Rabu, 11 Mei 2016

FILSAFAT MENUJU WUJUD

Untuk apa belajar filsafat? Pertanyaan itu pasti telah pernah muncul pada diri semua orang yang sedang dan telah belajar filsafat. Ketika memutuskan belajar filsafat secara formal dan tertib, semua pelajar telah memiliki jawaban masing-masing untuk diri sendiri dari pertanyaan tersebut. Yang  disayangkan adalah hampir semua pelajar filsafat mengambil jawaban yang kurang tepat sehingga jawaban mereka itu menjadi cara pandang baku dalam kepala sehingga setiap menerima pelajaran filsafat selalu disaring melalui dan oleh cara pandang yang telah umumnya keliru itu. Akibatnya setelah belajar filsafat walau tahunan, walau tartil, mereka tidak mendapatkan perubahan apapun pada jiwa kecuali paradigma lama dengan beberapa catatan kaki dari pelajaran filsafat tahunan yang diterima. Sayang sekali.

     Seharusnya mereka menerima argumen populer dan sederhana dari filosof besar yang sangat populer di telinga mereka yakni ''filsafat adalah pengakuan akan kebebalan''. Argumen filosof besar yang mencetus kalimat ini bukan candaan. Setiap argumen para filosof adalah permukaan yang terlihat, kedalaman dan isi samudera jiwa mereka sangat kaya dan tak bisa orang lain selami. Kalimat familiar tersebut umumnya diabaikan setidaknya karana dua hal: pertama karena terlalu populer sehingga menjadi tak dihargai, sehingga tak mau direnungkan akan maknanya. Kedua karena mereka yang bersiap belajar filsafat adalah orang yang egois, sok pinter, merasa diri paling cerdas, sehingga menganggap frame yang dibentuk dalam diri yang nantinya dijadikan kacamata untuk menerima pelajaran filsafat dianggap telah absolud dan dibakukan oleh kecongkakan diri. Inilah bencana bagi pelajar filsafat. Dan mereka membuat citra filsafat menjadi buruk. Dalam praktik, mereka menggunakan argumen untuk menundukkan orang lain. Kepala mereka adalah sarang iblis dan setan yang angkuh. Na'udzu billah min hum.
     Modal yang benar untuk belajar filsafat seperti modal yang dibawa bocah cilik untuk masuk padepokan shaolin. Tidak ada yang mereka bawa kecuali sepasang pakaian yang melekat di badan, sepotong tongkat disangkut selembarkain yang dijadikan selimut, yang dikajikan pembungkus sepotong roti yang diberi oleh ibu sebagai bekal; sebuah kepala yang kosong dengan was-was, takut-takut tidak diterima belajar, sebuah harapan kepala kosong itu dapat berisi kelak; sebatang tubuh yang telah dipersiapkan untuk dicampuk, dipukul dan dipalu supaya kelak tumbuh menjadi tangguh; sehamparan dada yang lapang siap menerima perintah dari sang guru; seonggok hati di dalamnya yang sangat rendah yang mudah-mudahan nanti dapat diisi dengan sejuta hikmah sehingga dia menjadi semakin rendah.
       Belajar filsafat adalah sebuah harapan untuk mendapatkan hikmah dari Allah. Bukankah semua maklum bahwa hikmah itu tiada Allah beri kecuali kepada kepala yang merasa kosong, kepada hati yang tiada sombong. Sepotong hati yang dibawa bila ada seatom angkuh di dalamnya, akan menelan sejuta hikmah yang diberi. Sebuah kepala bila ada sedikit saja ria maka akan melenyapkan sejuta pengetahuan. Belajar filsafat bukan sebuah buldoser yang siap mengeruk gunung pengetahuan, bukan pula mata bor yang siap menggali hingga ke dasar pengetahuan. Belajar filsafat adalah hadirnya seorang hamba yang fakir ke hadapan Raja Diraja yang Amat Kaya dan Amat Kuat. Kepada Dia kita tinduk, kepadaNya kita menyerahkan diri yang sama sekali tiada daya, seraya senantiasa bermunajat: harap hamba diberi petunjuk.
     Kita melihat dengan mata, mendengar dengan telinga dan memahami dengan hati. Banyak orang-orang yang telah belajar konsep-konsep filsafat dengan amat tartilnya terlempat dari jalan Allah karena tidak mampu memahami. Mereka banyak mendengar konsep tentang Wujud, Ruh, Jiwa, Hati dan segalanya, tetapi mereka tidak lebih hanya menggunakan mata dan telinga untuk menerima pelajaran. Sekali-kali saja mereka menggunakan pikiran, itupun untuk mempersiapkan diri menerima ujian. Pernah mereka menggunakan hati, tidak lebih untuk menyombongkan diri: ''aku akan menjadi Sarjana atau Master Filsafat. Semoga orang-orang segan, mudah mudahan orang takut''.
    Dalam kondisi itu, bagaimana yang mulia guru dapat memperkenalkan konsep-konsep penting dengan gamblang kepada kepala-kepala yang isinya adalah keangkuhan. Bagaimana cahaya dapat diisi kepada kepala yang gelapnya amat pekat. Karenanya mereka selalu bingung untuk mengetahui, ketika dikatakan ''Sebuah gelas adalah wujud'', mereka berlomba menafsirkan: yang satu mengatakan ''gelas itu adalah Tuhan'', yang lain menyanggah: ''Tidak, gelas itu memiliki sifat wujud sebagaimana mawjud-mawjud lainnya.'' Mari kita katakana pada mereka: ''Ayolah kawan, jangan menjadi zindik, dan kita tidak sedang belajar semantik. Kita sedang berada dalam perjalanan menuju jalan Allah. Lihatlah segalanya dengan kesadaran ontologis.'' Memang ketika kita katakan demikian, kebanyakan mereka akan menertawakan, beberapa lainnya diam saja tidak peduli. Ada orang yang ingin memahami, malah memaknai kata 'ontologi' yang kita ucapkan sebagai konsep tentang ontologi. Ada yang lain yang mencoba mengerti realitas ontologi sebagai konsep tentang realitas ontologi. Demi Allah, kita melihat mereka berenang dan tidak dapat melepaskan diri dari lumpur kegelapan, mereka berada dalam jebakan labirin pikiran mereka sendiri.
        Hanya orang-orang yang ditentukan Allah saja yang dapat melihat Hakikat Realitas Wujud. Wujud itu berada dihadapan dan pada diri kita. Tetapi Dia hanya bisa dilihat dengan mata hati, bukan mata kepala. Dan hati hanya dihidupkan Allah pada siapa yang Dia kehendaki dan dimatikan pada siapa yang Ia kehendaki.
      Beberapa ada yang mengulang-ulang kata-kata kunci dalam disiplin Filsafat Hikmah ini. Tetapi mereka sendiri tidak lebih seperti tape recorder yang dikirim ke Iran dan Jerman untuk merekam kuliah-kuliah Filsafat dan kembali ke sini untuk mempopulerkan istilah-istilah kunci kepada kita. Mereka berguna untuk mengakrabkan kita dengan istilah-istilah, sekalipun pada sikap, paradigma dan tindakan, kita melihat dengan hati, mereka tidak menyelam, bahkan jauh dari pantai hikmah.  Semoga Allah menyelamatkan kita dari kata dusta dan fitnah.
       Mulla Sadra dalam kitab Hikmah Muta'aliyah berulangkali mengajak pembacanya untuk menyelam sendiri ke dalam Samudra Hikmah. Dia mengakui bahwa filsafatnya adalah alat semata untuk mengakrabkan pikiran dengan hikmah, supaya tidak taklid. Bukankah nalar dan pikiran telah dipuaskan oleh karya Sadra, atau analogi Jalaluddin Rumi dan Hamzah Fansuri, tidakkah itu semua mensadarkan untuk menceburkan diri ke dalam Samudra? Tidak, orang yang modal berfilsafat adalah kesombongan dan dalam perjalanan orientasinya adalah mahiyah, yakni kesesuatuan semata, maka cukuplah dia berhenti pada derajat dalam fakultas jiwa disebut sebagai gambar dan atau konsep saja. Berat mereka meninggalkan lumpur duniawi.
      Apapun yang kita ingat, kita pikirkan dan kita renungkan selain bersama Allah, maka kita memikirkan hal yang tidak ada, ketiadaan, kegelapan. Padahal kita hadir, mengada, hanya karena satu alasan, yakni sadar, ingat dan merenung. Maka barang siapa yang sadarnya, ingatnya, dan renungnya bukan akan Allah, maka dia sejatinya tiada makna. Bila dia tiada makna, maka mustahil diingat dia oleh Allah. Padahal bila tiada diingat oleh Allah, maka tiada dia diberi wujud. Padahal wujud hanya dari Allah. Maka pantaslah yang tidak mengingat Allah tidak pernah mengada. Na'udzu billah. 
     Mungkin tidak kurang sembilan kali kita mengucap. ''Hormat, berkat, salawat bagi Allah. Salam pada Nabi Muhammad Saw., pada diri dan abdi Allah yang salih.'' tetapi berapa kali kita sadar akan ucapan itu selain dari kalimat wajib yang mesti dibaca. Kalimat pertama dan kedua adalah Realitas, dianya tidak kita ucapkan juga demikian adanya. Kehadiran kita mengikrar kalimat tersebut adalah keinginan kita untuk terlibat dalam Realitas Ada. Ketika kita mengatakan ''Salam pada kami dan abdi Allah yang saleh'' maka disitulah ikrar keterlibatan. Ikar yang diterima adalah hanya yang kepada kalimat pertama kita menyadari dengan sadar sekali bahwa diri kita  tidak punya apapun, fakir sefakir-fakirnya. Sebab kita harus paham bahwa hanya Allah yang memiliki hormat, berkat, bahagia dan kebaikan, semua hanya milik Allah. Keempat sifat ini adalah sifat daripada Realitas Wujud. Maka ikrar itu adalah kesadaran penuh bahwa diri pengikrar adalah tidak berhak sama sekali akan sifat-sifat Wujud, yang artinya pengikrar sama-sekali tidak menyandang wujud. Maka itu artinya pengikrar sama sekali tidak eksis, tidak ada, kecuali karena-Nya. Selanjutnya berikrar bahwa Allah yang Pemilik segalanya, Dia yang  EsensiNya adalah Wujud, memiliki gradasi sifat kepada Muhammad Cahaya. Yang kepada Muhammad itu pengikrar yang fakir mutlak juga menyaksikan, berikrar memiliki sifat Wujud Mutlak dengan mengucap Salam, sebagai kesaksian bahwa Muhammad juga adalah Wujud. Juga berikrar bahwa adalah mutlak bahwa Muhammad juga adalah wujud dengan bukti menyandang sifat Wujud Mutlak yakni Rahmat dan Barakah. Maka disaksikanlah oleh si fakir bahwa Muhammad Cahaya adalah gudang sifat dari Wajib Wujud. Maka sifat-sifat itu adalah gradasi dari dari Ghaibul Ghuyub.
    Ketika si fakir menyaksikan realitas tersebut dengan, akibat dia berikrar, maka diri si fakir juga disadarinya juga adalah mengandung sifat Wujud yakni Salam. Maka penyaksiannya itu dia ikrarkan juga, karena dia adalah fakir, yang tidak punya daya untuk menyembunyikan realitas yang ia saksikan kecuali dia ikrarkan. Maka dia berikrar dirinya juga adalah mengandung sifat Wujud yakni Salam yang itu berarti dia sendiri adalah bukan dirinya sebagai 'diri' tetapi sepenuhnya telah diisi oleh Wujud karena sifat yang ada pada dirinya adalah Dzat Wujud. Maka tentunya ia menjadi lenyap dan tiada dan yang ada hanya Wajibul Wujud. Demikian realitas (bukan gejala psikologis) yang ia saksikan pada dirinya dan demikian pula kejadian yang berlaku pada abdi Allah yang saleh seperti para nabi, aulia dan orang-orang yang yakin, yang berikrar dan mengikrar dan menyaksikan.
    Pengalaman si fakir dari dirinya sebagai ketiadaan, kegelapan total, menjadi wujud karena berikrar (semoga dapat) kita jadikan cara melihat wujud pada realitas eksternal yang melalui persepsi pikiran, menjadi beragam mahiyah. Maka sesiapa yang telah mengenal Wujud akan melihat Wujud melalui semua realitas mawjud. Sesiapa yang telah mengenal Wujud sadar bahwa realitas eksternal adalah kehadiran Wujud melalui cermin-Nya yang plural. Inilah tujuan kita belajar filsafat. Dan Allah telah menggambarkan ini pada Q.S. Al-Baqarah: 190-194.     
           Si fakir menjadi wujud adalah karena potensi, pengetahuannya dan amalannya. Lebih dari itu adalah karena dia membuang segala sifat buruknya, terutama sombong, sehingga dia lepas dari lumpur kelam dan gelap. Demikian dia melihat orang salih wujud karena sifat dan amalnya. Dia juga menemukan semua makhluk yang majemuk mendapat wujud adalah karena mereka semua berikrar akan kebesaran Allah dan kemuliaan Muhammad Cahaya. Kalau saja makhluk-makhluk berhenti berikrar melalui tasbih, syukur dan takbir serta berhenti bershalawat kepada Muhammad, maka wujud mereka sirna seketikan dan menjadi tiada. Inilah makna Hadits Qudsi: “Tanpamu, Hai Muhammad, tidak kuciptakan langit dan bumi.”
      Wujud adalah hal yang paling kaya karena dia memberi eksistensi kepada setiap mawjud. Dia menjadi sangat sederhana karena tidak dapat didefinisikan dengan cara apa dan bagaimanapun sebab definisi adalah limitasi, sementara wujud tidak terbatas. Pintu masuk definisi adalah 'apa', sementara sesuatu yang memiliki 'keapaan' bukanlah wujud. Maka setiap ingin mesdeskripsikan wujud selalu gagal. Wujud juga bukan genus dan bukan differensia. Karena itu dia tidak tunduk pada hukum kausalitas. Maka dia tidak mampu dijangkau nalar yang hanya bekerja secara hukum kausal. Pada realitas eksternal, wujud adalah hal yang paling jelas terlihat. Dia sangat kaya. Tetapi karena kita baru bisa dapat mengkonsepsi hal yang sangat jelas itu melalui empirik dan rasio, maka menjadilah wujud itu tersembunyi di balik sensasi dan nalar, di balik mahiyah. Sehingga pada ranah konsep, wujud terkesan menjadi entitas tambahan bagi mahiyah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar