Hitam manis
si hitam manis
yang hitam manis
pandang tak jemu
si hitam manis pandang tak jemu
hitam manis
hitam manis
Ahmad
menyanyikan lagu sendu lama itu secara tak beraturan bukan karena tidak
beralasan. Dia punya alasan:
Balas berbalas pesan
singkat seperti ini:
''Apa kamu Mirip Twinkle
Khanna, ya? Kadang saya membayangkan kamu mirip Rafeena Tandon. Tentunya kamu lebih cantik dari Aishwarya
Ray. Kuduga kau mirip Madonna: Tentu
saja waktu dia masih muda.
''Apakah kamu sedang mempermainkan wajahku?''
''Tapi wajahmulah yang
selalu setia mempermainkan khayalan dan imajinasiku.”
''Aku
ada satu permintaan, maukah kamu mengabulkannya?''
''Silakan Tuan Puteri.
Dengan senang hati akan hamba penuhi.''
''Bisakah imajinasi dan khayalanmu menghapus wajahku yang masih maya itu''
''Ampuni hamba Tuan
Puteri. Pikiran hamba terlalu liar untuk dapat hamba kendalikan. Sebenarnya ini
bukan keinginan hamba. Bila Nyonya Putri tidak ingin imajinasi ini liar lagi, mohon tuan puteri memberikan
jawaban: diantara Madonna, Aishwarya Ray dan Ronaldinho, Tuan Putri lebih mirip
siapa?”
''Saya lebih mirip ibu dan
Bapak saya.''
Itu bukan jawaban. Tapi Ahmad
yakin dia lebih mirip Aishwarya Ray. Hitam manis, hidung mancung dengan mata
paling indah di dunia.
Sejak pertama berhubungan
melalui udara, wajah dia belum pernah dilihat lihat langsung. Tapi Ahmad begitu
nyaman dengan namanya: Cut Nyak Meutia Rahmah. Ahmad tak peduli dia cantik atau
manis. Karena tidak mengenal wajahnya, jadi imajinasi dan khayal Ahmad bebas menembus-nembus awan-awan berlapis yang
membuat malam menjadi pekat, mencari wajahnya di sela-sela kulit otak di dalam
kepala.
Kadang terbayang wajahnya
lebih cantik dari Cinta Laura, sering pula wajahnya mengalahkan bertuk wajah
maha indah Rafeena Tandon. Tapi kadang-kadang terbayang domba paling gemuk
dalam 'Shaun the Sheep', ia makan apa yang ada, termasuk radio.
Sebenarnya bisa saja Ahmad
memeriksa namanya melalui mesin pencari di udara. Wajahnya mungkin saja bias ia
temui di Mbah Google. Tapi itu selalu diurungnya. Mungkin karena ahmad tidak
ingin membatasi keindahannya dalam persepsi konkrit, “tidak ingin
mengurung dirimu dalam warna dan bentuk. Kamu
harus terus menjadi Aishwarya Raiku.” Desah Ahmad pada dirinya sendiri.
Obsesi bertemu dengan
Meutia membuat Ahmad berbunga-bunga dan kadang tersipu.
Karena itu kadang Ahmad menyanyikan lagu India, kadang lagu nostalgia selama
dalam perjalanan menuju kota tempat gadis itu tinggal sementara untuk sekolah
di perguruan tinggi.
''Sedang bahagia rupaya.''
tanya seorang laki-laki umur lima puluhan berbadan
kurus. Melalui lampu-lampu jalan
dapat diketahuinya warna kemeja lengan pendeknya bewarna putih yang dikenakan
pria yang menyapanya.
Ahmad melorotkan badan. Perasaan
gembira masih menghiasi seluruh rongga dadanya. Ia tidak menjawab pertanyaan
penumpang di sampingnya itu. Hanya menghadiahi sepasang matanya dengan secercah
senyum.
Cut Nyak Meutia
Rahmah baru saja pulang dari warung tidak jauh dari rumah. Saat ini dia sedang
memasak di dapur. Dia belum makan sedari siang. Dan kini hanya akan makan mie
instan.
Dia menyeka keningnya dengan belakang tapak tangan. Mungkin untuk mengusir
beberapa bulir keringat yang ada di sana. Dengan itu juga rambut hitamnya yang
lurus panjang meski telah disanggul asal jadi masih suka bagian depannya
menghalang-halangi pandangan matanya ikut beranjak, sementara tapi cuma, lalu
kembali lagi. Setelah mie diseduh di mangkok dia mendekati kursi di sudut
ruangan dapur yang kecil itu. Hatinya sedang berbahagia; entah kenapa. Baru
ingin menikmati suapan pertama, dia melihat ponselnya di atas meja kecil
pendamping kursi tempat dia duduk kini. Dia tersenyum. Diletakkannya mangkuk
itu di dekat ponsel. Diraihnya alat komunikasi itu.
Dia melangkah
keluar. Duduk di atas kursi yang dikawani meja dan satu kursi lagi. Di teras
yang tidak lebar itu dia ikut menaikkan kedua kaki ke atas kursi. Dimiringkan
dia punya badan ke kanan, lutut yang melipat kaki mengikuti.
Dua belah jempol menari-nari di atas
tombol ponsel yang kecil-kecil. Delapan jari lainnya menyangga benda
kesayangannya itu. Semakin disayang saja benda itu beberapa waktu belakangan.
''Sudah sampai di mana, wahai
Tuan Raja? '' ''Wahai Yang Mulia Gusti Puteri Cut
Nyak Meutia Rahmah Setiawati Setyaningsih binti Baginda Teuku Baginda Ampon Di
Geudong. Ampun beribu ampun Gusti Puteri. Saat pesan Gusti Puteri hamba baca,
hamba sudah berada di Simpang KKA. Ketika balasan ini hamba tulis, telah pula
hamba berada di seputaran Krueng Mane. Hamba perkirakan saat pesan ini dibaca
olehmu, belahan jiwamu ini sedang di atas empat roda melintasi Batuphat dengan
kecepatan di atas seratus kilometer perjam. Ya, kendaraan ini larinya sekencang
kereta Api yang biasa mengantar kami Jakarta-Yogyakarta. Tahukah kamu, Kulon
Progo namanya. Indah, bukan.''
Dengan malas, campur
suka, Cut Nyak menarikan kembali dua jempolnya di keypad.
''Ya udah, hati-hati
aja.''
