Untuk belajar menulis sebuah jurnal
bereputasi kepada seseorang, tidak perlu menjadikan kualitas atau kuantitas
orang tersebut sebagai indikator. Sebab bisa saja dia tidak menghasilkan
jurnalnya itu karena alasan yang tidak kita ketahui.
Menulis jurnal untuk Studia Islamika (SI)
harus temanya tentang Islam Asia Tenggara. Karena bila tidak, sebagus apapun
artikel yang dimiliki tidak akan dimuat karena tidak sesuai dengan fokus
jurnal.
Menulis sebuah artikel harus memiliki
kajian literatur yang kaya dan mendalam sehingga dapat ditemukan gap atau ruang
kosong tema yang diangkat.
Niat menulis harus untuk memberikaan
kontribusi bagi diskursus keilmuan. Menulis tidak boleh karena niat mendapatkan
uang atau pangkat. Sebab bila itu ekspektasinya, pasti tulisan tidak akan bagus
karena tidak serius. Menulis harus karena berangkat dari keresahan ilmiah.
Tetapi bila targetnya mampu mencapai highest standard of scholarsip, yo monggo.
Bahkan pada banyak sisi ekspektasi itu bagus. Misalnya, kita mampu berbicara
tentang daerah sendiri dengan mengemasnya secara canggih, hingga dijadikan
bahan komparasi hasil penelitian yang dihasilkan oleh orientalis.
Sebenarnya kita punya data yang lebih valid
dan perspektif yang lebih akurat daripada orientalis. Tetapi kita kurang kajian
literatur, tidak menemukan metode yang tepat dan kurang mampu mengemasnya dalam sebuah tulisan
yang dramatis . Sebab itulah kajian orientalis menjadi lebih menarik sekalipun
datanya terbatas dan tafsirnya terkadang galat atas sebuah objek
penelitian.
Fokuslah pada tema yang membuat orang
terpaksa mensitasi kita. Misalnya, Sir. Azra. Karyanya Jaringan Ulama, membuat
orang tidak bisa tidak mengutip dirinya setiap menulis tentang ulama Nusantara.
Demikian juga Naquib Al-Attas. Tidak bisa tidak orang mengutip dirinya setiap
menulis atau menyinggung tentang Hamzah Fansuri dan Nuruddin Arraniri. Sebab
itu, kita harus menulis tentang tema yang kita kuasai, kita harus menulis
tentang spesifikasi bidang ilmu kita agar kita punya indentitas.
Makna identitas dalam hal ini adalah, kita
dikenal dengan satu fokus kepakaran tertentu. Dengan demikian setiap
menyinggung tentang satu disiplin ilmu tertentu, maka orang-orang langsung
teringat pada kita. Tetapi bila kita serba tahu, serba bisa, maka kita tidak
akan memiliki identitas.
Di atas semua itu, dengan menulis sesuai
kepakaran, maka kualitas artikel akan tinggi. Dengan itu, identitas, sitasi dan
kontribusi artikel kita akan optimal.
Fokus SI pada Islamic Studies (IS) di Asia
Tenggara (AT), berangkat dari keresaha cendikiawan Muslim Indonesia yang
mengetahui bahwa cendikiawan dunia sangat sedikit yang mengenal Indonesia.
Bahkan sebagian besar di antara mereka bahkan tidak mengetahui bahwa di
Indonesia banyak orang Islamnya. Mungkin mereka mengira Indonesia adalah negeri
yang didominasi umat Hindu. Kegagalan Barat mengetahui bahwa Indonesia adalah
negara yang memiliki populasi Muslim terbesar di dunia karena mereka memahami
Islam melalui simbol-simbol khas Timur-tengah. Bahkan mereka tidak mengetahui
bahwa Islam adalah agama yang terbuka untuk semua kebudayaan.
Studi Islam AT kurang menjadi perhatian
peneliti Islam. Islam AT dianggap sebagai Islam pinggiran, tidak penting, tidak
bermanfaat dan tidak menguntungkan dalam IS. Padahal Islam AT adalah sebuah
eksistensi yang sangat unik, multipel dan menjadi penjelas bahwa Islam adalah
agama yang terbuka. SI hadir untuk mengisi ruang kosong ini. Maka itu SI
berfokus pada IS di AT. SI ingin membuat Islam AT yang dilihat sebagai Islam
pinggiran menjadi sebuah genre IS yang diperhitungkan.
Islam di berbagai kawasan dikenal berbagai
cara, salah satu yang paling penting adalah kontribusi keilmuannya. Para
cendikiawan dan ulama besar umumnya lahir di Timur-Tengah dan sekitarnya.
Mereka dikenal dunia melalui karya-karya mereka. Yang disayangkan adalah, ulama
dan cendikiawan dari AT, khususnya Indonesia kurang dikenal. Padahal sebenarnya
banyak gagasan-gagasan ulama dan cendikiawan Indonesia, baik kontemporer maupun
klasuk, memiliki sumbangan penting dalam IS. Dengan itulah SI sangat
mengapresiasi artikel tentang eksplorasi atas buah pikir para ulama dan
cendikiawan AT, baik klasik maupun kontemporer.
Sebuah artikel berkualitas harus mampu
menawarkan sebuah sudut pandang yang memiliki kebaruan. Korpus pembahasannya
boleh lokal, tetapi harus mampu didramatisir, mampu menunjukkan pentingnya
korpus tersebut dalam tinjauan literatur yang kaya, eksplorasi mendalam.
Penulis harus mampu membuat korpus spesifik itu berdialog dengan
literatur-literatur yang banyak, dan mampu menyakinkan pembaca bahwa korpusnya
itu menjadi penting dalam IS.
Penulis harus mampu menawarkan sebuat
perspektif yang baru. Kualitas penulis ditunjukkan melalui kemampuannya
menunjukkan perspektif yang dihadirkan benar-benar baru, kaya literatur dan
memiliki argumentasi solid.
Data yang kaya sangat penting. Tetapi data
tersebut tidak akan berguna apabila tidak mampu dikemas dengan cara yang
menarik. Teori harus dipaksa bekerja, data harus berdialog dengan
literatur-literatur terkait. Penulis harus mampu menghindarkan dirinya agar
tidak terjebak dalam segmentasinya sendiri. Misalnya ketika menulis dilema
Kristen di perbatasan Negeri Syariat Aceh yang berfokus pada Aceh Tenggara,
penulis juga harus mampu memahami, memperbandingkan dan mengemas dengan adil.
Sehingga dia tidak mengklam secara general sesuatu yang spesifik. Penulis harus
mampu melihat dengan multi perspektif.
Research statement dalam sebuah tulisan
harus dapat dibuktikan urgensinya. Tulisan bukan untuk dibaca sendiri, masalah
di lapangan tidak hanya untuk dirasakan sendiri oleh penulis. Keresahan penulis
harus mampu diobjektifkan kepada pembaca.
Penulis harus mampu, dalam perspektif SI,
mengemas data penelitiannya untuk berdiskursus dalam dunia inteektual IS.
Sebuah artikel yang bagus tidak akan berguna ketika disubmit kepada jurnal yang
tidak releval. Sebab itulah, penulis harus mampu memahami gaya selingkung
jurnal yang disasar. Sebab itulah, sebelum mengirim artikel ke sebuah jurnal,
kita harus telah sering membaca banyak artikel dalam jurnal dituju.
Artikel berkualitas dinilai dari kebaruan
tema dan kontribusi apa yang dapat ditawarkan kepada dunia akademik atau
keilmuan dalam segmennya. Selanjutnya adalah pendekatan teori apa yang dipakai
dalam penelitian dan sejauh mana teori itu dikuasai, disiskursuskan dan mampu
bekerjasama dengan data.
Judul sebuah artikel yang bagus harus
singkat, padat, jelas dan langsung membuat pembacanya paham isi artikel.
Sehingga pembaca dapat berkata: "I catching" hanya dengan membaca
judulnya saja. Sebab itu, judul benar-benar
harus mampu mewakili isi artikel. Jangan sampai pembaca merasa tertipu oleh
judul setelah membaca keseluruhan artikel.
Judul harus mengarah pada esensi dan isi
artikel. Kalau meneliti tentang kenduri blang, jangan tulis 'tradisi masyarakat
Aceh' tapi tulis 'kenduri blang', kalau yang diteliti ada beberapa tradisi, itu
memungkinkan. Singkatnya, judul yang dipakai adalah genus terdekat-nya.
Artikel yang bagus, setidaknya yang
diminati S1, bukan hasil penelitian yang sangat spesitik namun yang didalami
adalah eksplorasi tema spesifik itu. Misalnya 'pengaruh dana BOS terhadap
pendidikan di SD 1 Peusangan'. Korpusnya boleh spesifik, tetapi harus
didiskusikan dengan diskursus umum dan didialogkan dengan banyak referensi. Misalnya 'Analisa dana BOS Madrasah dalam
Perspektif Politik Pendidikan Islam'.
Sebuah aertikel berkualitas itu mampu
mencairkan blok-blok atau sekat-sekat disiplin keilmuan. Penulisnya harus
memahami differensiasi bidang-bidang ilmu. Setiap segmen keilmuann yang
disinggung harus dipahami makna terminologi-terminologinya. Adalah hal
memalukan ketika terma yang disinggung tetapi dipahami galat atau tidak tahu
perkembangannya. Misalnya kita mengkritik atau mengapresiasi Struktutalisme
tetapi mengabaikan atau bahkan tidak mengetahui perkembangannya, tidak
mengetahui atau tidak meninjau kritik-
kritik yang telah banyak untuknya dan tidak
mengetahui Post-strukturalisme.
Differensiasi bidang-bidang ilmu dapat
dijadikan perspektif. Misalnya politik akan berbeda dengan sejarah politik.
Ragam perspektif dapat dibangun untuk mengetahui satu subjek dalam tinjauan
ragam keilmuan.
Korpus studi kasus harus berdialog dengan
ragam keilmuan dan ragam perspektif. Dengan itu akan ditemukan perbedaan dan
persamaan teoritis menurut ragam ranah disiplin keilmuan.
Mengkut gaya selingkung SI, artikel harus
tentang IS Islam AT. Sebab itu, artikel tidak hanya hasil penelitian lapangan,
tidak hanya studi literatusr, atau studi naskah, tetapi harus kontekstual dalam
diskursus Islam perspektif IS di AT. Tetapi bila studi naskah klasik misalnya,
tidak bisa dikontekstualisasikan, jangan dipaksakan. Tetapi identitasnya harus
IS Islam AT.
Abstrak dari artikel yang disukai SI adalah
langsung dimulai dengan tujuan penulisan, artikel membahas apa, cara mencapai
objektif pembahasan dan temuannya apa.
Terkadang artikel yang baik dituis dengan
sistem piramida terbalik. Mungkin setidaknya untuk badan latar belakang
artikel. Tetapi yang penting adalah memperdebatkan literatur-iteratur.
Dalam sebuah penelitian, penulis tidak
boleh terburu-buru menyimpulkan sesuatu dan tidak boleh mengklaim predikasi
sesuatu. Penulis harus benar-benar jeli dalam mengamati dan mengklasifikasi
datanya. Atas sebuah gejala, berbagai sudut harus diperhatikan. Karena hampir
tidak ada gejala sosial yang tidak melibatkan politik, ekonomi, latar belakang
pendidikan dan faktor-faktor lainnya.
Tetapi sebuah korpus, misalnya bersubjek
pada studi klasik, bila benar-benar tidak dapat dikontekstualisasikan. Dalam GS
SI, sebuah tema artikel, selama adalah AT dan IS, maka tetap memiliki peluang.
Seperti yang telah dikemukakan, korpus
diskursus boleh sederhana, tetapi harus melibatkan banyak sudut pandang.
Misalnya jika menulis tentang intoleransi umat beragama tentang pembangunan
rumah ibadah, maka perlu dianalisa toleransi dalam bentuk-bentuk lain.
Setelah mensitasi sebuah jurnal, bila
muncul banyak komentar dan kritik, berarti itu sangat bagus. Itu artinya
artikel kita dipertimbangkan.
Seperti telah dikemukakan, sebuah artikel
harus berangkat dari kegelisahan intelektual. Dan itu menjadi alasan bagi
penulis untuk mendiskusikan literatur-literatur yang ada.
Ssebenarnya fokus SI sangat menarik. Islam
AT adalah model Islam yang sangat unik. Tidak tampak simbol-simbol Islam
sebagaimana di Timur-Tengah pada Islam AT. Islam AT mampu berharmonisasi dengan
berbagai budaya lokal dan dengan berbagai konsep modernisasi. Misalnya, ketika
negara-negara di Timur-Tengah masih memperdebatkan harmonisasi Islam dengan
demokrasi, di Indonesia Islam dan demokrasi sudah berjalan sangat stabil dalam
rumah Pancasila.
Islam AT adalah islam warna-warni.
Sebagaimana dikatakan Cak Nun, hanya umat Islam Indonesia yang dapat menjadi
pendamai bagi Islam-Islam yang ada di muka bumi ini. Islam-Islam lain menganut
pakem identitas yang sangat tertutup. Konfik-konflik antar mereka terus-menerus
terjadi. Mereka sudah saling membenci sejak mereka mengenal Islam. Hanya Islam
Indonesia yang dapat mengharmoniskan mereka. Kita, dengan berbagai corak-ragam
suku, mazhab, aliran dan lain sebagainya dapat hidup berdampingan dan terus
harmonis. Mereka, terkadang dalam sebuah negara, atau bahkan beberapa negara,
suku dan rasnya sama, bahasanya sama, mazhabnya sama, alirannya sama tapi bisa
terus-menerus bertengkar. Ini adalah salah-satu dari keunikan Islam Indonesia.
Tetapi anehnya kita masih menjadi subjek yang kurang dilirik cendikiawan dunia
yang berfokus pada IS.
Dalam melakukan penelitian, kita tidak
boleh tertutup. Jangan khawatir orang lain akan mencontek atau mencuri ide atau
rencana kita. Berdiskusi itu sangat penting: dapat membuat kita semakin kaya
perspektif, memperoleh informasi tentang referensi-referensi yang dibutuhkan.
Baiknya setelah tulisan selesai, sebelum disitasi, meminta pembacaan dari teman
yang dapat dipercaaya. Karena itu dapat membuat kita dapat membuat artikel
menjadi semakin sempurna. Terkadang teman-teman juga memiliki informasi
destinasi jurnal mana yang layak artikel kita disubmit.
Banyak orientalis atau Indonesianis atau
Islamisis yang telah mengkaji tentang Indonesia atau Islam Indonesia tetapi
terkadang gagal memberikan analisa, sudut pandang atau interpretasi yang baik.
Untuk itulah kita selaku peneliti lokal harus mampu meluruskan pandangan-pandangan
mereka dengan mengajukan argumentasi yang solid, referesi yang kaya dan sudut
pandang yang unik, penyajian yang menarik. Kita harus mampu berdebat dengan
mereka pada level yang sama.
Jangan sampai tulisan kita para penelitu
lokal hanya dinilai sebagai kafilang mengeong, kucing berlalu.
:)
Langsa, 17 November 2017





Tidak ada komentar:
Posting Komentar