
gencar melakukan pencurian.
Di Langsa, judi dilakukan terang-terangan.
Petugas syariat tidak berdaya. Apalagi mereka harus berhadapan dengan keluarga
baju hijau dan cokelat. Masyarakat juga tidak peduli dengan syariat Islam. Saya
yakin kalau dibuat pemilihan menerima atau menolak syariat Islam di Langsa,
enam pulih lima persen akan menolak.
Pom bensin di kota Langsa hanya ada satu.
Antrian selalu panjang. Yang lebih menyebalkan, para pengisi bensin bekerja
sangat lambat. Mereka banyak mengobrol sesama teman. Tidak peduli antrian yang
panjang. Bila ditegur, sering berkilah mengambil uang kembalian. Padahal segala
nominal uang menumpuk di tangan. Mereka membuat pekerjaan orang lain terhambat.
Bank yang dikenal dengan pelayanannya yang
memuaskan, di Langsa ikut hancur lebur. Khususnya Bank Aceh Syariat. Lokasi ATM
hanya ada di dua tempat. Kalau transaksi manual? Jangan lupa bawa bekal.
Karena, bila beruntung, transaksi selesai setengah hari. Bagi karyawan atau pegawai,
disarankan ambil cuti pada hari ke bank.
Pelayanan kesehatan lebih hancur lebur.
Perawat sombong dan pelayanan hancur mungkin terdapat di segala tempat.
Terlambat datang, bekerja lambat dan bersikap ac adalah khas perawat Langsa.
Keunikan lain rumah sakit dan puskesmas Langsa, kualitas obat sangat
memprihatinkan. Kawan pernah bercerita anaknya yang mau dioperasi, biusnya
tidak bekerja. Untung belum dibelah. Saya pernah akan mencabut gigi. Tetapi
batal karena obat biusnya tidak bekerja dengan baik.
Pelayanan yang buruk menyebabkan kekacauan
sistemik. Guru akan terlambat mengajar. Pekerjaan orang kantoran akan kacau.
Kota Langsa hancur lebur.
Informasi yang berguna. Terimakasih.
BalasHapusSama-sama.
BalasHapus