Teringat
mie instannya yang mungkin sudah bengkak di belakang, Icut berlari kecil ke
belakang. Pintu kamarnya terbuka. Terlihatnya cermin yang digantung di dinding
kamar. Dia masuk. Menghadapkan wajahnya ke wajahnya di dalam kaca. Dia bicara
sendiri:
''Pangeran Ahmad, apakah
permaisurimu ini layak untuku. Ah, tidak, kamu terlalu tampan. Hamba hanya gadis
kampung yang hanya bisa mengeluh dan mengeluh. Lagi pula...'' Icut mencium
pangkal lengan bagian bawan bajunya ''hamba bau sekali. Tapi aku tidak akan
mandi. Biarlah kau jumpai aku, untuk pertama kali ini, kau lihat aku apa
adanya. Dalam keadaan terburuk. Sebab nanti, bila Allah merestui, hari-hari
yang kau lalui bersamaku adalah dalam keadaanku seperti ini.''
Di dalam minibus Ahmad
merasan semakin deg-degan. Rasa penasaran yang terakumulasi berpuluh bulan kini
meluap semua. Melalui udara Ahmad pernah berkata:
''Aku biarkan
imajinasiku melambung tinggi. Menghayalkan tentang dirimu. Kalau aku mahu aku
dapat membuka mesin pencari. Setidaknya bisa jadi gambar dan tentang dirimu
tertangkap mesin itu. Tapi aku tidak mau. Aku tidak ingin memenjara cintaku
pada warna dan bentuk''
Di tempat lain. Di
depan kaca Icut masih terpaku. Pandangannya menembus kaca melintasi bayangan
dirinya, melampaui dinding di balik kaca. Perasaannya bercampur aduk. Ada rasa
senang dan bahagia, ragu yang tak beralasan, ada rindu yang sejenak lagi akan
tumpah, ada rasa takut yang hampir-hampir ditemui alasannya kenapa.
''Aku teringat
Ahmadku pernah berkata gadis-gadis pada iklan shampoo terlihat lebih cantik
saat rambutnya kusut. Ada keteduhan, sifat alami, ada aura diri yang terpancar
saat belum mandi, katamu waktu itu.''
Alasan yang
baik untuk sifat malas mandi bagi setiap wanita yang pasangannya punya cara
pandang seperti Ahmad terhadap wanita.
Rumahnya di
salah satu komplek perumahan di Cunda. Ahmad turun di tempat yang Icut
instruksikan. Ahmad mulai memasuki komplek, mencari nama jalan yang dia
sebutkan. Tidak ketemu. Lelah. Ahmad menemukan masjid yang tampak sederhana di
dalam komplek itu. Dia masuk dan berwudhu. Bagian dalam masjid jauh lebih mewah
dari bagian luarnya. Menemukan masjid yang tidak ada seorangpun shalat fardhu
di dalamnya adalah hal biasa di Serambi Makkah ini.
Pencarian dilanjutkannya.
Insruksi melalui udara terus membimbing Ahmad. Akhirnya dia menemukan rumahnya.
Persis sesuai instruksi. Tidak salah lagi. Ahmad berdiri kaku di depan pagar.
Sudah mendekati jam sembilan. Sedikit berbahaya bertamu pada jam segini di
sini. Apa lagi ke rumah lawan jenis bukan muhrim.
Ahmad
takut dan gemetar. Tentang kondisi di sini. Tentang kondisi hatinya. Dia
gelisah. Semuanya dipertaruhkan di sini, sekarang ini. Sebentar lagi, seorang
wanita yang khayalan tentang segala jenis kecantikan melebihi ratu manapun
terlampaui akan ia jumpai langsung. Hari-hari hanya tidak pernah Ahmad lewati tanpa
berbalas-balas pesan dengan dia. Suaranya sudah sangat akrab ditelinga pemuda
itu melebihi suara induk ayam bagi telingan anak-anaknya.
Pintu pagar bewarna cat
hitam tertutup. Perasaan Ahmad jadi tidak enak. “Kalau tau mau ada tamu kenapa
dia tutup pintu.” Ahmad menggerutu. “Aku ragu. Ragu campur takut.” Tiba-tiba pria
kurus tinggi itu berubah gemetar.
Ahmad
mengoceh sendiri:
“Bagaimana tidak,
aku hanya mengenalnya melalui ponsel. Awalnya kuduga teman-teman yang usil.
Kutelpon langsung. Kudengar suaranya. Kami berkenalan. Katanya umurnya dua
puluh dua tahun. Tapi suaranya yang merdu dan nyaring seperti anak SD. Aku
curiga. Kucobai dia dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan umum tentang logika
matematika standar sarjana, sejauh kemampuanku tentunya. Dia menjawabnya dengan
baik.”
Di
depan pagar ia terus menggerutu:
“Pada perbincangan
kali lain kuajak dia bercerita tentang cinta dan makna kehidupan. Dia mampu
memberi gambar ke dalam imajinasi seindah lukisan Leonardo Da Vinci.
Kata-katanya seindah yang diuntai Kahlil Gibran. Kusimpulkan dia adalah orang
yang memaknai hidup dengan baik. Begitu bersahaja dalam kesehariannya. Dan yang
paling mengesankan dia sanggup jatuh cinta dan berjanji setia selamanya, walau
dengan pria yang belum pernah dia kenal, walau wajahku belum dia tahu.
Bagaimana bila mukaku seperti Asimo kiranya?”
Dalam
ketakutan dan kebimbangan, Ahmad terus mengoceh sendiri:
“Tapi kenapa bila tamu akan
datang gerbangnya tidak dibuka saja. Apa lagi dia tahu aku belum pernah ke rumahnya
ini.”
Ia mengambil ponselnya.
Dikirimnya pesan memberitahukan dirinya telah di depan pintu pagar rumah yang
dia bimbing alamatnya. Lima menit menunggu tak ada balasan. Tidak ada pintu
rumah terbuka dan tidak seorang gadis cantik keluar menghampiri. Coba dia
menelfol, tiada diangkat. Semua perasan berhimpun menjadi takut. Jantungnya
berdetak kencang.
Dalam keadaan seperti ini Ahmad
menengadah ke langit. ''Ya Allah, apakah ini hukuman bagiku? Jauh-jauh datang
ke Aceh untuk menemui pujaan hati, kau beri ujian seperti ini. Kalau bisa
jangan seperti ini hukumannya.''
Seperti
sinetron spiritual untuk anak-anak atau film India, munajatnya pada Tuhan
langsung dikabulkan. Suara pintu rumah dibuka. Ahmad masih membelakangi
gerbang, berdiri di sudut.
Gesekan besi terdengar. Bunyi itu hanya beberapa meter di dekat pria jangkung
itu. Jantungnya terasa copot. Dalam hati Ahmad mengucap “Ya, Allah, dia. Dia ya
Allah, kini dibelakangku. Dia yang wajahnya tidak pernah ingin aku ketahui kini
mendadak hati ini berubah. Kini dia di belakangku. Aku ingin sekali melihatnya.
Konsistensiku untuk tidak mempedulikan wajah dan fisiknya kini buyar sudah. Di
kedalaman hati paling dalam, terkirim doa kepada Allah dengan seketia tanpa
sempat pikiran ini merangkai kata. ‘Ya Allah, semoga dia sangat cantik.’”
