Kita terus menerus mengharapkan berpikir rasional agar dapat bertindak benar.
Tetapi sesekali mengharapkan terjadinya keajaiban. Kita memang sering gagal
fokus.
Ketika malam sudah larut dan perut terasa lapar, kita
berharap Tuhan menghilangkan rasa itu serta menghilangkan efek dari perut lapar
dalam jangka waktu lama, hingga pagi warung pada buka.
Ketika akan pulang menjelang larut malam, kita turut rasa
malas sehingga tidak singgah di warung membeli sebungkus nasi atau sepotong
roti. Kemalasan itu tidak serta-merta dapat disalahkan. Karena saat akan pulang
badan sudah sangat lelah dan rasa ngantuk benar-benar telah menyerang. Sehingga
yang terpikirkan adalah segera berada di atas ranjang.
Zina tidak dilarang,
yang dilarang adalah mendekatinya.
Karena kalau sudah mendekatinya, tidak ada kejadian lain kecuali berzina. Kalau
sudah dekat dengan zina, nalar sudah tidak bisa bekerja lagi. Instruksi, baik
perintah maupun larangan, hanya berlaku bagi yang masih dapat bernalar dengan
baik, bagi yang akalnya masih sehat. Tuhan tidak melarang orang berzina, karena
orang yang akan berzina itu pasti sudah telah dekat dengan zina. Orang yang
telah dekat dengan zina, akalnya sudah tidak sehat lagi. Tuhan tidak
memberlakukan aturan bagi orang yang akalnya tidak lagi sehat.
Nasi atau roti harus dipersiapkan sebelum lelah menerjang
dan kantuk menyerang. Karena setelah lelah datang dan kantuk tiba, akal sudak
tidak dapat bekerja lagi dengan baik.
''When in love no body
is smart'' kata pepatah. ''Cinta tak ada logika.'' Makanya logika harus
telah beroprerasi dalam aktualisasi tindakan sebelum cinta datang. Pribadi yang
baik diukur sebelum dia jatuh cinta. Maka itu orang tua berpesan agar mengamati
latar belakang calon. Karena memberinya predikasi lebih tepat sebelum dia jatuh
cinta pada kita.
''Perhatikan bibit, bebet, bobot, babat,'' kata nenek pada
cucu yang sedang meneliti pendapat nenek tentang sosok yang akan dinikahinya.
Bibit artinya dia anak siapa dan berasal dari lingkungan
keluarga bagaimana. Biasanya buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Memang benar
tidak ada dosa turunan, tetapi biasanya, anaknya maling, karena mengikut
perubahan zaman, akan menjadi koruptor.
Bebet artinya dia memperoleh rezeki bagaimana. ''Kamu adalah
apa yang kamu makan,'' kata pepatah. Bila penghasilannya halal dan thayyiban,
maka tentu dia ringan beribadah. Rezeki didapat halal tapi tidak tayyiban, dia
akan kerap dengan syubhat. Bila penghasilannya bukan berasal dari yang halal,
maka itu akan membuat perilaku seperti hewan sehingga perlu masuk neraka dulu
agar kembali menjadi manusia. Tidak ada manusia yang masuk neraka. Karena
definisi manusia adalah ''hewan yang berpikir'', kalau berpikir benar dan
mengamalkan dalam tindakan, mustahil masuk neraka.
Bobot artinya ilmu dan adab. Ilmu itu dapat dianalogikan
dengan pernyataan dan adab itu dapat dianalogkan dengan kesimpulan. Bisa jadi
sebuah pernyataan salah namun menghasilkan kesimpulan yang benar. Dan ini
berarti kesimpulan itu bukan berasal dari pernyataan, tetapi kebetulan.
Belakangan banyak orang yang murah senyum, suka menegur dan rajin menolong.
Tetapi itu semua dilakukan karena bawah sadarnya memahami bahwa dirinya salah,
dan senyumnya ini sebenarnya adalah
cengengesan. Seperti senyum mantan pejabat
yang telah memakai baju oranye di hadapan wartawan yang sedang digiring
ke pengadilan. Belakangan banyak orang yang suka menegur karena takut dipecat
atau agar cepat-cepat dinaikkan pangkat. Dan belakangan banyak orang yang rajin
menolong hanya karena takut ditodong. Tipikal-tipikal seperti ini analog dengan
kesimpulan yang benar, tetapi bukan berasal dari pernyatan yang tepat.
Seharusnya, ''Adab di atas ilmu,'' dimaknai dengan: adab hanya tegak dengan
fondasi ilmu. Karena itu analog dengan kesimpulan yang benar yang muncul dari
landasan pernyataan yang benar. Adab harus muncul dari ilmu yang benar, bukan
dari perkara-perkara pragmatik yang semu.
Babat adalah keelokan rupa. ''Raga yang baik adalah
aktualitas jiwa yang baik,'' kata ahli medis. Karena bila demikian, keelokannya
tak akan pudar selama jiwanya terus bergerak menuju lebih baik. Jiwa yang baik
adalah jiwa yang terus diasupi dengan pengetahuan yang benar dan amalan yang
baik. Makanan yang baik bagi raga dikenali dengan penginderaan. Karena
pengetahuan itu immaterial, maka untuk mengenali pengetahuan yang benar
membutuhkan filsafat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar