Sabtu, 18 November 2017

MENULIS JURNAL BEREPUTASI INTERNASIONAL: PENGALAMAN SHORT COURSE BERSAMA PPIM STUDIA ISLAMIKA


Untuk belajar menulis sebuah jurnal bereputasi kepada seseorang, tidak perlu menjadikan kualitas atau kuantitas orang tersebut sebagai indikator. Sebab bisa saja dia tidak menghasilkan jurnalnya itu karena alasan yang tidak kita ketahui.

Menulis jurnal untuk Studia Islamika (SI) harus temanya tentang Islam Asia Tenggara. Karena bila tidak, sebagus apapun artikel yang dimiliki tidak akan dimuat karena tidak sesuai dengan fokus jurnal.

Menulis sebuah artikel harus memiliki kajian literatur yang kaya dan mendalam sehingga dapat ditemukan gap atau ruang kosong tema yang diangkat.

Niat menulis harus untuk memberikaan kontribusi bagi diskursus keilmuan. Menulis tidak boleh karena niat mendapatkan uang atau pangkat. Sebab bila itu ekspektasinya, pasti tulisan tidak akan bagus karena tidak serius. Menulis harus karena berangkat dari keresahan ilmiah. Tetapi bila targetnya mampu mencapai highest standard of scholarsip, yo monggo. Bahkan pada banyak sisi ekspektasi itu bagus. Misalnya, kita mampu berbicara tentang daerah sendiri dengan mengemasnya secara canggih, hingga dijadikan bahan komparasi hasil penelitian yang dihasilkan oleh orientalis.


Sebenarnya kita punya data yang lebih valid dan perspektif yang lebih akurat daripada orientalis. Tetapi kita kurang kajian literatur, tidak menemukan metode yang tepat dan  kurang mampu mengemasnya dalam sebuah tulisan yang dramatis . Sebab itulah kajian orientalis menjadi lebih menarik sekalipun datanya terbatas dan tafsirnya terkadang galat atas sebuah objek penelitian.    

Fokuslah pada tema yang membuat orang terpaksa mensitasi kita. Misalnya, Sir. Azra. Karyanya Jaringan Ulama, membuat orang tidak bisa tidak mengutip dirinya setiap menulis tentang ulama Nusantara. Demikian juga Naquib Al-Attas. Tidak bisa tidak orang mengutip dirinya setiap menulis atau menyinggung tentang Hamzah Fansuri dan Nuruddin Arraniri. Sebab itu, kita harus menulis tentang tema yang kita kuasai, kita harus menulis tentang spesifikasi bidang ilmu kita agar kita punya indentitas.

Makna identitas dalam hal ini adalah, kita dikenal dengan satu fokus kepakaran tertentu. Dengan demikian setiap menyinggung tentang satu disiplin ilmu tertentu, maka orang-orang langsung teringat pada kita. Tetapi bila kita serba tahu, serba bisa, maka kita tidak akan memiliki identitas.


Di atas semua itu, dengan menulis sesuai kepakaran, maka kualitas artikel akan tinggi. Dengan itu, identitas, sitasi dan kontribusi artikel kita akan optimal.


Fokus SI pada Islamic Studies (IS) di Asia Tenggara (AT), berangkat dari keresaha cendikiawan Muslim Indonesia yang mengetahui bahwa cendikiawan dunia sangat sedikit yang mengenal Indonesia. Bahkan sebagian besar di antara mereka bahkan tidak mengetahui bahwa di Indonesia banyak orang Islamnya. Mungkin mereka mengira Indonesia adalah negeri yang didominasi umat Hindu. Kegagalan Barat mengetahui bahwa Indonesia adalah negara yang memiliki populasi Muslim terbesar di dunia karena mereka memahami Islam melalui simbol-simbol khas Timur-tengah. Bahkan mereka tidak mengetahui bahwa Islam adalah agama yang terbuka untuk semua kebudayaan.


Studi Islam AT kurang menjadi perhatian peneliti Islam. Islam AT dianggap sebagai Islam pinggiran, tidak penting, tidak bermanfaat dan tidak menguntungkan dalam IS. Padahal Islam AT adalah sebuah eksistensi yang sangat unik, multipel dan menjadi penjelas bahwa Islam adalah agama yang terbuka. SI hadir untuk mengisi ruang kosong ini. Maka itu SI berfokus pada IS di AT. SI ingin membuat Islam AT yang dilihat sebagai Islam pinggiran menjadi sebuah genre IS yang diperhitungkan.

Islam di berbagai kawasan dikenal berbagai cara, salah satu yang paling penting adalah kontribusi keilmuannya. Para cendikiawan dan ulama besar umumnya lahir di Timur-Tengah dan sekitarnya. Mereka dikenal dunia melalui karya-karya mereka. Yang disayangkan adalah, ulama dan cendikiawan dari AT, khususnya Indonesia kurang dikenal. Padahal sebenarnya banyak gagasan-gagasan ulama dan cendikiawan Indonesia, baik kontemporer maupun klasuk, memiliki sumbangan penting dalam IS. Dengan itulah SI sangat mengapresiasi artikel tentang eksplorasi atas buah pikir para ulama dan cendikiawan AT, baik klasik maupun kontemporer.