''Masuklah.''
Suara itu, suara itulah
yang hampir setiap malam terdengan telinga Ahmad. Di rumah di tingkat tengah
kota Jakarta Ahmad suka duduk setiap malam; mendengar musik di teras lantai dua,
mencari wajah pujaan hatinya di langit setiap malam, menelfon untuk mendengar
suaranya, berkirim pesan saling belajar merangkai kata. Kini dia, yang telah
membuat Ahmad jatuh cinta ada di belakangnya. Ahmad menggerakkan badan.
Menunduk. Perlahan dia menyeret pandangan mulai dari aspal yang menyatu dari
jalan hingga halaman rumahnya. Matanya menangkap sepasang sandal swallow biru
yang ada duri-duri lembut di tapaknya itu. Sandal itu hanya sebagian saja
terlihat, selebihnya ditutupi kain bewarna putih. Perlahan pandangan ia naikkan.
Pelan-pelan menyurusi kakinya yang bersembunyi di balik kain putih. “Baru
seselai shalat dia rupanya.” Ahmad membenak.
Melihat gadis
pujaannya yang rupanya rajin shalat, pikiran Ahmad berkelana jauh.
Ada yang disayangkan dari
sistem pemerintahan Aceh saat ini. Syariat Islam yang diberlalukan tidak
dibarengi pendidikan agama Islam yang baik. Akibatnya lahirlah manusia-manusia
yang gemar menjaga keagamaan orang lain, masjid di kota sendiri menjadi sepi.
Mungkin Aceh di masa depan
akan belaku kasus seperti ini: Sepasang selingkuhan sedang ditaman setengah
badan di bawah terik matahari menunggu mati. Yang menimbun mereka berharap ada
segera yang melempari supaya segera mati. Tapi takkan ada yang mau sebeb semua
orang yang melintasi kasihan pada pasangan itu. Di antara yang berlalu-lalang
akan ada percakapan begini:
''Sistem bajingan seperti apa
sih yang menerapkan hukuman kepada sepasang manusia yang bercintasama-sama suka
lebih hina daripada cara kerja mamalia liar?''
Ini akan berlaku karena
orang Aceh nanti tidak akan ada lagi yang memahami Islam karena pendidikan
tidak pernah lagi memperkenalkan hakikat agamanya kecuali perangkat peraturan
hukum formal yang wajib diikuti secara paksa, suka tidak suka.
Bukankah pelajar sekarang
sekolah dari pagi sampai senja dan malam dijajal tugas-tugas sekolah yang luar
biasa menyita waktu. Kapan pula pelajar sempat berkenalan dengan agama. Dalam
kurikulum sekolah, belajar agama hanya sebatas informasi bahwa agama itu begini
dan begini. Padahal, agama itu untuk diamalkan, bukan sekedar diketahui.
Pengamalan agama meniscayakan pembiasaan melalui tindakan, bukan penjajalan
konsep.
Masjid-masjid
besar-besar dan mewah di Aceh, tapi jumlah jamaahnya dapat dihitung jari. Tidak
jarang muazzin harus mengurungkan ritual shalat beramaah karena bukan hanya
karena jamaah saja tidak datang, tetapi imam sekalipun berhalangan, tersangkut
pembicaraan akut mengenai persoalan politik di warung kopi beberapa puluh meter
dari masjid. Sering kali pula masjid-masjid mewah di Aceh harus bisu kecuali
maghrib sebab muazzin sendiri sudah malas mengkumandangkan azan sementara
teriakannya tidak ada yang mengindahkan.
Belum sempat pandangan
mencapai wajah Cut Nyak, suara sepeda motor di belakang Ahmad menghentakkan
jantung. Dia terkejut hebat. Segera ia menoleh ke belakang. Dua pemuda menatap
sinis ke arah tamu itu. Memelankan motornya setelah di gas kencang. Ahmad sadar
itu upaya supaya dia menoleh. Mereka menatap Ahmad lekat-lekat. Wajah seram
dengan mata menantang ditujukan ke arah Ahmad. Lalu mereka berlalu.
Saat Ahmad menolehkan
kembali wajah tertangkap olehnya sebuah wajah. Ishwarya Rai pecah
berkeping-keping menjadi abu lalu terbang mengikut udara. Cahaya wajah Madonna
ciut keriput seperti selembar kerta yang diremas, lalu terbakar. Juga jadi abu
dan lenyap bersama udara. Cinta Laura cepat-cepat anjak kaki lari
terbirit-birit sebelum bernasib serupa Madonna dan Aishwarya Rai.
Ahmad tidak sanggup mejaga
wibawanya. Mulutnya melebar. Bola mata pria itu melotot seakan mau copot. Gadis
di hadapanAhmad senyum saja. Kedua sisi bibirnya menempel dan melebar. Warnanya
pink. Ahmad memeriksa memalui cahaya lampu jalan tepat di atas mereka. Tidak
bergincu rupanya. “Pink alami. Ah, sulit kupercaya. Di tanah tempat aku besar
di tengah-tengah lautan ilmu pengetahuan, belum pernah kulihat wanita secantik
ini. Sepasang alis tebal yang menghiasi kedua bola matanya yang hitam pekat
serentak naik ke atas.” Ahmad berkata dalam hati.
''Kenapa bengong?''
Ahmad tidak sempat peduli
kata-kata gadis itu. Dia hanya mempelototi bidadari di hadapannya yang begitu
putih. Sangat kontas dengan warna bola mata yang pekat.
Gadis yang
tingginya hanya kuran sekitar lima centimeter dari pria jangkung dihadapannya
merubah ekspresi wajah. Menarik nafas. Memperhatikan kembali wajah Ahmad. Liur
Ahmad hampir meleleh, tak sempat ia pedulikan. Perlahan dia mendorong kedua
siku pria yang selalu menggodanya melalui pesan singkat yang kini tepat
dihadapannya yang telah dari tadi di pintu pagar. Dia membuka pintu pagar yang
kecil.
''Minum
apa?''
Menawari
munuman di pagar?
''Kamu''
jawab aku.
''Hah?''
Ahmad kaget.
''Boleh masuk?''
''Harusnya dari tadi.''
Icut berbalik.
Lalu menghilang melalui pintu rumahnya. Ahmad melangkahkan kaki. Sempat ia
melirik ke belakang. Dua pemuda tadi ternyata mengamati dirinya dari gelap di
kejauh.
Duduk di teras
rumahnya yang mungil, Ahmad berfikir: “Ya Allah, tiada kusangka dia secantik
itu. Kalau dia Kau hadiahkan menjadi pendampingku, semuanya cukup bagiku. Aku
tidak lagi akan mempedulikan cita-citaku. Kan kulupakan mimpi-mimpiku yang di
luar batas kewajaran umum.”
Ahmad
mengomel dalam hati:
“Dia lama
sekali keluar. Mana minuman yang ia tawarkan tadi.”
Di dapur Icut melihat mie instannya telah
membengkak. Tidak mungkin di makan lagi, pikirnya. Icut mendengar suara bising
iring-iringan sepeda motor. Dari dapur dia memanggil Ahmad.
''Abang, Mas,
Kakanda, Cut Bang. Panggilan apapun kau harus kupanggil. Masuklah. Di luar
dingin. Masuklah. Masuklah.''
Ahmad tidak mengindahkan
perintahnya walau ia dengar jelas apa yang Icut teriakkan.
“Mana berani aku masuk. Baru datang pertama
kali. Ke rumah wanita pula. Di Aceh lagi.” Benak Ahmad.
Ahmad was-was.
Panik. Menggerutu. “Kenapa tidak dia keluar dan memintaku masuk. Kenapa harus
menjerit-jerit.”
Dalam keadaan
serba tak menentu, tiba-tiba ''ckriiink''. Ahmad melihat ke kaca jendela di
belakangnya, agak sedikit di atas kepala. Hanya sepuluh sentimeter dari kepala
Ahmad. Kaca jendela itu berlubang. Tidak sempat berfikir anehnya batu atau
apapun yang menembus kaca hitam itu tamu ganjil bagi pandangan msyarakat Aceh
itu bergegas masuk.
Ahmad duduk di sudut
ruang tamu. Dia memperhatika Sebuah tivi
enam belas inci di depannya. Lantainya dilapisi karpet tebal yang lembut. Icut
datang menghampiri. diperhatikannya lagi bidadari itu. “Kukira gadis secantik
dia di dunia ini cuma satu. Sempurna.” Bisik Ahmad dalam hati.
Icut melongoh keluar. Lalu masuk
ke kamar depan yang kecil. Rumah ini cuma punya dua kamar. Kamar depan milik
Icut seukuran ruang tamu. Kamar satunya lagi tertutup rapat. Pintu kedua kamar
itu berdekatan Di belakang ada dapur. Ahmad dapat melihat sebuah kamar
mandi dari dekat dapur dari tempat dudukkunya. Icut mencari poselnya. Dengan
ekspresi tampak panik, Icut memainkan jarinya di ponsel. Tampaknya dia sedang
mengirim sebuah pesan. Ahmad menduga seperti itu. Tapi ia tak tahu kepada
siapa.
Icut menghampiri Ahmad dan
mengajak duduk di dapur. Sambil berjalan Ahmad sempat melirik ke lantai dekat
pintu kamar depan yang baru saja dimasuki Icut tadi. Astaughfirullah! peluru.
Rupaya tadi adalah suara kaca yang ditembusi peluru. Ahmad sempat heran kenapa
peluru itu bisa di sana. Peluru di dunia nyata memang beda dengan peluru di
film. Peluru di film bahkan tidak mampu menembus pintu mobil. Namun di dunia
nyata, peluru jauh lebih ganas. Ketika masa penuntutan referendum, masyarakat
di seluruh penjuru Aceh yang hendak ke Banda Aceh dapat melihat peluru
menembusu pintu belakang dump truk yang super tebal sekaligus pelat dinding
belakang kemudi hingga bersarang di setir bagian tengah.
''Setahuku Aceh sudah
aman'' bisik Ahmad dengan nafas terengah.
Tangan kanan Icut
diangkat. Telunjuk membentuk garis vertikal menyilang bibirnya yang merah jambu
tipis. Melotot kearah Ahmad. Persis seorang ibu yang menakuti anaknya untuk
tidak berisik. “Aih, aku semakin cinta padanya. Meluap-luap. Rasanya mau
terbang. Ah, dalam situasi menegangkan seperti ini aku masih sempat kasmaran.”
Ahmad membatin.
''Intan rupanya
sudah pulang ke Lhoksukon.''
Intan
adalah adik Icut. Mereka tingga berdua di rumah itu. Ahmad kenal intan melalui
komunikasi mereka lewat ponsel.
“Oh, tidak. Berarti aku
sedang berdua dengan lawan jenis bukan muhrim dalam sebuah rumah. Di Aceh!
Gawat.” Ahmad semakin panik. Mau permisi segera pulang tidak mungkin. Peluru
itu jelas mengancamnya. Setidaknya menyampaikan sebuah pesan.
Icut melakukan kebodohan
dengan bergegas ke ruang depan. Ahmad tak tahu apa yang akan dia lakukan. Belum
tiba Icut di pintu muka. Tiba-tiba mereka tidak bisa melihat apa-apa. Semuanya
jadi gelap. Seseorang menarik tangan Ahmad dengan hampir sekuat tenaganya, tapi
terasa pelan baginya. Tangan Ahmad terus diarahkan ke tempat yang tidak ia
ketahui. Semuanya masih gelap. Tapi Ahmad bisa merasakan badannya telah berada
di halaman rumah.
“Saat pemuda kampung mengintai,
malah perempuan ini mematikan semua lampu rumahnya.” Pikir Ahmad “Apa mahunya?
Mau dia bawa ke mana aku?” Ahmad semakin
ketakutan. Ahmad mengira Icut yang mematikan saklan di meteran listrik.
''Mana sandalmu. Raih alas
kakimu'' bisiknya pelan.
Ahmad semakin panik. Dia raba-raba
lantai. Ditemukan sebelah. Meraba-raba lagi, sebelah lagi. Digenggamnya sepatunya
dengan tangan kanan. Sementara siku kirinya masih disetet. Digenggam kuat. Ahmad
merasakan lembut telapak tangannya. Beberapa kali siku kiri Ahmad tersapu
bajunya. Terasa oleh Ahmad badannya samping kanan. Ahmad rasa ingin terbang.
Bahagia rasanya, tapi ingat dosa. Lagi pula gadis secantik ini, setelah
dinikahipun, enggan rasanya menyentuh. Dia seperti mutiara dasar laut yang
tidak boleh terjamah tangan manusia.
Ahmad
berusaha memahami maksud gadis yang ia cintai itu. Dalam sedetik terlintas
seribu kemungkinan maksud rencananya. Perempuan Aceh memang punya banyak
tak-tik. Tidak heran bila Malahayati, Cut Nyak Dhien dan Cut Meutia mampu
menjadi panglima sekaligus konseptor perang. Empat perempuan secara
berturut-turut juga pernah menjadi pengusa kerajaan besar, Aceh Darussalam. Itu
mereka yang terekam sejarah. Mungkian ada ribuan yang tidak tertera di kertas,
salah satunya adalah yang sedang di dalam gelap bersama Ahmad ini, Cut Nyak
Meutia Rahmah.
Dari sekian
kemungkinan, maka Ahmad keluar perlahan melewati gerbang dan langsung menjauh
dari pagar rumah ini adalah kemungkinan terbesar. Maka dia mencoba melepaskan
pegangan Icut. Ahmad akan menuju pintu pagar dan pergi. Gadis cantik ini
melepaskan pegangannya. Ahmad mencoba memasang sepatu di kakinya. Sebisanya.
Dalam gelap Ahmad meraba-raba menuju pagar. Dari sedikit lampu depan rumah
tetangga samar dia melihat sesuatu yang putih dari arah jalan menunu
pagar. Ahmad jadi merinding. “Rupanya ada hantu juga di komplek perumahan
ini. Ahmad ketakukan, ingin lari kembali ke dalam rumah malu pada Icut yang
masih belum jauh darinya.
Sebelum meraih pintu
pagar hantu itu terlebih dahulu meraih pagar. Terdengan bunyi pintu pagar
terbuka. Ini bukan hantu. Hantu masuk tak perlu buka pintu. Sosok dalam gelap
itu langsung menyosor masuk, melubruk Ahmad. Dia hampir terpental ke belakang.
Sosok berbaju putih ini ikut terkejut. Hantu masak bisa terkejut.Seatus persen
bukan hantu.
Lelaki berbaju putih
yang melabrak Ahmad dan berpekik ''Kenapa lampunya dimatikan''.
Beberapa orang
tinggi besar yang ternyata mengikuti dibelakang sosok baju putih menuju
teras rumah. Salah seorang di antaranya berjalan meraih saklar amperemeter
listrik. Seketika seluruh isi rumah terang benderang. Sebiji lampu teras mampu
menerangi seluruh halaman rumah yang memang tidak luas itu.
Barulah tampak lelaki baju
putih di samping Ahmad secara jelas. Kumisnya pendek, tegang, tidak begitu
lebat. Tubuhnya jauh lebih pendek dari Ahmad. Baju putihnya adalah teluk
belanga, baju shalat kerah cina. Dia mengenakan sarung biru. Ternyata pria di
teras yang tinggi tegap jumlahnya lebih banyak dari yang diduga Ahmad
sebelumnya, jumlah mereka sekitar enam orang. Seragam mereka seperti satpol PP,
tapi warnanya seperti setelan bawah PDH TNI. Salah satu diantara mereka
bersepatu ada garis putinya, provost. Beberapa diantara mereka mengarahkan
pandangan ke arah pagar. Mencari-cari Ahmad. Dua di antara mereka
langsung ke arah sasaran mereka. Tapi menjaga jarak karena segan dengan
sosok baju putih di samping Ahmad. Empat lainnya bersiaga di depan pintu rumah
yang ternganga. Mereka bersigap seperti akan menangkap kucing pencuri ikan
jatah makan Ayah.
Ahmad melirik kiri
kanan dan belakang. Cut Nyak hilang entah ke mana. Kemudian sesosok berbaju
motif sama dengan lelaki di samping Ahmad tapi warnanya hijau datang dan
langsung berdiri di hadapan Ahmad. Dia menatap ke arahnyaku. Pria ini lebih
pendek lagi, tapi lebih gemuk. Kulitnya cokelat hampir dapat dikatakan hitam.
Kumisnya lebih panjang. Di belakang dia, menyusul dua orang wanita berjilbab
seperti warna seragam enam pria tinggi tegap itu. Baju dan rok mereka bewarna
sama. Kedua perempuan itu umurnya mungkin tidak lama telah melawati empat
puluh. Tinggi mereka berdua hampir sama, tidak lebih seratus lima puluh. Kalau
telanjang, pastri kulit perut keduanya tampak berlipat seperti handuk di dalam lemari.
Keduanya berwajah
hampir sama, gaya berdiri mereka juga sama, serentak. Hidung mereka kembang,
tapi agak panjang, alis mereka tebal, tapi agak pendek. Alis mata keduanya panjang
dan lentik mengingatkan pada mata anjing yang dikuliti hidup-hidup di Youtube.
Mereka serentak melintas di depan Ahmad, sama-sama melirik ke atasnya,
sama-sama melempar senyum dengan pesan: rasakan, emang enak berdua-duaan dengan
perempuan, pakai matikan lampu lagi.
Kedua perempuan itu masuk ke
dalam rumah begitu saja. Ahmad tidak tahu apa yang mereka kerjakan, pastinya
mereka bukan petugas LPG yang akan memperbaiki tabung gas punya pemilik rumah.
Lelaki berbaju shalat
hijau mengajak baju putih ke satu sudut, agak masuk ke dalam garasi yang memang
terbuka lebar. Sebuah sepeda dan sebuah motor masih terlihat meski lampu garasi
tidak dinyalakan.
Setelah kedua pria paruh
baya itu bercakap-cakap beberapa saat, baju hijau memanggil pasukan itu. Dua
orang pria tinggi besar mendekat.Terlintas dalam pikiran Ahmad untuk segera lari.
Itu sangat mudah baginya. Pintu pagar terbuka, dia dekat dengannya. Kalau lari
keluar Ahmad hanya perlu terus lari ke arah timur, setelah menjumpai
perempatan, tinggal belok kanan, seratus meter langsung jumpa jalan negara.
Tapi itu tidak ia lakukan. Ahmad merasa
masih laki-laki. Lari dari masalah seperti ini adalah lebih memalukan daripada
bercerai sepuluh kali. Ahmad tidak ingin putus hubungan begitu saja dengan Cut
Nyak. Dia benar-benar telah jatuh cinta padanya lama sebelum kali pertama
melihat gadis Lhoksukon itu yaitu malam ini.
Ahmad segera di bawa ke
masjid komplek. Dusuruh berwudhu, lalu berdiri di hadapan masjid.
''Shalat Isya' dulu'' kata baju hijau.
Ahmad sudah shalat
Isya' tadi. Di sini juga, di masjid ini. Tapi tidak berani membantah, dia masuk,
shalat sunnat wudhu dua rakaat lalu keluar lagi.
''Kenapa sepat sekali''
''Dua rakaat'' jawab Ahmad.
''Kenapa dua rakaat?''
''Sudah shalat Isya' tadi''
Salah seorang tinggi tegap
menghampiri. ''Ouw. Sebelum berzina shalat dulu, hahaha.''
“Masih lumayan. Daripada
kalian. Bikin masjid besar-besar, jangankan untuk shalat berjamaah, suara azan
saja tidak terdengar.” Tentu dalam hati Ahmad
saja.
''Siapa nama?'' salah satu
tinggi tegap membentak.
''Ahmad'' jawabnya santai.
Dalam
kondisi seperti ini kiranya sangat memalukan Bagi Ahmad menyebutkan nama
lengkapnya. Dia teringat sikap ayahnya waktu kecil dulu.
''Apa pekerjaan?''
''Jualan, Bang.''
''Jual apa?''
''Pakaian, Bang.''
''Di mana?''
Menurut pikiran Ahmad
laki-laki ini waktu kecil ingin menjadi Polisi bagian penyidik. Atau setelah
SMA dia bercita-cita ingin menjadi wartawan.
''Keliling. Saya pedagang keliling.''
Ahmad
berfikir:
“Kukira jawabanku sudah cukup
dan tepat. Tidak perlu mengatakan pekerjaan sampingan sebagai mahasiswa
pascasarjana, apalagi mengumumkan jurusan Filsafat Universitas Paramadina. Ini
hanya akan merepotkan diriku dan membuat mereka bingung. Lagi pula mahaswa
pascasarjana lainnya juga akan bingung kalau ada mahasiswa pascasarjana yang
menjadi pedagang keliling, apalagi jualan pakaian dalam.
Pernah sewaktu seseorang
menolongku aku mengatakan kulian jurusan Filsafat. Saat dia menanyakan
‘Filsafat jadi apa?' aku sempat kebingungan juga. Mengatakan ingin jadi filosof
akan memperbesar persoalan. Pertanyaan akan semakin banyak lagi. Maklum saja,
masyarakat sekarang sudah sangat cerdas. Mereka punya orientasi yang jauh ke
depan. Mereka sadar semua orang hari ini harus menentukan hidup mereka di masa
depan. Seorang mahasiswa Keguruan mesti menjadi guru. Mereka tahu betul
mahasiswa Kedokteran akan menjadi dokter. Mereka pahan jurusan Pertanian tidak
menjadi petani. Tapi mungkin tidak semua dari mereka tahu bahwa sastrawan
sangat jarang dari jurusan Sastra.”
Dua orang pemuda
berpakaian biasa masuk pekarangan masjid. Mereka mengobrol dengan para pemuda
tinggi tegap. Tampaknya mereka sedang melakukan suatu negosiasi. Dapat diketahui
Ahmad dua orang pemuda itu adalah di antara para pemuda yang mondar-mandir di
depan rumah Icut sedari Ahmad tiba.
Seusai mengobrol dengan
pemuda tinggi tegap dua orang pemuda itu pergi. Ahmad diminta masuk masjid.
Rupanya Icut telah dahulu berada di dalam masjid. Dia dikawal dua perempuan
pegawai pemerintah yang tadinya ikut ke rumah Icut. Mereka didudukkan
bersandingan. Menghadap dua orang laki-laki. Keduanya memakai baju teluk
belangan. Yang satu putih, satunya lagi hijau. Keduanya membelakangi mimbar masjid.
Beberapa ayat Al-Qur'an
dibacakan. Lalu hadits-hadits Nabi Saw. Semuanya yang menyinggung tentang
larangan dan bahaya zina. Ahmad dan Cut Nyak telah divonis bersalah. Kepada
Icut dikatakan orang tuanya telah dihubungi tapi ayahnya ngotot tidak mahu
datang. Ahmad sendiri masih menikmati drama khas tanah airnya. Sedari tadi
pikirannya hanya diliputi kekaguman. Bagaimana tidak. Mendatangi rumah teman
perempuan, lalu diintai beberapa pemuda, kemudian diteror dengan senapan canggih
yang memiliki penyadap suara dan berakhir di masjid.
Setelah bercakap-cakap
dengan rekan disampingnya, lelaki berbaju putih mengatakan pada calon pengantin
dadakan itu bahwa mereka harus dinikahkan. Seribu pertanyaan masih ingin diajukan
Ahmad sebulum keputusan gila ini dijatuhkan pada mereka.” Siapa wali
nikahnya? Bukankah ini sama seperti menculik anak orang?” Di luar,
warga yang datang semakin berduyun-duyun. Rupaya kejadian ini telah merambah ke
seluruh kompleks, bahkan mungkin seluruh kota Lhokseumawe.
''Untuk menjadi obat. Pasangan
ini harus dimandikan dahulu'' kata baju putih.
“Ah, anggap saja ini mandi
taubat.” Bisik batin Ahmad pada diri sendiri. Icut tampak ketakutan. “Bagaimana
tidak, dia harus menikah dengan lelaki yang baru kali ini ia jumpai. Tipe
hukuman seperti ini memang sangat aneh. Saking anehnya patut masuk kedalam rekor
sepuluh hukuman paling aneh di dunia dan menduduki peringkat satu.” Membatin
Ahmad.
Meski Ahmad melihat
model hukuman seperti sangat aneh, sebenarnya dia sendiri sudah dapat
memakluminya. Namun ketika harus mengalami sendiri, peristiwa ini memang
membuatnya terkecengang. Bahkan Ahmad pernah mendengar cerita orang yang sedang
hamil karena berzina dinikahkan dengan lelaki yang menyetubuhinya saat dia
bunting. Inilah kejadian paling membingungkan di dunia. Padahal orang hamil
tidak sah dinikahi oleh siapapun. Kalau begini, orang yang sudah berzina
diperzinai lagi terus menerus dengan menikahkannya saat bunting. Ini baru
hukuman paling dahsyat. Ada lagi yang lebih unik. Ada perempuan yang setelah
bunting dinikahkan oleh orangtuanya dengan pria lain dengan maksud menutupi
aib. Bahkan ada anak seorang imam di sebuah desa yang Ahmad telah lupa di mana,
anaknya ketahuan main belakang dengan pemuda tetangganya. Uniknya, posisi sang
imam tetap aman. Dan sang imam masih menjadi juru khutbah Jum’at alternatif di
kampungnya bila juru khutbah dari kampong kain berhalangan.
Tidak pernah berlaku hukum
rajam atau cambuk seratus kali bagi para pezini di sini. Setidaknya setelah Indonesia
berdiri. Mungkin hukuman seperti ini pernah diberlakukan pada masa kerajaan
Aceh Darussalam masih ada. Bila ada kasus rajam atau cambuk seratus kali karena
berzina maka itu adalah kejadian paling aneh di muka bumi. Bayangkan, kesaksian
hanya dapat diterima dari empat orang laki-laki dewasa yang dapat diterima
kesaksiannya, antara lain karena baiknya keagamaannya, karena kefakihannya.
Tapi mungkinkah empat orang fakih sekaligus sempat menyaksikan daging masuk ke
dalam daging dengan mata telanjang? Empat orang! Kalaupun mereka sempat melihat
adegan daging masuk ke dalam daging itu terjadi, tanpa mereka mencegahnya, maka
itu artinya mereka tidak memiki kefakihan: maksiat dibiarkan terjadi begitu
saja.
Sekalipun tidak pernah kuliah di jurusan
Syari’ah, Ahmad tidak sepakat dengan persaksian empat fakih diganti dengan alat
bukti rekaman video. Karena, dia yakin kamera video bisa dimodifikasi. Ahmad
yakin maksud saksi harus empat orang fakih maksudnya adalah untuk menghindari
perzinaan. Karena menurut pikirannya, mustahil empat orang fakih akan
membiarkan aksi dosa besar itu itu dilakukan tanpa mencegahnya. Dan mustahil
aka nada empat orang fakih sekaligus menyaksikan orang yang sedang memasukkan
daging ke dalam daging.
Akhirnya para calon
pengantin itu dibawa keluar oleh dua pemuda tinggi tegap. Di luar masjid warga
lebih ramai dari yang kubayangkan. Pemuda-pemuda tegap itu hanya mengantarkan
sampai pintu masjid lalu kembali pada baju putih. Cacian dan makian tidak
henti-hentinya keluar dari mulut warga. Ahmad terus beristighfar di dalam hati,
memohong diberi ketenangan, ketabahan dan kesabaran, terutama menghadapi
masyarakat yang sedang emosi itu. Dan Ahmad yakin sebagian mereka yang memaki
tidak shalat subuh hari ini dan esok hari. Padahal, menurut Ahmad, dosa
meninggalkan satu satu waktu shalat sama dengan berzina tujuh puluh kali.
Ahmad dan Cut Nyak diberdirikan
berdampingan. Tiba-tiba Ahmad merasakan sesuatu membasahi badannya di mulai
dari kepala. Beberapa detik kemudian keluar bau busuk dari cairan yang
disiramkan ke badanku oleh beberapa pemuda kampung. Rupanya Icut juga
diperlakukan sama. Warga yang menjadi penonton bersorak riuh.
Kaleng tempat oli
dipotong setengah. Dengan paku ditempelkan pada tongkat kayu, air dari comberan
diambil. Cairan parit perumahan tentunya didominasi air seni. Dengan itu
comberan parit terus disiramkan pada dua pengantin anyar itu. Ahmad teringat
hadits Nabi Saw. Perkara pertama yang dipersoalkan setelah mati adalah kencing
yang melekat di badan. Rupaya jenis hukuman di sini memang neraka. Selain
memperzinai dengan cara menikahkan perempuan buntung, mereka juga melumuri
kotoran kencing ke badan orang.
Cut Nyak tampak begitu tegar.
Wajahnya tidak memperlihatkan dia takut atau gusar. Bahkan tampak dia menikmati
fitnah itu. “Bakal istriku sangat kuat mentalnya” bisik Ahmad dalam hati.
Setelah dimandikan dengan
comberan mereka diangkut dengan mobil patroli. Pada kaca depan mobil itu
tertera tulisan instansi penegak hukum Islam . Sepasang calon pengantin itu
digelandang ke markas instansi penegak Islam milik pemerintah. Sejatinya
instansi itu sama dengan polisi pamong praja yaitu untuk mengawal penegakan
peraturan daerah. Namun peraturan daerah di Aceh disebut dengan ‘syari’at’.
Mereka duduk di atas kursi yang saling membelakangi di belakang. Tiga orang
pemuda tegap duduk di depan, satu menyupiri. Satu lagi duduk dibelakang. Empat
pemuda kampung ikut serta. Dua membonceng mobil patroli yang mengangkut mereka
dan dua orang lagi menyusul dengan sepeda motor.
Setiba di markas
mereka dimasukkan ke dalam sel. Icut dimasukkan ke sel sebelah. Ahmad dalam sel
sebelahnya lagi. Di depan dua ruang tahanan ada sebuah meja bewarna cokelat.
Setelah mennjebloskan mereka dan mengunci pintu jeruji, salah seorang pemuda
tegap yang kini dapat dilihat jelas oleh Ahmad berbaju hijau memasukkan kunci
itu ke dalam laci meja cokelat itu. Kemudian dia sendiri berlalu
pergi. Satu orang pemuda tegap lainnya berbaju bewarna sama ke
balik meja langsung duduk. Dia langsung merebahkan kepada di meja. Lalu
tertidur? Dua pemuda kampung tampak duduk di dua kursi menghadap meja. Dua
lainnya sedang di luar. Tiga aparat lainnya keluar. Lenyap dari pandangan
Ahmad.
''Abang tidur saja. Walau
mereka ini telah diserahkan kepada pihak Abang, kami tetap bertanggung jawab
akan mereka.'' suara salah seorang pemuda kampung berbaju merah didengar aparat
di seberang meja.
Dia kembali
mengangkat kepala. Wajahnya sangat kusut. Menguap lebar. Aparat ini paham
maksud pemuda kampung itu. Masalah besar yang sifatnya klasik bagi mereka
adalah warga. Warga tidak serta merta melepaskan pelaku maksiat meski lembaga
resmi negara untuk menangani itu telah didirikan. Bagi warga, para pelaku
maksiat adalah mangsa. Jadi mereka punya kuasa penuh. Para petugas negara paham
itu. Jadi personil aparat ini tidak mau ambil pusing. Dia mengantuk. Jadi lebih
memilih menempelkan pipinya di meja. Tidur lagi.
Sama seperti aparat yang
tertidur di meja itu, Ahmad juga sangat mengantuk. Dia lebih parah, kedinginan
pula. Air comberan masih terasa lengket. Tidak hanya dingin, badannya juga
gatal-gatal semua. Ahmad pasang telinga. Tidak terdengar suara Icut. Mungkin
dia kelelahan juga.
Dingin dan lelah
mengalahkan gatal badan Ahmad. Apa pikir lagi, shalat isya sudah. Dia tertidur
di sudut ruang sempit itu.
Ahmad baru terbangun
pada jam yang tidak ia ketahui. Dia perhatikan ke balik jeruji besi. Empat
pemuda kampung tertidur di depan meja. Posisi mereka tidak beraturan. Mungkin
kelelahan juga. Ahmad perhatikan ke balik meja. Ternyata seorang petugas yang
tadinya tidur di kursi telah terlentang dibalik kursi. Dia terbaring dekat
dinding. Masih setengah sadar, terdengar sayup suara wanita meangis lirih. “Icut,
istriku”, benak Ahmad. “Ternyata Cut Nyak Dhien itu rapuh juga. Uratkuratku
masih sangat lemas. Kepala juga pusing. Badan menggigil.” Beberapa saat Ahmad
tertidur lagi.
Saat dari balik jeruji cahaya
matahari yang masing merah jambu Ahmad terbangun lagi. Dia
memanggil-manggil petugas. Dia tertidur pulas. Kelima laki-laki itu masih dalam
posisi seperti Ahmad terbangun sebentar tadi.
''Bang...bang...bang....''
Ahmad menanggil,
berharap siapa saja dari lima pria itu bangun dan memberikan kompensasi supaya dia
diizinkan ke kamar mandi untuk membersihkan badan. Dia panik karena belum
shalat subuh.
''Bang...bang....''
Suaranya semakin deras.
Sambil menggedor-gador jeruji. Suara Icut tidak terdengar lagi. Mungkin dia
kelelahan dan tertidur.
Salah seorang pemuda
kampung yang tidur paling dekat dengan pintu jeruji Ahmad, terbangun. Wajahnya
lembab, oh, bukan hanya karena tidur di lantai tak beralas, bentuk mukanya
memang tembem. cocok untuk postur tubuhnya yang agak bulat. Matanya melotot.
''Aku mau shalat subuh, Bang.''
Ahmad berharap dia dapat
membantu membangunkan si aparat di balik meja dekat dinding itu.
Lalu dia bangun. Berjalan
sempuyungan ke arah meja. Dia menarik laci dari balik meja. Tangannya yang
dilapisi kulit hitam merogoh. Seketika dia menemukan sekarangan kunci. Tanpa
kesilitan dia langsung dapat memilihkan kunci bagi pintu jeruji Ahmad. Dia
membuka sel Ahmad.
''Awas kalau lari'' bentaknya.
''Kamar mandi?''
Pria yang terlalu gemuk
bagi ukuran sependek itu menunjuk ke arah depan. Ahmad segera melangkah, lalu
belok kanan. Sambil berjalan terasa ada yang ganjil baginya. Apa? Setelah
mengguyur badan ke sekujur tubuh Ahmad kembali masuk sel. Setelah shalat dengan
pakaian basah, masih dalam posisi tahiyat akhir, timbur rasa heran: kenapa si
gendut hitam itu langsung tahu tempat kunci diletakkan? Kenapa dia deberani itu
merogoh laci? Kenapa tidak membangunkan petugas? Aku kaget, merinding: kenapa
dia langsung tahu kunci pintu jerujiku dengan sekali pilih? Si Gentut kembali
merebahkan diri di lantai setelah kembali mengunci pintu selku. Ahmad sangat
yakin si gendut itu tidak di dalam saat aparat memasukkan kunci ke laci meja.
Ahmad sempat melirik ke
arah jeruji Icut saat berjalan kembali ke selnya. Hanya kakinya yang dititupi
rok basah kelihatan. jerujinya tidak semencolok punya Ahmad. Punyanya agak
tertutup dinding bagian depannya. “Aku harap dia baik-baik saja.” Desah Ahmad.
Menjelang siang mereka
diangkut ke masjid komplek perumahan Cunda setelah menyelesaikan beberapa proses
administrasi di kantor polisi syariat tadi. Di masjid para tetua kampung sedang
berdiskusi, bahkan berdebat. Lurah setempat memaksa mereka harus dinikahkan.
Para ulama setempat agak keberatan. Alasan mereka ayah atau wali Icut tidak
turut serta.
''Bisa diwakilahkan''
suara Lurah meledak sambil menghentakkan kaki di lantai masjid. Imam masjid
mengambil keputusan. Tampak terpaksa dan tertekan, imam mendudukkan mereka.
Sebuah bantal berlapis kain batik di hadapan. Di atasnya ada sebuah mushaf,
masih baru. Sampulnya warna merah. Ada gambar ka'bah.
''Untukmu'' Lurah itu melirik Ahmad
lalu melirik mushaf itu. ''Dan itu mushaf sah menjadi milikmu.''
Tubuh kursnya
meliuk-liuk ke kiri dan ke kanan. Dia mengenakan baju putih. Diperkirakan masih
teluk belanga tadi malam. Matanya terus dipejamkan. Zikir yang ia bacakan
semakin kencang.
''Siapa nama lengkap ayah gadis
disampingmu?'' imam itu mencondongkan wajah ke arahku. Matanya masih merem.
Aku melihat ke arah Cut Nyak Meutia
Rahmah.
''Muhammad Yunus'' setengah membisik
Icut menatap Ahmad.
Matanya masih merah,
berkaca-kaca pula. Sedari berangkat dari kantor penegak peraturan daerah yang
di Aceh disebut ‘qanun’, Icut terus menangis lirih. Ahmad heran. Kenapa tadi
malam dia tidak menangis. “Mungkin seperti menggigit capai, perlu waktu sampai
terasa pedas” pikir Ahmad
Berhenti berzikir, mata masih
dipejamkan diulurkan tangan kanan imam itu ke hadapan Ahmad. Spontan, pria
mandi comberan tadi malam itu meraih jari-jari kakek itu yang hanya tulang dilapisi
kulit. Sempat Ahmad melirik sekitar. Beberapa kaum ibu melihat cemas. Tidak
seorangpun dikenal dua mempelai itu. Imam langsung berujar.
''Saya nikahkan Nyak Cut Meutia
Rahmah binti Muhammad Yunus kepada Kamu dengan mahar satu mushaf Al-Qur'an.''
''Saya terima Nyak Cut Meutia
Rahma binti Muhammad Yunus untuk saya dengan mahar sebuah mushaf.''.
''Sah? Sah?'' Imam melirik
kanan dan kiri.
Lurah dan lelaki berbaju
hijau tadi malam sekalian mengangguk dan bersisik ''sah''
Imam melepaskan tangan
Ahmad. Ketiganya menegadahkan tangan. ''Alhamdulillaaaah''
Pecah tangis Icut. Jantung
Ahmad tertikam. Ulu hatinya tertusuk mendengan jerit istrinya. Saat itu Ahmad
berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan menggauli dirinya sampai dia setuju,
sampai dia mahu. “Bahkan sampai ayahmu mengaku”, Ahmad menanamkan kalimat itu
ke dalam batinnya.
Setelah
khutbah petuah nikah disampaikan pada mereka yang dua intinya yakni makna
'sakinah' dan anjuran untuk bertaubat. Di luar masjid para pemuda memerintahkan
mereka keluar kampung dan jangan kembali. Icut minta izin ke rumah untuk
mengambil beberapa barangnya. Di rumah telah ada beberapa pemuda yang mencegat.
Setelah menjelaskan hanya ingin mengambil barang saja, Icut dibolehkan masuk.
Para pamuda yang menunggu di hadapan rumah tersenyum angkuh ke atas Ahmad yang
ikut serta ke rumah. Ahmad menundukkan kepala.
Tidak lama Icut keluar dengan sebuah tas hitam dijinjingnya. Ahmad meraih tas
itu.
''Kami mohom Izin. Maaf saya
kepada semua telah membuat malu kampung ini'' Ahmad membungkukkan badang ke
hadapan para warga.
Mereka melangkah ke jalan
raya. Menumpang angkutan umum minibus. Mereka bertujuan ke Bireuen. Di
Perjalanan Icut memberitahu bahwa dia bergegas ke depan sebelum lampu padam
untuk menjaga meteran listrik. Tapi dia terlambat, katanya. ”Belum sempat
keluar pintu lampu telah padam.” Dia langsung masuk kamar depan, katanya.
Lhokseumawe, 17 Februari 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar