Rabu, 11 Mei 2016

HITAM MANIS

Hitam manis         
si hitam manis
yang hitam manis
pandang tak jemu
si hitam manis pandang tak jemu
hitam manis
hitam manis
            Ahmad menyanyikan lagu sendu lama itu secara tak beraturan bukan karena tidak beralasan. Dia punya alasan:
Balas berbalas pesan singkat seperti ini:
''Apa kamu Mirip Twinkle Khanna, ya? Kadang saya membayangkan kamu mirip Rafeena Tandon. Tentunya kamu lebih cantik dari Aishwarya Ray. Kuduga kau mirip Madonna: Tentu saja waktu dia masih muda.
            ''Apakah kamu sedang mempermainkan wajahku?''
''Tapi wajahmulah yang selalu setia mempermainkan khayalan dan imajinasiku.”  
            ''Aku ada satu permintaan, maukah kamu mengabulkannya?''
''Silakan Tuan Puteri. Dengan senang hati akan hamba penuhi.''
            ''Bisakah imajinasi dan khayalanmu menghapus wajahku yang masih maya itu''
''Ampuni hamba Tuan Puteri. Pikiran hamba terlalu liar untuk dapat hamba kendalikan. Sebenarnya ini bukan keinginan hamba. Bila Nyonya Putri tidak ingin imajinasi ini liar lagi, mohon tuan puteri memberikan jawaban: diantara Madonna, Aishwarya Ray dan Ronaldinho, Tuan Putri lebih mirip siapa?
''Saya lebih mirip ibu dan Bapak saya.''
Itu bukan jawaban. Tapi Ahmad yakin dia lebih mirip Aishwarya Ray. Hitam manis, hidung mancung dengan mata paling indah di dunia.
Sejak pertama berhubungan melalui udara, wajah dia belum pernah dilihat lihat langsung. Tapi Ahmad begitu nyaman dengan namanya: Cut Nyak Meutia Rahmah. Ahmad tak peduli dia cantik atau manis. Karena tidak mengenal wajahnya, jadi imajinasi dan khayal Ahmad bebas menembus-nembus awan-awan berlapis yang membuat malam menjadi pekat, mencari wajahnya di sela-sela kulit otak di dalam kepala.
Kadang terbayang wajahnya lebih cantik dari Cinta Laura, sering pula wajahnya mengalahkan bertuk wajah maha indah Rafeena Tandon. Tapi kadang-kadang terbayang domba paling gemuk dalam 'Shaun the Sheep', ia makan apa yang ada, termasuk radio.
Sebenarnya bisa saja Ahmad memeriksa namanya melalui mesin pencari di udara. Wajahnya mungkin saja bias ia temui di Mbah Google. Tapi itu selalu diurungnya. Mungkin karena ahmad tidak ingin membatasi keindahannya dalam persepsi konkrit, “tidak ingin mengurung dirimu dalam warna dan bentuk. Kamu harus terus menjadi Aishwarya Raiku.” Desah Ahmad pada dirinya sendiri.
Obsesi bertemu dengan Meutia membuat Ahmad berbunga-bunga dan kadang tersipu. Karena itu kadang Ahmad menyanyikan lagu India, kadang lagu nostalgia selama dalam perjalanan menuju kota tempat gadis itu tinggal sementara untuk sekolah di perguruan tinggi.
    ''Sedang bahagia rupaya.'' tanya seorang laki-laki umur lima puluhan berbadan kurus.        Melalui lampu-lampu jalan dapat diketahuinya warna kemeja lengan pendeknya bewarna putih yang dikenakan pria yang menyapanya.
   Ahmad melorotkan badan. Perasaan gembira masih menghiasi seluruh rongga dadanya. Ia tidak menjawab pertanyaan penumpang di sampingnya itu. Hanya menghadiahi sepasang matanya dengan secercah senyum.
     Cut Nyak Meutia Rahmah baru saja pulang dari warung tidak jauh dari rumah. Saat ini dia sedang memasak di dapur. Dia belum makan sedari siang. Dan kini hanya akan makan mie instan.
        Dia menyeka keningnya dengan belakang tapak tangan. Mungkin untuk mengusir beberapa bulir keringat yang ada di sana. Dengan itu juga rambut hitamnya yang lurus panjang meski telah disanggul asal jadi masih suka bagian depannya menghalang-halangi pandangan matanya ikut beranjak, sementara tapi cuma, lalu kembali lagi. Setelah mie diseduh di mangkok dia mendekati kursi di sudut ruangan dapur yang kecil itu. Hatinya sedang berbahagia; entah kenapa. Baru ingin menikmati suapan pertama, dia melihat ponselnya di atas meja kecil pendamping kursi tempat dia duduk kini. Dia tersenyum. Diletakkannya mangkuk itu di dekat ponsel. Diraihnya alat komunikasi itu.
     Dia melangkah keluar. Duduk di atas kursi yang dikawani meja dan satu kursi lagi. Di teras yang tidak lebar itu dia ikut menaikkan kedua kaki ke atas kursi. Dimiringkan dia punya badan ke kanan, lutut yang melipat kaki mengikuti.
  Dua belah jempol menari-nari di atas tombol ponsel yang kecil-kecil. Delapan jari lainnya menyangga benda kesayangannya itu. Semakin disayang saja benda itu beberapa waktu belakangan.
   ''Sudah sampai di mana, wahai Tuan Raja? ''      ''Wahai Yang Mulia Gusti Puteri Cut Nyak Meutia Rahmah Setiawati Setyaningsih binti Baginda Teuku Baginda Ampon Di Geudong. Ampun beribu ampun Gusti Puteri. Saat pesan Gusti Puteri hamba baca, hamba sudah berada di Simpang KKA. Ketika balasan ini hamba tulis, telah pula hamba berada di seputaran Krueng Mane. Hamba perkirakan saat pesan ini dibaca olehmu, belahan jiwamu ini sedang di atas empat roda melintasi Batuphat dengan kecepatan di atas seratus kilometer perjam. Ya, kendaraan ini larinya sekencang kereta Api yang  biasa mengantar kami Jakarta-Yogyakarta. Tahukah kamu, Kulon Progo namanya. Indah, bukan.''
     Dengan malas, campur suka, Cut Nyak menarikan kembali dua jempolnya di keypad.
     ''Ya udah, hati-hati aja.''
       Teringat mie instannya yang mungkin sudah bengkak di belakang, Icut berlari kecil ke belakang. Pintu kamarnya terbuka. Terlihatnya cermin yang digantung di dinding kamar. Dia masuk. Menghadapkan wajahnya ke wajahnya di dalam kaca. Dia bicara sendiri:
   ''Pangeran Ahmad, apakah permaisurimu ini layak untuku. Ah, tidak, kamu terlalu tampan. Hamba hanya gadis kampung yang hanya bisa mengeluh dan mengeluh. Lagi pula...'' Icut mencium pangkal lengan bagian bawan bajunya ''hamba bau sekali. Tapi aku tidak akan mandi. Biarlah kau jumpai aku, untuk pertama kali ini, kau lihat aku apa adanya. Dalam keadaan terburuk. Sebab nanti, bila Allah merestui, hari-hari yang kau lalui bersamaku adalah dalam keadaanku seperti ini.''
    Di dalam minibus Ahmad merasan semakin deg-degan. Rasa penasaran yang terakumulasi berpuluh bulan kini meluap semua. Melalui udara Ahmad pernah berkata:
     ''Aku biarkan imajinasiku melambung tinggi. Menghayalkan tentang dirimu. Kalau aku mahu aku dapat membuka mesin pencari. Setidaknya bisa jadi gambar dan tentang dirimu tertangkap mesin itu. Tapi aku tidak mau. Aku tidak ingin memenjara cintaku pada warna dan bentuk''   
     Di tempat lain. Di depan kaca Icut masih terpaku. Pandangannya menembus kaca melintasi bayangan dirinya, melampaui dinding di balik kaca. Perasaannya bercampur aduk. Ada rasa senang dan bahagia, ragu yang tak beralasan, ada rindu yang sejenak lagi akan tumpah, ada rasa takut yang hampir-hampir ditemui alasannya kenapa.
      ''Aku teringat Ahmadku pernah berkata gadis-gadis pada iklan shampoo terlihat lebih cantik saat rambutnya kusut. Ada keteduhan, sifat alami, ada aura diri yang terpancar saat belum mandi, katamu waktu itu.''  
      Alasan yang baik untuk sifat malas mandi bagi setiap wanita yang pasangannya punya cara pandang seperti Ahmad terhadap wanita.    
      Rumahnya di salah satu komplek perumahan di Cunda. Ahmad turun di tempat yang Icut instruksikan. Ahmad mulai memasuki komplek, mencari nama jalan yang dia sebutkan. Tidak ketemu. Lelah. Ahmad menemukan masjid yang tampak sederhana di dalam komplek itu. Dia masuk dan berwudhu. Bagian dalam masjid jauh lebih mewah dari bagian luarnya. Menemukan masjid yang tidak ada seorangpun shalat fardhu di dalamnya adalah hal biasa di Serambi Makkah ini.
     Pencarian dilanjutkannya. Insruksi melalui udara terus membimbing Ahmad. Akhirnya dia menemukan rumahnya. Persis sesuai instruksi. Tidak salah lagi. Ahmad berdiri kaku di depan pagar. Sudah mendekati jam sembilan. Sedikit berbahaya bertamu pada jam segini di sini. Apa lagi ke rumah lawan jenis bukan muhrim.
       Ahmad takut dan gemetar. Tentang kondisi di sini. Tentang kondisi hatinya. Dia gelisah. Semuanya dipertaruhkan di sini, sekarang ini. Sebentar lagi, seorang wanita yang khayalan tentang segala jenis kecantikan melebihi ratu manapun terlampaui akan ia jumpai langsung. Hari-hari hanya tidak pernah Ahmad lewati tanpa berbalas-balas pesan dengan dia. Suaranya sudah sangat akrab ditelinga pemuda itu melebihi suara induk ayam bagi telingan anak-anaknya.
    Pintu pagar bewarna cat hitam tertutup. Perasaan Ahmad jadi tidak enak. “Kalau tau mau ada tamu kenapa dia tutup pintu.” Ahmad menggerutu. “Aku ragu. Ragu campur takut.” Tiba-tiba pria kurus tinggi itu berubah gemetar.
 Ahmad mengoceh sendiri:
     “Bagaimana tidak, aku hanya mengenalnya melalui ponsel. Awalnya kuduga teman-teman yang usil. Kutelpon langsung. Kudengar suaranya. Kami berkenalan. Katanya umurnya dua puluh dua tahun. Tapi suaranya yang merdu dan nyaring seperti anak SD. Aku curiga. Kucobai dia dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan umum tentang logika matematika standar sarjana, sejauh kemampuanku tentunya. Dia menjawabnya dengan baik.”
 Di depan pagar ia terus menggerutu:
     “Pada perbincangan kali lain kuajak dia bercerita tentang cinta dan makna kehidupan. Dia mampu memberi gambar ke dalam imajinasi seindah lukisan Leonardo Da Vinci. Kata-katanya seindah yang diuntai Kahlil Gibran. Kusimpulkan dia adalah orang yang memaknai hidup dengan baik. Begitu bersahaja dalam kesehariannya. Dan yang paling mengesankan dia sanggup jatuh cinta dan berjanji setia selamanya, walau dengan pria yang belum pernah dia kenal, walau wajahku belum dia tahu. Bagaimana bila mukaku seperti Asimo kiranya?”
            Dalam ketakutan dan kebimbangan, Ahmad terus mengoceh sendiri:
   “Tapi kenapa bila tamu akan datang gerbangnya tidak dibuka saja. Apa lagi dia tahu aku belum pernah ke rumahnya ini.”
   Ia mengambil ponselnya. Dikirimnya pesan memberitahukan dirinya telah di depan pintu pagar rumah yang dia bimbing alamatnya. Lima menit menunggu tak ada balasan. Tidak ada pintu rumah terbuka dan tidak seorang gadis cantik keluar menghampiri. Coba dia menelfol, tiada diangkat. Semua perasan berhimpun menjadi takut. Jantungnya berdetak kencang.
    Dalam keadaan seperti ini Ahmad menengadah ke langit. ''Ya Allah, apakah ini hukuman bagiku? Jauh-jauh datang ke Aceh untuk menemui pujaan hati, kau beri ujian seperti ini. Kalau bisa jangan seperti ini hukumannya.''
      Seperti sinetron spiritual untuk anak-anak atau film India, munajatnya pada Tuhan langsung dikabulkan. Suara pintu rumah dibuka. Ahmad masih membelakangi gerbang, berdiri di sudut.       
        Gesekan besi terdengar. Bunyi itu hanya beberapa meter di dekat pria jangkung itu. Jantungnya terasa copot. Dalam hati Ahmad mengucap “Ya, Allah, dia. Dia ya Allah, kini dibelakangku. Dia yang wajahnya tidak pernah ingin aku ketahui kini mendadak hati ini berubah. Kini dia di belakangku. Aku ingin sekali melihatnya. Konsistensiku untuk tidak mempedulikan wajah dan fisiknya kini buyar sudah. Di kedalaman hati paling dalam, terkirim doa kepada Allah dengan seketia tanpa sempat pikiran ini merangkai kata. ‘Ya Allah, semoga dia sangat cantik.’”
     ''Masuklah.''
    Suara itu, suara itulah yang hampir setiap malam terdengan telinga Ahmad. Di rumah di tingkat tengah kota Jakarta Ahmad suka duduk setiap malam; mendengar musik di teras lantai dua, mencari wajah pujaan hatinya di langit setiap malam, menelfon untuk mendengar suaranya, berkirim pesan saling belajar merangkai kata. Kini dia, yang telah membuat Ahmad jatuh cinta ada di belakangnya. Ahmad menggerakkan badan. Menunduk. Perlahan dia menyeret pandangan mulai dari aspal yang menyatu dari jalan hingga halaman rumahnya. Matanya menangkap sepasang sandal swallow biru yang ada duri-duri lembut di tapaknya itu. Sandal itu hanya sebagian saja terlihat, selebihnya ditutupi kain bewarna putih. Perlahan pandangan ia naikkan. Pelan-pelan menyurusi kakinya yang bersembunyi di balik kain putih. “Baru seselai shalat dia rupanya.” Ahmad membenak.
     Melihat gadis pujaannya yang rupanya rajin shalat, pikiran Ahmad berkelana jauh.
Ada yang disayangkan dari sistem pemerintahan Aceh saat ini. Syariat Islam yang diberlalukan tidak dibarengi pendidikan agama Islam yang baik. Akibatnya lahirlah manusia-manusia yang gemar menjaga keagamaan orang lain, masjid di kota sendiri menjadi sepi.
    Mungkin Aceh di masa depan akan belaku kasus seperti ini: Sepasang selingkuhan sedang ditaman setengah badan di bawah terik matahari menunggu mati. Yang menimbun mereka berharap ada segera yang melempari supaya segera mati. Tapi takkan ada yang mau sebeb semua orang yang melintasi kasihan pada pasangan itu. Di antara yang berlalu-lalang akan ada percakapan begini:
   ''Sistem bajingan seperti apa sih yang menerapkan hukuman kepada sepasang manusia yang bercintasama-sama suka lebih hina daripada cara kerja mamalia liar?''
    Ini akan berlaku karena orang Aceh nanti tidak akan ada lagi yang memahami Islam karena pendidikan tidak pernah lagi memperkenalkan hakikat agamanya kecuali perangkat peraturan hukum formal yang wajib diikuti secara paksa, suka tidak suka.
   Bukankah pelajar sekarang sekolah dari pagi sampai senja dan malam dijajal tugas-tugas sekolah yang luar biasa menyita waktu. Kapan pula pelajar sempat berkenalan dengan agama. Dalam kurikulum sekolah, belajar agama hanya sebatas informasi bahwa agama itu begini dan begini. Padahal, agama itu untuk diamalkan, bukan sekedar diketahui. Pengamalan agama meniscayakan pembiasaan melalui tindakan, bukan penjajalan konsep.
      Masjid-masjid besar-besar dan mewah di Aceh, tapi jumlah jamaahnya dapat dihitung jari. Tidak jarang muazzin harus mengurungkan ritual shalat beramaah karena bukan hanya karena jamaah saja tidak datang, tetapi imam sekalipun berhalangan, tersangkut pembicaraan akut mengenai persoalan politik di warung kopi beberapa puluh meter dari masjid. Sering kali pula masjid-masjid mewah di Aceh harus bisu kecuali maghrib sebab muazzin sendiri sudah malas mengkumandangkan azan sementara teriakannya tidak ada yang mengindahkan.
    Belum sempat pandangan mencapai wajah Cut Nyak, suara sepeda motor di belakang Ahmad menghentakkan jantung. Dia terkejut hebat. Segera ia menoleh ke belakang. Dua pemuda menatap sinis ke arah tamu itu. Memelankan motornya setelah di gas kencang. Ahmad sadar itu upaya supaya dia menoleh. Mereka menatap Ahmad lekat-lekat. Wajah seram dengan mata menantang ditujukan ke arah Ahmad. Lalu mereka berlalu.
     Saat Ahmad menolehkan kembali wajah tertangkap olehnya sebuah wajah. Ishwarya Rai pecah berkeping-keping menjadi abu lalu terbang mengikut udara. Cahaya wajah Madonna ciut keriput seperti selembar kerta yang diremas, lalu terbakar. Juga jadi abu dan lenyap bersama udara. Cinta Laura cepat-cepat anjak kaki lari terbirit-birit sebelum bernasib serupa Madonna dan Aishwarya Rai.  
    Ahmad tidak sanggup mejaga wibawanya. Mulutnya melebar. Bola mata pria itu melotot seakan mau copot. Gadis di hadapanAhmad senyum saja. Kedua sisi bibirnya menempel dan melebar. Warnanya pink. Ahmad memeriksa memalui cahaya lampu jalan tepat di atas mereka. Tidak bergincu rupanya. “Pink alami. Ah, sulit kupercaya. Di tanah tempat aku besar di tengah-tengah lautan ilmu pengetahuan, belum pernah kulihat wanita secantik ini. Sepasang alis tebal yang menghiasi kedua bola matanya yang hitam pekat serentak naik ke atas.” Ahmad berkata dalam hati.
    ''Kenapa bengong?''
    Ahmad tidak sempat peduli kata-kata gadis itu. Dia hanya mempelototi bidadari di hadapannya yang begitu putih. Sangat kontas dengan warna bola mata yang pekat.
      Gadis yang tingginya hanya kuran sekitar lima centimeter dari pria jangkung dihadapannya merubah ekspresi wajah. Menarik nafas. Memperhatikan kembali wajah Ahmad. Liur Ahmad hampir meleleh, tak sempat ia pedulikan. Perlahan dia mendorong kedua siku pria yang selalu menggodanya melalui pesan singkat yang kini tepat dihadapannya yang telah dari tadi di pintu pagar. Dia membuka pintu pagar yang kecil.
       ''Minum apa?''
      Menawari munuman di pagar?
       ''Kamu'' jawab aku.
       ''Hah?''  Ahmad kaget.
    ''Boleh masuk?''
   ''Harusnya dari tadi.''
      Icut berbalik. Lalu menghilang melalui pintu rumahnya. Ahmad melangkahkan kaki. Sempat ia melirik ke belakang. Dua pemuda tadi ternyata mengamati dirinya dari gelap di kejauh.
     Duduk di teras rumahnya yang mungil, Ahmad berfikir: “Ya Allah, tiada kusangka dia secantik itu. Kalau dia Kau hadiahkan menjadi pendampingku, semuanya cukup bagiku. Aku tidak lagi akan mempedulikan cita-citaku. Kan kulupakan mimpi-mimpiku yang di luar batas kewajaran umum.”
            Ahmad mengomel dalam hati:
      “Dia lama sekali keluar. Mana minuman yang ia tawarkan tadi.”
 Di dapur Icut melihat mie instannya telah membengkak. Tidak mungkin di makan lagi, pikirnya. Icut mendengar suara bising iring-iringan sepeda motor. Dari dapur dia memanggil Ahmad.
     ''Abang, Mas, Kakanda, Cut Bang. Panggilan apapun kau harus kupanggil. Masuklah. Di luar dingin. Masuklah. Masuklah.''
     Ahmad tidak mengindahkan perintahnya walau ia dengar jelas apa yang Icut teriakkan.
“Mana berani aku masuk. Baru datang pertama kali. Ke rumah wanita pula. Di Aceh lagi.” Benak Ahmad.
     Ahmad was-was. Panik. Menggerutu. “Kenapa tidak dia keluar dan memintaku masuk. Kenapa harus menjerit-jerit.”
      Dalam keadaan serba tak menentu, tiba-tiba ''ckriiink''. Ahmad melihat ke kaca jendela di belakangnya, agak sedikit di atas kepala. Hanya sepuluh sentimeter dari kepala Ahmad. Kaca jendela itu berlubang. Tidak sempat berfikir anehnya batu atau apapun yang menembus kaca hitam itu tamu ganjil bagi pandangan msyarakat Aceh itu bergegas masuk.
     Ahmad duduk di sudut ruang tamu. Dia memperhatika  Sebuah tivi enam belas inci di depannya. Lantainya dilapisi karpet tebal yang lembut. Icut datang menghampiri. diperhatikannya lagi bidadari itu. “Kukira gadis secantik dia di dunia ini cuma satu. Sempurna.” Bisik Ahmad dalam hati.
   Icut melongoh keluar. Lalu masuk ke kamar depan yang kecil. Rumah ini cuma punya dua kamar. Kamar depan milik Icut seukuran ruang tamu. Kamar satunya lagi tertutup rapat. Pintu kedua kamar itu berdekatan Di belakang ada dapur. Ahmad  dapat melihat sebuah kamar mandi dari dekat dapur dari tempat dudukkunya.  Icut mencari poselnya. Dengan ekspresi tampak panik, Icut memainkan jarinya di ponsel. Tampaknya dia sedang mengirim sebuah pesan. Ahmad menduga seperti itu. Tapi ia tak tahu kepada siapa.
    Icut menghampiri Ahmad dan mengajak duduk di dapur. Sambil berjalan Ahmad sempat melirik ke lantai dekat pintu kamar depan yang baru saja dimasuki Icut tadi. Astaughfirullah! peluru. Rupaya tadi adalah suara kaca yang ditembusi peluru. Ahmad sempat heran kenapa peluru itu bisa di sana. Peluru di dunia nyata memang beda dengan peluru di film. Peluru di film bahkan tidak mampu menembus pintu mobil. Namun di dunia nyata, peluru jauh lebih ganas. Ketika masa penuntutan referendum, masyarakat di seluruh penjuru Aceh yang hendak ke Banda Aceh dapat melihat peluru menembusu pintu belakang dump truk yang super tebal sekaligus pelat dinding belakang kemudi hingga bersarang di setir bagian tengah. 
    ''Setahuku Aceh sudah aman'' bisik Ahmad dengan nafas terengah.
    Tangan kanan Icut diangkat. Telunjuk membentuk garis vertikal menyilang bibirnya yang merah jambu tipis. Melotot kearah Ahmad. Persis seorang ibu yang menakuti anaknya untuk tidak berisik. “Aih, aku semakin cinta padanya. Meluap-luap. Rasanya mau terbang. Ah, dalam situasi menegangkan seperti ini aku masih sempat kasmaran.” Ahmad membatin.
     ''Intan rupanya sudah pulang ke Lhoksukon.''
            Intan adalah adik Icut. Mereka tingga berdua di rumah itu. Ahmad kenal intan melalui komunikasi mereka lewat ponsel.
    “Oh, tidak. Berarti aku sedang berdua dengan lawan jenis bukan muhrim dalam sebuah rumah. Di Aceh! Gawat.” Ahmad semakin panik. Mau permisi segera pulang tidak mungkin. Peluru itu jelas mengancamnya. Setidaknya menyampaikan sebuah pesan.
    Icut melakukan kebodohan dengan bergegas ke ruang depan. Ahmad tak tahu apa yang akan dia lakukan. Belum tiba Icut di pintu muka. Tiba-tiba mereka tidak bisa melihat apa-apa. Semuanya jadi gelap. Seseorang menarik tangan Ahmad dengan hampir sekuat tenaganya, tapi terasa pelan baginya. Tangan Ahmad terus diarahkan ke tempat yang tidak ia ketahui. Semuanya masih gelap. Tapi Ahmad bisa merasakan badannya telah berada di halaman rumah.
   “Saat pemuda kampung mengintai, malah perempuan ini mematikan semua lampu rumahnya.” Pikir Ahmad “Apa mahunya? Mau dia bawa ke mana aku?”  Ahmad semakin ketakutan. Ahmad mengira Icut yang mematikan saklan di meteran listrik.
   ''Mana sandalmu. Raih alas kakimu'' bisiknya pelan.
  Ahmad semakin panik. Dia raba-raba lantai. Ditemukan sebelah. Meraba-raba lagi, sebelah lagi. Digenggamnya sepatunya dengan tangan kanan. Sementara siku kirinya masih disetet. Digenggam kuat. Ahmad merasakan lembut telapak tangannya. Beberapa kali siku kiri Ahmad tersapu bajunya. Terasa oleh Ahmad badannya samping kanan. Ahmad rasa ingin terbang. Bahagia rasanya, tapi ingat dosa. Lagi pula gadis secantik ini, setelah dinikahipun, enggan rasanya menyentuh. Dia seperti mutiara dasar laut yang tidak boleh terjamah tangan manusia.   
   Ahmad berusaha memahami maksud gadis yang ia cintai itu. Dalam sedetik terlintas seribu kemungkinan maksud rencananya. Perempuan Aceh memang punya banyak tak-tik. Tidak heran bila Malahayati, Cut Nyak Dhien dan Cut Meutia mampu menjadi panglima sekaligus konseptor perang. Empat perempuan secara berturut-turut juga pernah menjadi pengusa kerajaan besar, Aceh Darussalam. Itu mereka yang terekam sejarah. Mungkian ada ribuan yang tidak tertera di kertas, salah satunya adalah yang sedang di dalam gelap bersama Ahmad ini, Cut Nyak Meutia Rahmah.   
     Dari sekian kemungkinan, maka Ahmad keluar perlahan melewati gerbang dan langsung menjauh dari pagar rumah ini adalah kemungkinan terbesar. Maka dia mencoba melepaskan pegangan Icut. Ahmad akan menuju pintu pagar dan pergi. Gadis cantik ini melepaskan pegangannya. Ahmad mencoba memasang sepatu di kakinya. Sebisanya. Dalam gelap Ahmad meraba-raba menuju pagar. Dari sedikit lampu depan rumah tetangga samar dia melihat sesuatu yang putih dari arah jalan menunu pagar.  Ahmad jadi merinding. “Rupanya ada hantu juga di komplek perumahan ini. Ahmad ketakukan, ingin lari kembali ke dalam rumah malu pada Icut yang masih belum jauh darinya.
     Sebelum meraih pintu pagar hantu itu terlebih dahulu meraih pagar. Terdengan bunyi pintu pagar terbuka. Ini bukan hantu. Hantu masuk tak perlu buka pintu. Sosok dalam gelap itu langsung menyosor masuk, melubruk Ahmad. Dia hampir terpental ke belakang. Sosok berbaju putih ini ikut terkejut. Hantu masak bisa terkejut.Seatus persen bukan hantu. 
     Lelaki berbaju putih yang melabrak Ahmad dan berpekik ''Kenapa lampunya dimatikan''.
     Beberapa orang tinggi besar yang ternyata mengikuti  dibelakang sosok baju putih menuju teras rumah. Salah seorang di antaranya berjalan meraih saklar amperemeter listrik. Seketika seluruh isi rumah terang benderang. Sebiji lampu teras mampu menerangi seluruh halaman rumah yang memang tidak luas itu.
    Barulah tampak lelaki baju putih di samping Ahmad secara jelas. Kumisnya pendek, tegang, tidak begitu lebat. Tubuhnya jauh lebih pendek dari Ahmad. Baju putihnya adalah teluk belanga, baju shalat kerah cina. Dia mengenakan sarung biru. Ternyata pria di teras yang tinggi tegap jumlahnya lebih banyak dari yang diduga Ahmad sebelumnya, jumlah mereka sekitar enam orang. Seragam mereka seperti satpol PP, tapi warnanya seperti setelan bawah PDH TNI. Salah satu diantara mereka bersepatu ada garis putinya, provost. Beberapa diantara mereka mengarahkan pandangan ke arah pagar. Mencari-cari Ahmad. Dua di antara mereka langsung  ke arah sasaran mereka. Tapi menjaga jarak karena segan dengan sosok baju putih di samping Ahmad. Empat lainnya bersiaga di depan pintu rumah yang ternganga. Mereka bersigap seperti akan menangkap kucing pencuri ikan jatah makan Ayah.   
     Ahmad melirik kiri kanan dan belakang. Cut Nyak hilang entah ke mana. Kemudian sesosok berbaju motif sama dengan lelaki di samping Ahmad tapi warnanya hijau datang dan langsung berdiri di hadapan Ahmad. Dia menatap ke arahnyaku. Pria ini lebih pendek lagi, tapi lebih gemuk. Kulitnya cokelat hampir dapat dikatakan hitam. Kumisnya lebih panjang. Di belakang dia, menyusul dua orang wanita berjilbab seperti warna seragam enam pria tinggi tegap itu. Baju dan rok mereka bewarna sama. Kedua perempuan itu umurnya mungkin tidak lama telah melawati empat puluh. Tinggi mereka berdua hampir sama, tidak lebih seratus lima puluh. Kalau telanjang, pastri kulit perut keduanya tampak berlipat seperti handuk di dalam lemari.
     Keduanya berwajah hampir sama, gaya berdiri mereka juga sama, serentak. Hidung mereka kembang, tapi agak panjang, alis mereka tebal, tapi agak pendek. Alis mata keduanya panjang dan lentik mengingatkan pada mata anjing yang dikuliti hidup-hidup di Youtube. Mereka serentak melintas di depan Ahmad, sama-sama melirik ke atasnya, sama-sama melempar senyum dengan pesan: rasakan, emang enak berdua-duaan dengan perempuan, pakai matikan lampu lagi.
   Kedua perempuan itu masuk ke dalam rumah begitu saja. Ahmad tidak tahu apa yang mereka kerjakan, pastinya mereka bukan petugas LPG yang akan memperbaiki tabung gas punya pemilik rumah.
    Lelaki berbaju shalat hijau mengajak baju putih ke satu sudut, agak masuk ke dalam garasi yang memang terbuka lebar. Sebuah sepeda dan sebuah motor masih terlihat meski lampu garasi tidak dinyalakan.
    Setelah kedua pria paruh baya itu bercakap-cakap beberapa saat, baju hijau memanggil pasukan itu. Dua orang pria tinggi besar mendekat.Terlintas dalam pikiran Ahmad untuk segera lari. Itu sangat mudah baginya. Pintu pagar terbuka, dia dekat dengannya. Kalau lari keluar Ahmad hanya perlu terus lari ke arah timur, setelah menjumpai perempatan, tinggal belok kanan, seratus meter langsung jumpa jalan negara. Tapi itu tidak  ia lakukan. Ahmad merasa masih laki-laki. Lari dari masalah seperti ini adalah lebih memalukan daripada bercerai sepuluh kali. Ahmad tidak ingin putus hubungan begitu saja dengan Cut Nyak. Dia benar-benar telah jatuh cinta padanya lama sebelum kali pertama melihat gadis Lhoksukon itu yaitu malam ini.
    Ahmad segera di bawa ke masjid komplek. Dusuruh berwudhu, lalu berdiri di hadapan masjid.
''Shalat Isya' dulu'' kata baju hijau.
    Ahmad sudah shalat Isya' tadi. Di sini juga, di masjid ini. Tapi tidak berani membantah, dia masuk, shalat sunnat wudhu dua rakaat lalu keluar lagi.
    ''Kenapa sepat sekali''
    ''Dua rakaat'' jawab Ahmad.
    ''Kenapa dua rakaat?''
    ''Sudah shalat Isya' tadi''
    Salah seorang tinggi tegap menghampiri. ''Ouw. Sebelum berzina shalat dulu, hahaha.''
    “Masih lumayan. Daripada kalian. Bikin masjid besar-besar, jangankan untuk shalat berjamaah, suara azan saja tidak terdengar.” Tentu  dalam hati Ahmad saja.
    ''Siapa nama?'' salah satu tinggi tegap membentak.
   ''Ahmad'' jawabnya santai.
            Dalam kondisi seperti ini kiranya sangat memalukan Bagi Ahmad menyebutkan nama lengkapnya. Dia teringat sikap ayahnya waktu kecil dulu.
    ''Apa pekerjaan?''
    ''Jualan, Bang.''
    ''Jual apa?''
   ''Pakaian, Bang.''
   ''Di mana?''
    Menurut pikiran Ahmad laki-laki ini waktu kecil ingin menjadi Polisi bagian penyidik. Atau setelah SMA dia bercita-cita ingin menjadi wartawan.
   ''Keliling. Saya pedagang keliling.''
 Ahmad berfikir:
   “Kukira jawabanku sudah cukup dan tepat. Tidak perlu mengatakan pekerjaan sampingan sebagai mahasiswa pascasarjana, apalagi mengumumkan jurusan Filsafat Universitas Paramadina. Ini hanya akan merepotkan diriku dan membuat mereka bingung. Lagi pula mahaswa pascasarjana lainnya juga akan bingung kalau ada mahasiswa pascasarjana yang menjadi pedagang keliling, apalagi jualan pakaian dalam.
    Pernah sewaktu seseorang menolongku aku mengatakan kulian jurusan Filsafat. Saat dia menanyakan ‘Filsafat jadi apa?' aku sempat kebingungan juga. Mengatakan ingin jadi filosof akan memperbesar persoalan. Pertanyaan akan semakin banyak lagi. Maklum saja, masyarakat sekarang sudah sangat cerdas. Mereka punya orientasi yang jauh ke depan. Mereka sadar semua orang hari ini harus menentukan hidup mereka di masa depan. Seorang mahasiswa Keguruan mesti menjadi guru. Mereka tahu betul mahasiswa Kedokteran akan menjadi dokter. Mereka pahan jurusan Pertanian tidak menjadi petani. Tapi mungkin tidak semua dari mereka tahu bahwa sastrawan sangat jarang dari jurusan Sastra.”  
    Dua orang pemuda berpakaian biasa masuk pekarangan masjid. Mereka mengobrol dengan para pemuda tinggi tegap. Tampaknya mereka sedang melakukan suatu negosiasi. Dapat diketahui Ahmad dua orang pemuda itu adalah di antara para pemuda yang mondar-mandir di depan rumah Icut sedari Ahmad tiba.
    Seusai mengobrol dengan pemuda tinggi tegap dua orang pemuda itu pergi. Ahmad diminta masuk masjid. Rupanya Icut telah dahulu berada di dalam masjid. Dia dikawal dua perempuan pegawai pemerintah yang tadinya ikut ke rumah Icut. Mereka didudukkan bersandingan. Menghadap dua orang laki-laki. Keduanya memakai baju teluk belangan. Yang satu putih, satunya lagi hijau. Keduanya membelakangi mimbar masjid.
    Beberapa ayat Al-Qur'an dibacakan. Lalu hadits-hadits Nabi Saw. Semuanya yang menyinggung tentang larangan dan bahaya zina. Ahmad dan Cut Nyak telah divonis bersalah. Kepada Icut dikatakan orang tuanya telah dihubungi tapi ayahnya ngotot tidak mahu datang. Ahmad sendiri masih menikmati drama khas tanah airnya. Sedari tadi pikirannya hanya diliputi kekaguman. Bagaimana tidak. Mendatangi rumah teman perempuan, lalu diintai beberapa pemuda, kemudian diteror dengan senapan canggih yang memiliki penyadap suara dan berakhir di masjid.
    Setelah bercakap-cakap dengan rekan disampingnya, lelaki berbaju putih mengatakan pada calon pengantin dadakan itu bahwa mereka harus dinikahkan. Seribu pertanyaan masih ingin diajukan Ahmad sebulum keputusan gila ini dijatuhkan pada mereka.” Siapa wali nikahnya?  Bukankah ini sama seperti menculik anak orang?”  Di luar, warga yang datang semakin berduyun-duyun. Rupaya kejadian ini telah merambah ke seluruh kompleks, bahkan mungkin seluruh kota Lhokseumawe.
   ''Untuk menjadi obat. Pasangan ini harus dimandikan dahulu'' kata baju putih.
    “Ah, anggap saja ini mandi taubat.” Bisik batin Ahmad pada diri sendiri. Icut tampak ketakutan. “Bagaimana tidak, dia harus menikah dengan lelaki yang baru kali ini ia jumpai. Tipe hukuman seperti ini memang sangat aneh. Saking anehnya patut masuk kedalam rekor sepuluh hukuman paling aneh di dunia dan menduduki peringkat satu.” Membatin Ahmad.
     Meski Ahmad melihat model hukuman seperti sangat aneh, sebenarnya dia sendiri sudah dapat memakluminya. Namun ketika harus mengalami sendiri, peristiwa ini memang membuatnya terkecengang. Bahkan Ahmad pernah mendengar cerita orang yang sedang hamil karena berzina dinikahkan dengan lelaki yang menyetubuhinya saat dia bunting. Inilah kejadian paling membingungkan di dunia. Padahal orang hamil tidak sah dinikahi oleh siapapun. Kalau begini, orang yang sudah berzina diperzinai lagi terus menerus dengan menikahkannya saat bunting. Ini baru hukuman paling dahsyat. Ada lagi yang lebih unik. Ada perempuan yang setelah bunting dinikahkan oleh orangtuanya dengan pria lain dengan maksud menutupi aib. Bahkan ada anak seorang imam di sebuah desa yang Ahmad telah lupa di mana, anaknya ketahuan main belakang dengan pemuda tetangganya. Uniknya, posisi sang imam tetap aman. Dan sang imam masih menjadi juru khutbah Jum’at alternatif di kampungnya bila juru khutbah dari kampong kain berhalangan.
    Tidak pernah berlaku hukum rajam atau cambuk seratus kali bagi para pezini di sini. Setidaknya setelah Indonesia berdiri. Mungkin hukuman seperti ini pernah diberlakukan pada masa kerajaan Aceh Darussalam masih ada. Bila ada kasus rajam atau cambuk seratus kali karena berzina maka itu adalah kejadian paling aneh di muka bumi. Bayangkan, kesaksian hanya dapat diterima dari empat orang laki-laki dewasa yang dapat diterima kesaksiannya, antara lain karena baiknya keagamaannya, karena kefakihannya. Tapi mungkinkah empat orang fakih sekaligus sempat menyaksikan daging masuk ke dalam daging dengan mata telanjang? Empat orang! Kalaupun mereka sempat melihat adegan daging masuk ke dalam daging itu terjadi, tanpa mereka mencegahnya, maka itu artinya mereka tidak memiki kefakihan: maksiat dibiarkan terjadi begitu saja.
 Sekalipun tidak pernah kuliah di jurusan Syari’ah, Ahmad tidak sepakat dengan persaksian empat fakih diganti dengan alat bukti rekaman video. Karena, dia yakin kamera video bisa dimodifikasi. Ahmad yakin maksud saksi harus empat orang fakih maksudnya adalah untuk menghindari perzinaan. Karena menurut pikirannya, mustahil empat orang fakih akan membiarkan aksi dosa besar itu itu dilakukan tanpa mencegahnya. Dan mustahil aka nada empat orang fakih sekaligus menyaksikan orang yang sedang memasukkan daging ke dalam daging.
    Akhirnya para calon pengantin itu dibawa keluar oleh dua pemuda tinggi tegap. Di luar masjid warga lebih ramai dari yang kubayangkan. Pemuda-pemuda tegap itu hanya mengantarkan sampai pintu masjid lalu kembali pada baju putih. Cacian dan makian tidak henti-hentinya keluar dari mulut warga. Ahmad terus beristighfar di dalam hati, memohong diberi ketenangan, ketabahan dan kesabaran, terutama menghadapi masyarakat yang sedang emosi itu. Dan Ahmad yakin sebagian mereka yang memaki tidak shalat subuh hari ini dan esok hari. Padahal, menurut Ahmad, dosa meninggalkan satu satu waktu shalat sama dengan berzina tujuh puluh kali.
 Ahmad dan Cut Nyak diberdirikan berdampingan. Tiba-tiba Ahmad merasakan sesuatu membasahi badannya di mulai dari kepala. Beberapa detik kemudian keluar bau busuk dari cairan yang disiramkan ke badanku oleh beberapa pemuda kampung. Rupanya Icut juga diperlakukan sama. Warga yang menjadi penonton bersorak riuh.
     Kaleng tempat oli dipotong setengah. Dengan paku ditempelkan pada tongkat kayu, air dari comberan diambil. Cairan parit perumahan tentunya didominasi air seni. Dengan itu comberan parit terus disiramkan pada dua pengantin anyar itu. Ahmad teringat hadits Nabi Saw. Perkara pertama yang dipersoalkan setelah mati adalah kencing yang melekat di badan. Rupaya jenis hukuman di sini memang neraka. Selain memperzinai dengan cara menikahkan perempuan buntung, mereka juga melumuri kotoran kencing ke badan orang.
  Cut Nyak tampak begitu tegar. Wajahnya tidak memperlihatkan dia takut atau gusar. Bahkan tampak dia menikmati fitnah itu. “Bakal istriku sangat kuat mentalnya” bisik Ahmad dalam hati.
    Setelah dimandikan dengan comberan mereka diangkut dengan mobil patroli. Pada kaca depan mobil itu tertera tulisan instansi penegak hukum Islam . Sepasang calon pengantin itu digelandang ke markas instansi penegak Islam milik pemerintah. Sejatinya instansi itu sama dengan polisi pamong praja yaitu untuk mengawal penegakan peraturan daerah. Namun peraturan daerah di Aceh disebut dengan ‘syari’at’. Mereka duduk di atas kursi yang saling membelakangi di belakang. Tiga orang pemuda tegap duduk di depan, satu menyupiri. Satu lagi duduk dibelakang. Empat pemuda kampung ikut serta. Dua membonceng mobil patroli yang mengangkut mereka dan dua orang lagi menyusul dengan sepeda motor.
     Setiba di markas mereka dimasukkan ke dalam sel. Icut dimasukkan ke sel sebelah. Ahmad dalam sel sebelahnya lagi. Di depan dua ruang tahanan ada sebuah meja bewarna cokelat. Setelah mennjebloskan mereka dan mengunci pintu jeruji, salah seorang pemuda tegap yang kini dapat dilihat jelas oleh Ahmad berbaju hijau memasukkan kunci itu ke dalam laci meja cokelat itu. Kemudian dia sendiri berlalu pergi.   Satu orang pemuda tegap lainnya berbaju bewarna sama ke balik meja langsung duduk. Dia langsung merebahkan kepada di meja. Lalu tertidur? Dua pemuda kampung tampak duduk di dua kursi menghadap meja. Dua lainnya sedang di luar. Tiga aparat lainnya keluar. Lenyap dari pandangan Ahmad.
    ''Abang tidur saja. Walau mereka ini telah diserahkan kepada pihak Abang, kami tetap bertanggung jawab akan mereka.'' suara salah seorang pemuda kampung berbaju merah didengar aparat di seberang meja.
     Dia kembali mengangkat kepala. Wajahnya sangat kusut. Menguap lebar. Aparat ini paham maksud pemuda kampung itu. Masalah besar yang sifatnya klasik bagi mereka adalah warga. Warga tidak serta merta melepaskan pelaku maksiat meski lembaga resmi negara untuk menangani itu telah didirikan. Bagi warga, para pelaku maksiat adalah mangsa. Jadi mereka punya kuasa penuh. Para petugas negara paham itu. Jadi personil aparat ini tidak mau ambil pusing. Dia mengantuk. Jadi lebih memilih menempelkan pipinya di meja. Tidur lagi.
    Sama seperti aparat yang tertidur di meja itu, Ahmad juga sangat mengantuk. Dia lebih parah, kedinginan pula. Air comberan masih terasa lengket. Tidak hanya dingin, badannya juga gatal-gatal semua. Ahmad pasang telinga. Tidak terdengar suara Icut. Mungkin dia kelelahan juga.
     Dingin dan lelah mengalahkan gatal badan Ahmad. Apa pikir lagi, shalat isya sudah. Dia tertidur di sudut ruang sempit itu.
     Ahmad baru terbangun pada jam yang tidak ia ketahui. Dia perhatikan ke balik jeruji besi. Empat pemuda kampung tertidur di depan meja. Posisi mereka tidak beraturan. Mungkin kelelahan juga. Ahmad perhatikan ke balik meja. Ternyata seorang petugas yang tadinya tidur di kursi telah terlentang dibalik kursi. Dia terbaring dekat dinding. Masih setengah sadar, terdengar sayup suara wanita meangis lirih. “Icut, istriku”, benak Ahmad. “Ternyata Cut Nyak Dhien itu rapuh juga. Uratkuratku masih sangat lemas. Kepala juga pusing. Badan menggigil.” Beberapa saat Ahmad tertidur lagi.
   Saat dari balik jeruji cahaya matahari yang masing merah jambu Ahmad terbangun lagi.  Dia memanggil-manggil petugas. Dia tertidur pulas. Kelima laki-laki itu masih dalam posisi seperti Ahmad terbangun sebentar tadi.
   ''Bang...bang...bang....''
     Ahmad menanggil, berharap siapa saja dari lima pria itu bangun dan memberikan kompensasi supaya dia diizinkan ke kamar mandi untuk membersihkan badan. Dia panik karena belum shalat subuh.
   ''Bang...bang....''
    Suaranya semakin deras. Sambil menggedor-gador jeruji. Suara Icut tidak terdengar lagi. Mungkin dia kelelahan dan tertidur.
    Salah seorang pemuda kampung yang tidur paling dekat dengan pintu jeruji Ahmad, terbangun. Wajahnya lembab, oh, bukan hanya karena tidur di lantai tak beralas, bentuk mukanya memang tembem. cocok untuk postur tubuhnya yang agak bulat. Matanya melotot.
   ''Aku mau shalat subuh, Bang.''
Ahmad berharap dia dapat membantu membangunkan si aparat di balik meja dekat dinding itu.
   Lalu dia bangun. Berjalan sempuyungan ke arah meja. Dia menarik laci dari balik meja. Tangannya yang dilapisi kulit hitam merogoh. Seketika dia menemukan sekarangan kunci. Tanpa kesilitan dia langsung dapat memilihkan kunci bagi pintu jeruji Ahmad. Dia membuka sel Ahmad.
   ''Awas kalau lari'' bentaknya.
    ''Kamar mandi?''
    Pria yang terlalu gemuk bagi ukuran sependek itu menunjuk ke arah depan. Ahmad segera melangkah, lalu belok kanan. Sambil berjalan terasa ada yang ganjil baginya. Apa? Setelah mengguyur badan ke sekujur tubuh Ahmad kembali masuk sel. Setelah shalat dengan pakaian basah, masih dalam posisi tahiyat akhir, timbur rasa heran: kenapa si gendut hitam itu langsung tahu tempat kunci diletakkan? Kenapa dia deberani itu merogoh laci? Kenapa tidak membangunkan petugas? Aku kaget, merinding: kenapa dia langsung tahu kunci pintu jerujiku dengan sekali pilih? Si Gentut kembali merebahkan diri di lantai setelah kembali mengunci pintu selku. Ahmad sangat yakin si gendut itu tidak di dalam saat aparat memasukkan kunci ke laci meja.
    Ahmad sempat melirik ke arah jeruji Icut saat berjalan kembali ke selnya. Hanya kakinya yang dititupi rok basah kelihatan. jerujinya tidak semencolok punya Ahmad. Punyanya agak tertutup dinding bagian depannya. “Aku harap dia baik-baik saja.” Desah Ahmad.  
    Menjelang siang mereka diangkut ke masjid komplek perumahan Cunda setelah menyelesaikan beberapa proses administrasi di kantor polisi syariat tadi. Di masjid para tetua kampung sedang berdiskusi, bahkan berdebat. Lurah setempat memaksa mereka harus dinikahkan. Para ulama setempat agak keberatan. Alasan mereka ayah atau wali Icut tidak turut serta.
    ''Bisa diwakilahkan'' suara Lurah meledak sambil menghentakkan kaki di lantai masjid. Imam masjid mengambil keputusan. Tampak terpaksa dan tertekan, imam mendudukkan mereka. Sebuah bantal berlapis kain batik di hadapan. Di atasnya ada sebuah mushaf, masih baru. Sampulnya warna merah. Ada gambar ka'bah.
   ''Untukmu'' Lurah itu melirik Ahmad lalu melirik mushaf itu. ''Dan itu mushaf sah menjadi milikmu.''
     Tubuh kursnya meliuk-liuk ke kiri dan ke kanan. Dia mengenakan baju putih. Diperkirakan masih teluk belanga tadi malam. Matanya terus dipejamkan. Zikir yang ia bacakan semakin kencang.
   ''Siapa nama lengkap ayah gadis disampingmu?'' imam itu mencondongkan wajah ke arahku. Matanya masih merem.
  Aku melihat ke arah Cut Nyak Meutia Rahmah.
  ''Muhammad Yunus'' setengah membisik Icut menatap Ahmad.
    Matanya masih merah, berkaca-kaca pula. Sedari berangkat dari kantor penegak peraturan daerah yang di Aceh disebut ‘qanun’, Icut terus menangis lirih. Ahmad heran. Kenapa tadi malam dia tidak menangis. “Mungkin seperti menggigit capai, perlu waktu sampai terasa pedas” pikir Ahmad
   Berhenti berzikir, mata masih dipejamkan diulurkan tangan kanan imam itu ke hadapan Ahmad. Spontan, pria mandi comberan tadi malam itu meraih jari-jari kakek itu yang hanya tulang dilapisi kulit. Sempat Ahmad melirik sekitar. Beberapa kaum ibu melihat cemas. Tidak seorangpun dikenal dua mempelai itu. Imam langsung berujar.
   ''Saya nikahkan Nyak Cut Meutia Rahmah binti Muhammad Yunus kepada Kamu dengan mahar satu mushaf Al-Qur'an.''
   ''Saya terima Nyak Cut Meutia Rahma binti Muhammad Yunus untuk saya dengan mahar sebuah mushaf.''.
    ''Sah? Sah?'' Imam melirik kanan dan kiri.
    Lurah dan lelaki berbaju hijau tadi malam sekalian mengangguk dan bersisik ''sah''
    Imam melepaskan tangan Ahmad. Ketiganya menegadahkan tangan. ''Alhamdulillaaaah''
    Pecah tangis Icut. Jantung Ahmad tertikam. Ulu hatinya tertusuk mendengan jerit istrinya. Saat itu Ahmad berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan menggauli dirinya sampai dia setuju, sampai dia mahu. “Bahkan sampai ayahmu mengaku”, Ahmad menanamkan kalimat itu ke dalam batinnya.
      Setelah khutbah petuah nikah disampaikan pada mereka yang dua intinya yakni makna 'sakinah' dan anjuran untuk bertaubat. Di luar masjid para pemuda memerintahkan mereka keluar kampung dan jangan kembali. Icut minta izin ke rumah untuk mengambil beberapa barangnya. Di rumah telah ada beberapa pemuda yang mencegat. Setelah menjelaskan hanya ingin mengambil barang saja, Icut dibolehkan masuk. Para pamuda yang menunggu di hadapan rumah tersenyum angkuh ke atas Ahmad yang ikut serta ke rumah. Ahmad menundukkan kepala.      Tidak lama Icut keluar dengan sebuah tas hitam dijinjingnya. Ahmad meraih tas itu.
   ''Kami mohom Izin. Maaf saya kepada semua telah membuat malu kampung ini'' Ahmad membungkukkan badang ke hadapan para warga.
    Mereka melangkah ke jalan raya. Menumpang angkutan umum minibus. Mereka bertujuan ke Bireuen. Di Perjalanan Icut memberitahu bahwa dia bergegas ke depan sebelum lampu padam untuk menjaga meteran listrik. Tapi dia terlambat, katanya. ”Belum sempat keluar pintu lampu telah padam.” Dia langsung masuk kamar depan, katanya.

Lhokseumawe, 17 Februari 2012



Tidak ada komentar:

Posting Komentar