Sebuah artikel berkualitas harus mampu menawarkan sebuah sudut pandang yang memiliki kebaruan. Korpus pembahasannya boleh lokal, tetapi harus mampu didramatisir, mampu menunjukkan pentingnya korpus tersebut dalam tinjauan literatur yang kaya, eksplorasi mendalam. Penulis harus mampu membuat korpus spesifik itu berdialog dengan literatur-literatur yang banyak, dan mampu menyakinkan pembaca bahwa korpusnya itu menjadi penting dalam IS.

Penulis harus mampu menawarkan sebuat perspektif yang baru. Kualitas penulis ditunjukkan melalui kemampuannya menunjukkan perspektif yang dihadirkan benar-benar baru, kaya literatur dan memiliki argumentasi solid.

Data yang kaya sangat penting. Tetapi data tersebut tidak akan berguna apabila tidak mampu dikemas dengan cara yang menarik. Teori harus dipaksa bekerja, data harus berdialog dengan literatur-literatur terkait. Penulis harus mampu menghindarkan dirinya agar tidak terjebak dalam segmentasinya sendiri. Misalnya ketika menulis dilema Kristen di perbatasan Negeri Syariat Aceh yang berfokus pada Aceh Tenggara, penulis juga harus mampu memahami, memperbandingkan dan mengemas dengan adil. Sehingga dia tidak mengklam secara general sesuatu yang spesifik. Penulis harus mampu melihat dengan multi perspektif.   

Research statement dalam sebuah tulisan harus dapat dibuktikan urgensinya. Tulisan bukan untuk dibaca sendiri, masalah di lapangan tidak hanya untuk dirasakan sendiri oleh penulis. Keresahan penulis harus mampu diobjektifkan kepada pembaca.

Penulis harus mampu, dalam perspektif SI, mengemas data penelitiannya untuk berdiskursus dalam dunia inteektual IS. Sebuah artikel yang bagus tidak akan berguna ketika disubmit kepada jurnal yang tidak releval. Sebab itulah, penulis harus mampu memahami gaya selingkung jurnal yang disasar. Sebab itulah, sebelum mengirim artikel ke sebuah jurnal, kita harus telah sering membaca banyak artikel dalam jurnal dituju.

Artikel berkualitas dinilai dari kebaruan tema dan kontribusi apa yang dapat ditawarkan kepada dunia akademik atau keilmuan dalam segmennya. Selanjutnya adalah pendekatan teori apa yang dipakai dalam penelitian dan sejauh mana teori itu dikuasai, disiskursuskan dan mampu bekerjasama dengan data.

Judul sebuah artikel yang bagus harus singkat, padat, jelas dan langsung membuat pembacanya paham isi artikel. Sehingga pembaca dapat berkata: "I catching" hanya dengan membaca judulnya saja.  Sebab itu, judul benar-benar harus mampu mewakili isi artikel. Jangan sampai pembaca merasa tertipu oleh judul setelah membaca keseluruhan artikel.

Judul harus mengarah pada esensi dan isi artikel. Kalau meneliti tentang kenduri blang, jangan tulis 'tradisi masyarakat Aceh' tapi tulis 'kenduri blang', kalau yang diteliti ada beberapa tradisi, itu memungkinkan. Singkatnya, judul yang dipakai adalah genus terdekat-nya.

Artikel yang bagus, setidaknya yang diminati S1, bukan hasil penelitian yang sangat spesitik namun yang didalami adalah eksplorasi tema spesifik itu. Misalnya 'pengaruh dana BOS terhadap pendidikan di SD 1 Peusangan'. Korpusnya boleh spesifik, tetapi harus didiskusikan dengan diskursus umum dan didialogkan dengan banyak referensi.  Misalnya 'Analisa dana BOS Madrasah dalam Perspektif Politik Pendidikan Islam'.

Sebuah aertikel berkualitas itu mampu mencairkan blok-blok atau sekat-sekat disiplin keilmuan. Penulisnya harus memahami differensiasi bidang-bidang ilmu. Setiap segmen keilmuann yang disinggung harus dipahami makna terminologi-terminologinya. Adalah hal memalukan ketika terma yang disinggung tetapi dipahami galat atau tidak tahu perkembangannya. Misalnya kita mengkritik atau mengapresiasi Struktutalisme tetapi mengabaikan atau bahkan tidak mengetahui perkembangannya, tidak mengetahui atau tidak meninjau kritik-
kritik yang telah banyak untuknya dan tidak mengetahui Post-strukturalisme.


Differensiasi bidang-bidang ilmu dapat dijadikan perspektif. Misalnya politik akan berbeda dengan sejarah politik. Ragam perspektif dapat dibangun untuk mengetahui satu subjek dalam tinjauan ragam keilmuan.

Korpus studi kasus harus berdialog dengan ragam keilmuan dan ragam perspektif. Dengan itu akan ditemukan perbedaan dan persamaan teoritis menurut ragam ranah disiplin keilmuan.

Mengkut gaya selingkung SI, artikel harus tentang IS Islam AT. Sebab itu, artikel tidak hanya hasil penelitian lapangan, tidak hanya studi literatusr, atau studi naskah, tetapi harus kontekstual dalam diskursus Islam perspektif IS di AT. Tetapi bila studi naskah klasik misalnya, tidak bisa dikontekstualisasikan, jangan dipaksakan. Tetapi identitasnya harus IS Islam AT.

Abstrak dari artikel yang disukai SI adalah langsung dimulai dengan tujuan penulisan, artikel membahas apa, cara mencapai objektif pembahasan dan temuannya apa.

Terkadang artikel yang baik dituis dengan sistem piramida terbalik. Mungkin setidaknya untuk badan latar belakang artikel. Tetapi yang penting adalah memperdebatkan literatur-iteratur.

Dalam sebuah penelitian, penulis tidak boleh terburu-buru menyimpulkan sesuatu dan tidak boleh mengklaim predikasi sesuatu. Penulis harus benar-benar jeli dalam mengamati dan mengklasifikasi datanya. Atas sebuah gejala, berbagai sudut harus diperhatikan. Karena hampir tidak ada gejala sosial yang tidak melibatkan politik, ekonomi, latar belakang pendidikan dan faktor-faktor lainnya.  

Tetapi sebuah korpus, misalnya bersubjek pada studi klasik, bila benar-benar tidak dapat dikontekstualisasikan. Dalam GS SI, sebuah tema artikel, selama adalah AT dan IS, maka tetap memiliki peluang.

Seperti yang telah dikemukakan, korpus diskursus boleh sederhana, tetapi harus melibatkan banyak sudut pandang. Misalnya jika menulis tentang intoleransi umat beragama tentang pembangunan rumah ibadah, maka perlu dianalisa toleransi dalam bentuk-bentuk lain.


Setelah mensitasi sebuah jurnal, bila muncul banyak komentar dan kritik, berarti itu sangat bagus. Itu artinya artikel kita dipertimbangkan.

Seperti telah dikemukakan, sebuah artikel harus berangkat dari kegelisahan intelektual. Dan itu menjadi alasan bagi penulis untuk mendiskusikan literatur-literatur yang ada.

Ssebenarnya fokus SI sangat menarik. Islam AT adalah model Islam yang sangat unik. Tidak tampak simbol-simbol Islam sebagaimana di Timur-Tengah pada Islam AT. Islam AT mampu berharmonisasi dengan berbagai budaya lokal dan dengan berbagai konsep modernisasi. Misalnya, ketika negara-negara di Timur-Tengah masih memperdebatkan harmonisasi Islam dengan demokrasi, di Indonesia Islam dan demokrasi sudah berjalan sangat stabil dalam rumah Pancasila.

Islam AT adalah islam warna-warni. Sebagaimana dikatakan Cak Nun, hanya umat Islam Indonesia yang dapat menjadi pendamai bagi Islam-Islam yang ada di muka bumi ini. Islam-Islam lain menganut pakem identitas yang sangat tertutup. Konfik-konflik antar mereka terus-menerus terjadi. Mereka sudah saling membenci sejak mereka mengenal Islam. Hanya Islam Indonesia yang dapat mengharmoniskan mereka. Kita, dengan berbagai corak-ragam suku, mazhab, aliran dan lain sebagainya dapat hidup berdampingan dan terus harmonis. Mereka, terkadang dalam sebuah negara, atau bahkan beberapa negara, suku dan rasnya sama, bahasanya sama, mazhabnya sama, alirannya sama tapi bisa terus-menerus bertengkar. Ini adalah salah-satu dari keunikan Islam Indonesia. Tetapi anehnya kita masih menjadi subjek yang kurang dilirik cendikiawan dunia yang berfokus pada IS.


Dalam melakukan penelitian, kita tidak boleh tertutup. Jangan khawatir orang lain akan mencontek atau mencuri ide atau rencana kita. Berdiskusi itu sangat penting: dapat membuat kita semakin kaya perspektif, memperoleh informasi tentang referensi-referensi yang dibutuhkan. Baiknya setelah tulisan selesai, sebelum disitasi, meminta pembacaan dari teman yang dapat dipercaaya. Karena itu dapat membuat kita dapat membuat artikel menjadi semakin sempurna. Terkadang teman-teman juga memiliki informasi destinasi jurnal mana yang layak artikel kita disubmit.



Banyak orientalis atau Indonesianis atau Islamisis yang telah mengkaji tentang Indonesia atau Islam Indonesia tetapi terkadang gagal memberikan analisa, sudut pandang atau interpretasi yang baik. Untuk itulah kita selaku peneliti lokal harus mampu meluruskan pandangan-pandangan mereka dengan mengajukan argumentasi yang solid, referesi yang kaya dan sudut pandang yang unik, penyajian yang menarik. Kita harus mampu berdebat dengan mereka pada level yang sama.

Jangan sampai tulisan kita para penelitu lokal hanya dinilai sebagai kafilang mengeong, kucing berlalu.

:)


Langsa, 17 November 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar